*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#041: Mengabdi Pada Masyarakat


Senin, 22 September 2003;
Orangnya masih muda. Usianya baru 34 tahun. Penampilannya funky habis. Rambutnya dibiarkan gondrong menutupi bahunya yang kurus agak membungkuk. Kacamata minus selalu setia menemaninya ke mana ia pergi. Bila bepergian, ia suka memakai celana jeans. Setahun yang lalu, ia telah menjadi seorang haji. Padahal, konon, semasa SMA-nya, dia dulu mantan berandalan di kampungnya, dan cukup dikenal di beberapa kawasan di Surabaya. Namanya, Sukidi. Aku sering memanggilnya, Cak Kidi.

Kukatakan ia masih muda, karena bila melihat kiprahnya yang begitu luas di masyarakat, aku seakan tidak percaya, bahwa usianya memang masih 30-an. Padahal, hampir seluruh waktunya ia persembahkan buat kepentingan masyarakat. Dengan melibatkan warga kampung, ia bikin acara khataman Qur’an setiap bulannya. Membuat acara istighotsah tiap mingguan, dan menjadi pengurus sebuah organisasi anak muda di kotanya. Hari-harinya penuh dengan kesibukan. Di samping mengurusi bisnisnya, dia juga menyempatkan berkiprah secara aktif di masyarakat, yang terkadang ia sendiri lupa akan kepentingan diri dan keluarganya.

Bila ada kegiatan-kegiatan di kampung, mulai dari acara pengajian, rehabilitasi masjid dan tempat sosial, kampanye pilkades, hingga urusan rapat mendirikan sekolah sepakbola (SSB) pun, Cak Kidi pasti diundang. Sehingga sangat pantas, berkat kegigihannya dalam mengabdi di masyarakat itu, ia kini telah menjadi kiblat (tokoh panutan) bagi anak-anak muda di sekitarnya. Dengan umurnya yang masih muda itu, Cak Kidi tak menyadari bahwa dirinya telah menjadi tokoh masyarakat. Tanpa sadar, telah memposisikan dirinya menjadi tumpuan dan harapan warga masyarakat.

#
Senin malam itu, mobil panther Cak Kidi telah membawaku menuju sebuah pesantren putri di daerah Rembung, Sidoarjo. Seharian itu, aku memang sengaja mengosongkan waktu untuk menemaninya. Melihat lebih dekat kesibukan dari sosok muda yang kini telah menjadi ayah dari 3 orang anak itu. Menyusuri setiap sudut kota Pahlawan. Dari Menanggal, kawasan Rungkut, hingga jalanan di pinggir Kali Mas, menuju warung khusus hidangan kambing ala Arab, “Madinah” di kawasan Ampel. Sorenya, ke Tretes, Prigen, lalu menyusuri kota Sidoarjo di malam harinya.

Malam itu aku menemani Cak Kidi untuk mengantarkan anaknya yang baru kelas 4 MI, untuk dititipkan mondok di pesantren milik Nyai Siti Aisyah, sosok perempuan yang sangat dihormati di lingkungan para kiai. Seorang perempuan yang dikarunia ilmu laduni, menjadi ahli pidato sejak usianya belum 10 tahun tanpa proses belajar apapun.

Aku sudah tidak ingat lagi, jalan apa dan berapa kilometer yang kulewati untuk menuju pesantren Nyai Aisyah. Yang jelas, jalannya penuh berliku. Berkelok-kelok, melewati jalan beraspal di tengah-tengah sawah, dengan rel kereta lori pengangkut tebu di kiri atau kanan jalan, dan kadang melintangi jalan. Setelah perjalanan hampir 15 menit dari stadion Delta, Sidoarjo, maka sampailah di pesantren Bu Nyai.

Pesantren itu sederhana. Berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di daerah sekitar Porong, Sidoarjo. Terletak di sebuah desa yang terlihat asri, nyaman, bersih dan teratur. Kampung dengan deretan rumah-rumah yang masih berhalaman luas, seperti halnya rumahku. Pohon pisang, jambu dan mangga yang paling dominan menghijaukan pekarangan.

Bila ingat pondok Nyai Aisyah itu, lamunanku kemudian menerawang jauh kedepan. Alangkah indahnya mengisi hidup ini dengan hidup berada di tengah masyarakat desa, dengan memiliki pesantren khusus untuk anak-anak, tempat anak-anak belajar agama untuk menjadi bekal hidup mereka kelak dalam mengarungi hidup yang lebih serba materialistik ini. Mengajari mereka mengaji, baca Qur’an, membuat teduh suasana kampung dengan lantunan ayat suci yang mereka bacakan setiap saat.

Alangkah indahnya, di tengah suasana kampung nan damai, mendirikan sebuah yayasan yang menaungi kaum fakir-miskin papah. Yang bergerak di bidang sosial; tempat berbagi rasa dan asa, mencegah terjadinya kekufuran, menciptakan generasi yang mandiri.

Alangkah indahnya, mendirikan sebuah klub bola voli, tempat mengumpulkan dan membina generasi muda untuk aktif di bidang olahraga, berguna serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Membuat turnamen bergengsi, dengan mengundang tim dari kecamatan/kabupaten lain se-propinsi. Tentu ramai. Tentu membanggakan dan menjadi tontonan menarik warga kampung.

Alangkah dan alangkah…..
Ah, aku tak mau mengikuti lamunan. Tapi bukankah inti dari mengarungi hidup ini adalah pengabdian?
Wallaahu’alam bi ash showab

Griya Made Karyo XVIII-Lamongan, 26 Sep ’03
© Gus John

Iklan

Oktober 16, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#040: Melihat Bulan Malam Ini


Padepokan Tebet, 10-09-03, 00:34
Malam ini, penanggalan Hijriah menunjukkan ini malam 13 Rajab 1424 H. Penanggalan Jawa menyebutkan ini malam 13 Rejeb 1936 BE. Versi Keraton Ngayogyakarta menurut hitung-hitungan Pranata Mangsa menyebutkan malam ini masih berada dalam rangkaian bulan “Mongso Katelu Wiji Tuwuh Sinimpen“. Entahlah, apa arti maknanya. Tapi aku sangat yakin itu memiliki makna yang dulu sangat diyakini dan dipercaya oleh para leluhur.

Di atas sana, bulan memancarkan sinarnya dengan terang, menerangi bumi. Ia tersenyum tepat di atas kepalaku. Menyapaku di balik ranting pohon cemara, di taman padepokan. Langit cerah, hampir tak berawan. Beberapa bintang dengan malu-malu memperlihatkan cahayanya. Mungkin mereka kurang percaya diri, karena sang bulan malam ini begitu perkasa, menyinari segala permukaan bumi dengan cahayanya. Hanya satu bintang yang lebih terang yang selalu setia menemani sang putri malam, dari terbit hingga tenggelam.

Melihat bulan malam ini, aku jadi teringat sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah ra, ketika Nabi melihat bulan dan para sahabat duduk di dekat beliau, “Ketahuilah! Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu kelak seperti melihat bulan purnama ini, tanpa ada yang menghalangi untuk melihatnya. Karena itu……….”. (Sahih Muslim I-IV, Syekh H. Abdul Syukur Rahimy, Widjaya, 1996, hal. 310).

Melihat bulan malam ini, aku seperti merasakan, bahwa dua harta yang sangat berharga bagiku adalah, merasa dekat dengan Tuhanku, dan mendapatkan karunia untuk selalu bisa mengaktualisasikan segala interpretasi dari segenap(panca) indera yang kumiliki dalam bentuk sebuah tulisan.

Melihat bulan malam ini, aku seperti baru terbebas dari tugas yang maha berat, setelah dua hari merasakan penatnya otak harus ikut memikirkan bagaimana menyelamatkan nasib puluhan juta umat dari malapetaka perpecahan. Aku tak bisa mengelak, karena ini adalah tugas dan panggilan sejarah. Bila kuumpamakan sejarah itu bagaikan mobil yang melaju, aku merasa berada di dalamnya –walaupun bukan sebagai pengendara dan penumpangnya, tapi aku adalah bagian dari kendaraan itu. Karena sesungguhnya, ia (sejarah) akan terus bergerak dan berproses mencari waktunya.

Melihat terangnya sinar bulan, hamparan langit yang cerah tanpa semilir angin, di sepertiga malam ini, sepertinya aku tak bisa berlama-lama memarkirkan kaki dan jiwaku di sini, di bumi padepokan. Ingin rasanya kubawa jiwaku ini pergi, ke tengah lautan lepas. Melepaskan segala rinduku padaTuhanku. Menikmati segala keagungan-Nya. Bersatu dengan-Nya seperti layaknya Syekh Wali Abu Yazid al-Busthami, Husain ibn Manshur al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar.

Ingin rasanya kubiarkan diri ini terombang-ambing di atas gelombang di tengah Laut Jawa. Lalu kusandarkan ragaku di geladak kapal perang dengan simbol kupu tarung yang besar dan kelihatan megah; simbol kemegahan armada laut Kerajaan Demak di bawah panji kebesaran Pati Unus (1517 M). Masa di mana kita sebagai bangsa masih punya harga diri, berjaya di tengah lautan, disegani oleh dunia mancanegara, ditakuti oleh bangsa-bangsa di Utara, dan dengan begitu berani melakukan perlawanan terhadap ekspansi bangsa penjajah.

Ingin rasanya diriku bercengkerama dengan Pangeran Jawa yang gagah perkasa itu, tentang makna sejatinya hidup. Tentang arti kedaulatan dan kemerdekaan bumi Nusantara. Tentang wawasan kebangsaan dan kenegaraan. Tentang riwayat dan sejarah raja-raja Jawa. Tentang kisah dan kidung cinta para raja.

Tentang…..

Ah, tapi itu semua tak mungkin, karena kaki dan ragaku masih terpaut di bumi padepokan ini. Lagipula diriku pun masih hina, dan kumerasa tidak ada artinya sama sekali di depan-Nya. Dan, lamunan ini hanya menyebabkanku kelelahan. Aku pun benar-benar lelah, maka tertidurlah…

© Gus John

Oktober 16, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#039: Kidung Cinta Para Raja

Padepokan Tebet, Malam Jum’at, 29-08-2003.
Alunan gamelan kidung cinta para raja kembali hanyut terdengar. Mengiang-ngiang di telinga, menggelayuti pendengaranku. Ia sepertinya dekat. Sangat dekat. Seolah-olah ia mengepung padepokan. Ia selalu muncul ketika nurani tidak bisa diajak kompromi. Ketika pilihan dipertentangkan.

Kubayangkan Damarwulan, Joko Tingkir, Ki Ageng Mangir, dan para raja yang lain dengan segala kebesarannya, melakoni fragmen hidup mereka yang dinamakan cinta; sebuah cerita legenda yang menyiratkan hubungan kasih suci nan agung. Yang kadang diselingi dengan perjuangan, ujian dan cobaan yang sangat berat.

Kurebahkan badanku di balai bambu di teras padepokan. Malam ini tidak seperti biasa. Di saat isu munculnya bulan kembar, tapi aku tak tertarik sama sekali dengan gembar-gembor media massa itu. Aku lebih menyukai membiarkan terjadinya pergulatan pikiran, batin, dan nurani dalam diri ini. Kubiarkan mereka berdebat secara demokratis, tuk menentukan setiap langkah demi langkah yang akan kutempuh. Kubiarkan kidung cinta para raja menguasai diriku, ditemani semilir angin yang menerpa bumi padepokan. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Sastra | , | Tinggalkan komentar

#038: Bila Masyarakat Awam Memaknai Kemerdekaan

Jam di hp-ku menunjukkan pukul 00:15. Pentas dangdut itu belum juga usai. Dua biduanita di atas panggung masih meliuk-liukkan tubuhnya yang terbalut baju ketat, khas penyanyi dangdut, menggoda setiap lelaki untuk berjoget di atas panggung. Dua biduanita lainnya duduk di pinggir, menunggu giliran tampil. Dengan diiringi musik organ tunggal dari Buncit Delapan, biduanita itu berjoget ditemani beberapa penonton yang sengaja memberi ‘sawer’.

Keringat mengucur membasahi wajah mereka. Dengan handuk yang sengaja dikalungkan di leher, mereka seka keringat. Di malam yang kelam itu, mereka menyanyikan lagu “Noda dan Dosa”, sambil berjoget, bergerombol di atas panggung. Keberisikan di tengah malam, di tempat terbuka, yang menjadi “halal” (dimahfumkan) di kehidupan sosial masyarakat. Ya, karena acara itupentas 17-an.

Tiga meter di depan panggung, kursi-kursi sengaja disibakkan. Dipinggirkan, untuk tempat berjoget bagi penonton. Sementara penonton yang lainnya, menikmati alunan musik khas Melayu itu dari kursi pertunjukan, di bawah tenda yang sudah disiapkan sejak pagi. Sebagian penonton yang lain, duduk di bangku-bangku. Ada juga yang duduk di ‘dak’ rumah warga. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar

#037: Dari Kuningan hingga Tebet: Dari Turnamen Futsal hingga Rapat Perseroan Terbatas “Wikusama”

Padepokan Tebet, 18-08-03 di pagi hari.
Tatkala tetesan-tetesan embun telah melekat di dedaunan. Seperti biasa. Sekawanan suara burung membangunkanku pagi ini. Mereka bercanda sambil bersiul, dari satu ranting ke ranting pohon yang lain. Di antara sekawanan burung itu, ada satu burung yang suaranya cukup jelas kukenal. Suaranya berbeda dengan yang lain. Sangat jelas berbeda. Entah apa nama burung itu?!

Kuantarkan AW (Agus Widjaya/1C) pulang, sampai di pintu gerbang padepokan. Semalam, dia menginap di sini, setelah aku dan Wanus bertemu secara tidak sengaja dengannya di toko buku Gramedia di Hero Gatsu. Ia pun kemudian mampir dan menginap di padepokan. Kita ngobrol banyak hal hingga larut malam, ditemani kacang rebus, mie rebus, nescafe, dan Kabelvision.

Sepagi ini, Mbak Yati, istri penjaga padepokan sedang menyapu di taman. Ia bersihkan rerumputan dari kotoran dedaunan kering yang rontok. Daun mangga dan daun cemara, serta buah mengkudu yang jadi sampah di atas hamparan taman itu. Semua ia bersihkan. Kemudian ia guyur dengan air. Rerumputan itu menjadi tampak segar, layaknya menyambut mentari yang sebentar lagi kan menyapa bumi. Memberi warna pada semua permukaan. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Alumni | , , | Tinggalkan komentar

#036: Film dan Peran Pemerintah*

Aktris senior, Christine Hakim, pernah mengeluhkan atas minimnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan dunia perfilman nasional, sehingga berjalan stagnan dan tidak bisa berkembang. Padahal, menurut aktris yang pernah dipilih sebagai juri di festival film internasional Channes itu, film merupakan media yang paling efektif untuk menyampaikan informasi tentang situasi dan kondisi suatu negara. Terutama soal sosialisasi budaya dari sebuah bangsa.

Memang benar. Dengan film, kultur dan sikap bangsa kita bisa dikenal oleh mancanegara. Kita lihat saja bagaimana Amerika dengan pandainya memanfaatkan film sebagai alat hegemoni dan propaganda untuk menguasai dunia. Mereka bisa bikin film-film sejarah yang sarat dengan kepalsuan untuk kepentingan mereka sendiri. Seperti: berbagai macam dan ragam film tentang perang Vietnam, film tentang teroris dsb, yang tak ubahnya seperti sebuah”pesanan” dari Pentagon. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , | Tinggalkan komentar