*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#026: Komersialisasi Maksiat

Dengan nada setengah bercanda, seorang tetangga kos penulis di Mampang bilang, “Dasar orang Jawa! Ke Jakarta hanya bawa maksiat saja,” ketika menyaksikan goyangan penyanyi dangdut, Inul Daratista di televisi beberapa bulan yang lalu.

Publik pun demikian, terjebak pada polemik Inul. Pro-kontra muncul. Runyamnya, setiap persoalan yang muncul di masyarakat akhir-akhir ini, selalu melahirkan dua kutub yang saling berhadapan (atau sengaja dihadapkan?); menjadi persoalan muslim atau non-muslim.

Pihak yang menolak aksi goyangan Inul, masuk dalam satu kutub yang bernama kelompok yang menyebut dirinya “Islami”, sementara kutub yang lain, yang proInul disebut sebagai “tidak Islami”. Begitupun dalam kasus pengesahan RUU Sisdiknas. Yang pro diklaim sebagai “membela Islam”, dan yang kontra dianggap sebagai representasi “non-Islam”.

Dari kacamata kehidupan berdemokrasi, polemik semacam itu adalah hal yang wajar. Tapi bila dilihat dari sisi integritas RI sebagai Negara Kesatuan,tentu itu sangat mengkhawatirkan. Artinya, semangat toleransi, menjaga sikap pluralisme, kesadaran sebagai bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, lambat-laun mulai perlu dicemaskan. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar

#011: Inul

Sebenarnya, saya sedang asyik mempelajari teks-teks sejarah Nusantara klasik. Khususnya sejarah Jawa (History of Java, meminjam istilahnyaThomas Stamford Raffles). Tapi, fenomena munculnya Inul di media massa akhir-akhir ini benar-benar cukup mengganggu pikiran dan nalar, membuat saya tidak bisa diam untuk ikut memberikan komentar soalnya.

Barangkali, coretan saya ini sungguh tak terstruktur. Maklum, karena bicara soal Inul; orang yang sekarang menjadi “besar” dengan latar belakang yang sangat tidak “terstruktur” pula. Tapi, ketidakstrukturan ini, hanya semata ingin melihat, mengamati fenomena Inul secara lebih komperehensif, dari berbagai sisi, biar lebih adil.

***
Inul. Siapa sekarang yang tidak kenal dengan penyanyi dangdut dengan julukan si “goyang ngebor” itu. Bahkan, Mr. President, Taufik Kiemas pun tidak mampu menahan syahwatnya untuk memeluknya di sebuah acara di TV-7.

Bila goyangan Inul menggoncangkan “etika sopan santun” masyarakat Jakarta baru saat ini, di kampung-kampung, khususnya di Jawa Timur, justru sudah sejak setahun yang lalu VCD-Inul telah beredar. Mulai dari kakek-kakek yang mengalami puber kedua, orang-orang setengah baya yang istrinya sudah memberikannya selusin anak, hingga anak-anak kecil belum cukup umur, mereka sudah familiar dengan Inul. Maklum, Inul adalah simbol hiburan masyarakat lapisan bawah. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Religi, Seni & Budaya | , | Tinggalkan komentar