*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#108: Konflik (Politik) Ulama

Menurut (almarhum) KH Ali Ma’shum, “jati diri” NU sesungguhnya terletak pada kepemimpinan ulama. Sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, NU merupakan pengejawantahan dari ide para ulama. Di NU, ulama tidak hanya sekedar dijadikan sebagai simbol, tapi mereka juga memiliki posisi dan tanggung jawab yang tertinggi. Segala keputusan yang dikeluarkan NU, menjadi tanggung jawab dan berada di pundak mereka. Mereka pula yang berkewajiban menuntun umat menuju kebahagian di dunia dan akherat. Karena sangat dominannya posisi ulama, maka kepribadian NU sejak berdirinya (1926) hingga sekarang masih tetap utuh, tidak terpengaruh oleh perubahan situasi dan tidak tumbang oleh kemajuan zaman.

Karenanya, sungguh sangat ironis dan menjadi persoalan yang serius, bila ulama yang memiliki posisi utama dan seharusnya menjadi tokoh panutan masyarakat tersebut, kemudian mengalami konflik di antara sesama mereka sendiri. Baca lebih lanjut

Iklan

Mei 28, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , , | 1 Komentar

#077: Perjalanan Spiritual (1)

Padepokan Tebet, di suatu malam Jum’at. Langit di atas bumi Padepokan dipenuhi awan pekat. Beberapa hari belakangan ini, badai memang mengguncang di beberapa wilayah Nusantara. Banjir, tanah longsor, hujan deras tiada henti, angin puting-beliung, pepohonan tumbang, membuat panik dan hiruk-pikuk warga. Terutama yang tinggal di daerah pesisir.

Kulihat langit dari tengah taman padepokan, di bawah pohon cemara yang menjulang tinggi. “Malam ini, hujan mungkin akan turun dengan derasnya,” gumamku. Segera aku masuk ke dalam kamar. Kututup pintu. Kuletakkan buku yang tadi kubaca, kubiarkan menumpuk berserakan di sebelah tv, lalu kumatikan lampu. Hanya tv channel ESPN yang menemani.

Di antara titik kritis kesadaran. Wussss, gurden biru yang menutupi kaca di sebelah utara kamar tiba-tiba tersingkap. Sosok laki-laki berjubah putih muncul dari balik gurden itu. Ia berdiri tegak. Mematung, memandangiku dengan diam di pojok kamar sebelah barat, dekat tv yang telah mati. Jubah putih itu terlihat sangat terang di balik kegelapan yang menyelimuti kamar, tapi wajah laki-laki itu samar-samar masih bisa kulihat dan kukenali. Baca lebih lanjut

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 1 Komentar

#069: Ma’afkan Saya, Kiai

Tempuran-Magelang, akhir tahun 2003;

“Telur-telur ulet-ulet.
Kepompong kupu-kupu
Kasihan deh lu….
Kasihan deh lu….”

Suara nyanyian nenek membangunkan Orlin di pagi hari itu. Kuterbangun. Kesiangan! Jam 6:30. Mungkin, aku ini tamu yang pemalas. Tuan rumah sudah bersih-bersih rumah, sementara aku masih tertidur dengan pulasnya. Tapi entahlah, kalau di rumah orang lain, mungkin tidak begitu. Mungkin, aku sudah menganggap Tempuran sebagai rumah kedua.

“Tidur jam berapa, mas Agus?” tanya nenek Orlin sekeluar aku cuci muka dari kamar mandi.

“Jam tiga, bu”, jawabku dengan penuh taqdim. Aku memang selalu ‘segan’ dengan wanita lembut yang sudah mulai tua itu. Selama ini, nenek Orlin sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.
Ada kesejukan, kesabaran, jiwa yang ngemong, nilai-nilai spiritual yang tinggi, ketenangan yang dalam, yang saya temukan dalam diri nenek Orlin. Dan, penghormatanku pada seseorang, tak pernah bisa kubuat-buat ataupun kurekayasa. Ketemu kiai-penyair kondang, Gus Mus (KH. A.Mustofa Bisri) pun, aku pernah tak bisa mencium tangannya. Karena waktu itu diriku tidak ikhlas melakukannya.

“Oh, pantesan, kalau tidur sering malam, nggih?” tanya nenek Orlin.

“Inggih.” Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Religi | , , | Tinggalkan komentar