*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#127: Pramoedya dari Dekat (Res:)

pram_14Judul   : Pramoedya Ananta Tour dari Dekat Sekali
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Tahun  : Cetakan I, Juli 2006
Penerbit : Gramedia
Hal : xiv+ 266 halaman

Jika anda seorang Pramoedya(n)* sejati, buku ini sepertinya wajib untuk dimiliki. Buku yang lebih tepatnya seperti “catatan harian tentang Pram” ini dipotret oleh orang yang paling dekat dengannya; yakni  Koesalah Soebagyo Toer, adiknya yang nomor-5.

Koes memotret sisi-sisi dari sosok seorang Pramoedya Ananta Tour yang tidak diketahui oleh publik. Buku ini seperti “curhat”-nya Pram. Koes sendiri mengatakan dirinya merasa seperti “keranjang sampah” untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat, atau tidak pantas dikemukakan (oleh Pram) kepada orang lain.

Dalam buku mungil ukuran 13cm x 19cm ini, Koes membagi tiga periode dalam mengupas sisi lain kakaknya;  Periode pertama dari tahun 1981-1986. Periode ke-2 (1987-1992), dan periode ke-3 (1992-2006).

Periode-1  secara garis besar, Koes menceritakan sosok Pram dalam keseharian dan masalah keluarganya.  Pram yang terus didera sakit sejak sering ditahan, kakinya yang ketarik ketika loncat sewaktu mau naik bus, hingga marah-marah karena royalti bukunya belum dikirim. Dalam kesehariannya, Pram yang pernah ikut pamannya juga merasakan tugas-tugas berat: ngepel, nyuci, nyeterika dan belanja.

Diceritakan juga masalah keluarga yang mendera Pram, mulai dari keinginannya untuk segera mensertifikatkan tanah leluhurnya yang diserobot pemerintah Blora. Menikahkan anak perempuannya yang membuatnya pusing -Koes mencatatnya dalam 5 judul- hingga forum silaturahmi lebaran antar saudara. Baca lebih lanjut

Iklan

Februari 19, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sastra | , , | 3 Komentar

#090: Cinta dan Menikah Itu…

Cinta dan menikah itu, bukanlah pemanis di mulut dan bibir saja, tapi cinta dan menikah itu harus ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan yang nyata.

Cinta dan menikah bukan hanya mengandalkan perasaan belaka, tapi perlu kejernihan otak untuk bisa saling mengerti dan memahaminya.

Cinta dan menikah tidak cukup hanya bermodalkan materi belaka; hidup di apartemen mewah, punya rumah megah, berfoya-foya dengan harta yang melimpah. Tapi ia membutuhkan kenyamanan dalam merasakan dan memaknainya.

#
Cinta dan menikah, bukanlah hanya diisi dengan diam-seribu bahasa, tapi perlu saling komunikasi di antara pelakunya; karena ia adalah simbol kedinamisan hidup, bukan seperti mayat tak bernyawa.
Cinta adalah bicara, bukan gagu dan membisu. Baca lebih lanjut

Desember 4, 2006 Posted by | Sastra | Tinggalkan komentar

#074: Angan Seorang Buruh Kecil

Masyarakat di sekitar lingkungan Chekov dibesarkan mengatakan, Chekov adalah seorang pemuda yang cemerlang. Sejak kecil ia sudah menunjukkan kenakalan yang luar biasa. Setiap hari hampir tidak ada anak tetangga yang tidak menangis akibat ulahnya. Naluri sebagai jiwa pemberontak sudah mulai kelihatan tatkala dia dengan berani melawan orang yang lebih tua, yang dianggapnya berbuat tidak adil di kampungnya. Seorang kepala desa pun pernah ia lempar dengan batu kerikil, karena ia sangat membenci ulah dan kelakuan kades yang tidak patut ditiru itu.

Chekov kecil sudah mulai lancar membaca koran sejak masih TK. Semasa sekolah, ia selalu menyabet rangking terbaik. Ia termasuk pemuda yang serba-bisa. Ia tak punya hobi yang spesifik. Dalam dirinya, mengalir darah seni. Suaranya merdu bila menyanyi. Terutama lagu-lagu Nostalgia. Ia juga pandai melukis. Hobi terbarunya adalah membaca dan menulis. Semuanya itu, ia peroleh secara otodidak, karena kedua orang tuanya tidak mewariskan ilmu apapun kepadanya. Kecuali petuah dan kebajikan. Baca lebih lanjut

November 15, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | , | Tinggalkan komentar

#073: Jiwa yang Lusuh

Gelap mulai merayap. Ia terus berjalan, sore itu, menyusuri jalanan trotoar, pulang menuju rumah kontrakannya. Begitu sampai, ia lalu benamkan pikirannya dalam tumpukan bibliografinya. Terlalu banyak ide bagi Chekov untuk menuangkan semua pernik-pernik hidup ini dalam satu dekapan otaknya. Bila dituruti, sehari bisa banyak ide yang keluar dari sel-sel otaknya. Tapi, ada kesibukan lain yang tak bisa berkompromi untuk mengaktualisasikan segala inspirasi itu. Karenanya, terkadang ia terlalu lelah dalam balutan ide dan gagasan besarnya.

Jam kerja kantor telah usai sudah. Angka menunjuk 17:00, ruangan kantor telah sepi. Chekov sudah keluar ruangan sebelum jam 16:00 tadi. Baginya, adalah sebuah pembunuhan usia duduk di kantor tanpa aktivitas pengembangan diri. Sangat tidak berguna. Apalagi, mekanisme manajemen kantornya tak seprofesional yang ia harapkan. Ia menyadari penuh, kantornya saat ini hanyalah sebuah tempat singgah untuk menyambung hidup. Tak lebih dari itu. Itu terpancar dari style Chekov yang cenderung bebas-anti aturan dan tidak mau terjebak pada hal-hal yang membelenggu. Baca lebih lanjut

November 15, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | , | Tinggalkan komentar

#072: Duka Seorang Chekov

Hujan rintik menyelimuti Batavia di pagi hari, awal abad 21 ini. Matari sudah beberapa bulan mengalah, tak menunjukkan lagi keperkasaannya. Awan-mendung berarak membuat gelap ibukota. Di sana-sini jalanan aspal basah merata. Mobil merayap lambat di atasnya. Di antara lalu-lintas yang padat itulah, terselip seorang pemuda berperawakan kurus, berkacamata tebal meniti jalan demi jalan menuju tempat kerjanya, yang berjarak sekitar 500 m dari rumah kontrakannya. Dengan muka masam, ia berjalan gontai sambil membawa beberapa buku bacaan. Pagi benar ia sudah berangkat, menyisiri kali kecil di pinggir jalan, menuju kantornya.

Aku mengenalnya: Chekov. Seorang pemuda berbakat, dari keluarga miskin yang mencoba peruntungan hidup di kota besar, Batavia. Ia besar secara otodidaks, karena hobi dan bakatnya tak sejalan dengan latar bekalang pendidikannya. Ia termasuk pemuda periang. Optimis dalam menatap masa depan. Tapi, sebentar! Tidak dengan pagi ini. Wajahnya kelihatan bermuram-durja. Baca lebih lanjut

November 15, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | , , | Tinggalkan komentar

#039: Kidung Cinta Para Raja

Padepokan Tebet, Malam Jum’at, 29-08-2003.
Alunan gamelan kidung cinta para raja kembali hanyut terdengar. Mengiang-ngiang di telinga, menggelayuti pendengaranku. Ia sepertinya dekat. Sangat dekat. Seolah-olah ia mengepung padepokan. Ia selalu muncul ketika nurani tidak bisa diajak kompromi. Ketika pilihan dipertentangkan.

Kubayangkan Damarwulan, Joko Tingkir, Ki Ageng Mangir, dan para raja yang lain dengan segala kebesarannya, melakoni fragmen hidup mereka yang dinamakan cinta; sebuah cerita legenda yang menyiratkan hubungan kasih suci nan agung. Yang kadang diselingi dengan perjuangan, ujian dan cobaan yang sangat berat.

Kurebahkan badanku di balai bambu di teras padepokan. Malam ini tidak seperti biasa. Di saat isu munculnya bulan kembar, tapi aku tak tertarik sama sekali dengan gembar-gembor media massa itu. Aku lebih menyukai membiarkan terjadinya pergulatan pikiran, batin, dan nurani dalam diri ini. Kubiarkan mereka berdebat secara demokratis, tuk menentukan setiap langkah demi langkah yang akan kutempuh. Kubiarkan kidung cinta para raja menguasai diriku, ditemani semilir angin yang menerpa bumi padepokan. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Sastra | , | Tinggalkan komentar