*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#150: Mangir (:Res)

mangirJudul: Mangir
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun: Cet-6, Mei 2006
Hal: 114 halaman + XLIX
Tempat Beli: TB Utan Kayu
Tanggal Beli: 2 Juni 2009
Harga: 25.000
Diresensi Oleh: aGusJohn

Buku ini bukan novel yang berisi narasi dan deskripsi yang runut, melainkan buku tentang drama sejarah. Cerita panggung, teater. Ada pelaku, babak, dan panggung. Dalam buku yang ditulis di Pulau Buru ini, Pramoedya Ananta Toer sepertinya mencoba melucuti sejarah kiasan (ciri khas pujangga Jawa Tengah pasca runtuhnya Majapahit) dengan model drama. Jadi tidak heran, semua perlambang-perlambang (simbol-simbol) di-”ilmiah”-kan.

Menurut Pram –dalam bukunya yang sempat hilang (baca: dirampas rezim Orba) dan diselamatkan oleh Gereja Katholik Namlea, Buru dan Universitas Cornell, Ithaca, America Serikat ini, Mataram mengalami kemunduran (set-back) soal pemikiran dan sastra karena terlalu banyak menggunakan simbol-simbol, kiasan, yang berbeda dengan jaman Majapahit (Negarakertagama, Mpu Prapanca) yang sudah terbuka dengan budaya bangsa lain (Tiongkok). Hal ini bisa dipahami, karena orientasi Majapahit adalah negara maritim, sedangkan Mataram Baru identik dengan negara pedalaman.

Tokoh Baru Klinting, misalnya. Dalam sejarah yang tersebar, ia digambarkan sebagai sebuah tombak pusaka sakti peninggalan nenek moyang Wanabaya Ki Ageng Mangir (Mangir muda). Dalam cerita film, kakek Mangir muda adalah cucu bungsu dari raja Majapahit terakhir (Dewi Suhita?). Oleh Pram, Klinting digambarkan sebagai manusia biasa dengan kecerdikan yang luar biasa sehingga di-“tua”-kan di perdikan Mangir. Dia adalah “anak haram” Mangir tua dengan perawan Mendes. Berarti, Klinting adalah saudara kandung seayah beda ibu Mangir muda. Baca lebih lanjut

Iklan

Juni 16, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , | 2 Komentar

#149: Jaka Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu (:Res)

joko tingkirJudul: Jaka Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu
Penulis: Gamal Komandoko

Penerbit: Diva Press
Tahun: Cet-1, Desember 2008
Hal: 411 halaman
Tempat Beli: TB Sarinah Lt-6
Tanggal Beli: 13 Mei 2009
Harga: 50.000,-
Diresensi Oleh: aGusJohn

Kasultanan Demak.
Raden Patah, Sultan Demak Bintoro cemas. Bukan terhadap bupati atau wilayah yang membangkang, tapi terhadap keberadaan Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging. Sebagai sesama cucu Brawijaya, Raden Patah pantas cemas karena Kebo Kenongo belum juga mau tunduk kepadanya. Dia khawatir, Kebo Kenongo akan menjadi “duri dalam daging” dalam pemerintahannya.

Raden Patah sangat khawatir karena takut sejarah Raden Wijaya yang mendirikan Tarik yang kemudian menjadi Majapahit dan memisahkan diri dari Jayakatwang, Singosari terulang. Dia juga tidak ingin seperti kasusnya Arya Wiraraja (ayahnya Ranggalawe) di Lumajang yang kemudian memberontak Raden Wijaya di era awal berdirinya Majapahit. Apalagi, Kebo Kenongo adalah cucu tertua Raja Brawijaya, yang berarti juga misanan (sepupu)-nya sendiri. Kebo Kenongo adalah putra Pangeran Jayaningrat yang masih keturunan Gajah Mada, dan ibunya adalah Pambayun, putri sulung Raja Brawijaya terakhir.

Walaupun tidak dalam kondisi ingin memberontak, pengaruh dan wibawa Ki Ageng Pengging cukup membuat miris hati Raden Patah, mengingat 40 tetua Tanah Jawa memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Pengging; yang kesemuanya itu murid-murid Syekh Siti Jenar. Diantaranya: Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Majasta, Ki Ageng Getas Aji, Ki Ageng Tambakbaya, Ki Ageng Tembalang, dll (hal 14). Dengan pengaruh yang begitu besar, sementara Ki Ageng Pengging diperingatkan berkali-kali tapi tidak mau tunduk, sangat bisa dipahami betapa gusarnya hati Raden Patah. Baca lebih lanjut

Juni 3, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , , | 4 Komentar