*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#148: Bersua Sang Legenda Hidup

wedhasmara1SENJA DI BATAS KOTA

senja di batas kota
slalu teringat padamu
saat kita kan berpisah
entah untuk brapa lama

walau senja berganti
wajahmu slalu terbayang
waktu engkau kulepaskan
berdebar hati di dada

wedhasmara2reff:
tiada dapat kulupakan
peristiwa kisah ini
engkau di seberang sana
menunaikan tugasmu

senja di batas kota
terlukis di dalam kalbu
hanya bila kau kembali
hidupku akan bahagia

***
Di era 60-70an, lagu di atas tentu sudah tidak asing lagi. Hingga era 80-an -ketika saya masih SD, tetangga sebelah sering memutar lagu-lagu tembang kenangan tersebut. Ketika TVRI masih merajai, lagu-lagu  itu begitu familiar di telinga. Baca lebih lanjut

Mei 29, 2009 Posted by | Seni & Budaya | , | 1 Komentar

#146: Dari Masjid ke Masjid

“Saksi Bisu” Potret Perjalanan Ekspansi Bakrie Telecom

~
Foto-foto berikut ini menjadi sejarah, bagian kecil dari  “saksi bisu” perjalanan ekspansi Bakrie Telecom ke Jawa Barat; yang kini disebut sebagai Regional 02 -minus Bekasi, Depok, Bogor, Kerawang dan Sukabumi- dan wilayah Banten -masuk Regional 01.

Masjid menjadi target kedua setelah kandidat BTS (Base Transciever System) ditemukan, ketika saya melakukan survey ke kota-kota di Jawa Barat, seperti: Sumedang, Ciamis, Majalaya (Bandung) dan Banten (Pandeglang, Rangkasbitung dan Anyer).

Berikut “saksi bisu” yang sekian lama berserakan, dan baru saya temukan kembali hari ini:

Masjid Ciamis
diambil  tanggal: 3 Januari 2003
pada saat pencarian lokasi-lokasi BTEL di Ciamis. Boleh dibilang, inilah awal ekspansi BTEL di kota paling timur dari Propinsi Jawa Barat tersebut.

100_6276

~~O~~

Masjid Majalaya
diambil tanggal: 4 Januari 2003
saat ekspansi pertama BTEL di kota paling tenggara Bandung, berbatasan dengan Garut.
100_6401

Baca lebih lanjut

Mei 22, 2009 Posted by | Esia, Sejarah & Peradaban, Seni & Budaya | , , | 2 Komentar

#145: Pura Keluarga dan Rumah Tokoh Adat Bali

Catatan Perjalanan ke Bali#003

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Bali, ada pura keluarga di dalam komplek rumah. Pura ini berfungsi sebagai tempat sembahyang setiap hari; untuk mendekatkan diri dengan arwah keluarga dan leluhur. Proses sembahyang dibagi dalam 3 waktu: pagi, siang dan sore/malam. Sembahyang pagi sehabis mandi dan setelah masak. Sembahyang siang sebelum makan. Sembahyang malam sesudah mandi sore.

Rumahnya pun dibuat petak-petak secara terpisah. Ruang tamu pisah dengan ruang dapur. Ruang acara do’a terpisah dengan ruang untuk upacara pernikahan atau kematian. Dan begitu seterusnya.

Berikut adalah gambaran lay out rumah I Wayan Tembau Kariasa, sang tokoh adat daerah Klungkung, Bali:
pura keluarga Baca lebih lanjut

Mei 19, 2009 Posted by | Esia, Seni & Budaya | , , | 1 Komentar

#144: Sromotan Klungkung*

P5020170_001Namanya “Sromotan“. Masakan khas dari daerah Klungkung, Bali ini sejenis urap-urap atau pecel (dengan) sayur (matang) di Jawa. Bahannya: kacang panjang, bayam, kangkung, buncis, kecipir, pare, koro, undis dan kecambah. Kecuali kecambah yang hanya diseduh/direndam di air hangat, semua sayuran direbus hingga matang. Sedangkan bahan mentahnya: kecapi, terong kecil.

Bumbunya ada dua macam. Sambal dari kacang yang disebut “sambal koples“, dan bumbu dari parutan kelapa yang disebut “sambal nyuh“. Sambal koples bahannya adalah cabe besar merah, cabe kecil rawit, bawang putih, trasi, gula aren dan kacang tanah. Semua diracik menjadi satu, kemudian ditumbuk hingga halus di lumpang; alat dari kayu yang berupa cekungan. Sebagai penumbuknya terbuat dari tongkat kayu yang besar dan panjang.

P5020172_001Jika sudah halus, bumbu koples ini kemudian digoreng dan sesudahnya siap untuk disajikan. Sebagai bumbu tambahan: merica bubuk, garam, vetsin.

Cara pembuatan sromotan Klungkung:
1. buat sambal koples
2. goreng sambal koples
3. buat sambal nyuh;
4. masak sayuran hingga matang
5. campur sayuran matang + mentah
6. campur dengan kedua bumbu yang sudah siap Baca lebih lanjut

Mei 18, 2009 Posted by | Esia, Seni & Budaya | , , | Tinggalkan komentar

#098: Pecel Lele dan Profesi (sebagai) Petani

Selama dalam perjalanan di ibukota -bukan lewat jalan tol tentunya, pernahkah Anda menghitung, berapa jumlah warung pecel lele di sepanjang jalan yang Anda lalui itu?
Coba diamati juga, berapa warung pecel lele yang ada di deretan warung di sekitar kantor Anda. Pertanyaan ini sederhana, tapi implikasinya luar biasa buat masa depan bangsa.

*
Seminggu yang lalu seorang teman memberi saya sebuah undangan; acara halal-bi halal warga asli Lamongan di Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai penyelenggaranya adalah Paguyuban “PUALAM” (Putra Asli Lamongan). Bupati dan pejabat Pemda Lamongan direncanakan akan hadir dalam acara itu. Sebagai penutup acara, sang Bupati akan mengunjungi wilayah Kebayoran Lama yang disebut-sebut sebagai “Kampung Lamongan” di ibukota; karena -disebutkan dalam undangan itu- hampir 90% masyarakat di sana berasal dari Lamongan yang berprofesi sebagai pedagang ikan di pasar. Baca lebih lanjut

Desember 19, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota, Seni & Budaya, Sosial-Politik | Tinggalkan komentar

#089: Menulis Sederhana Saja

Barangkali, dari sekian penulis terkemuka di Indonesia, hanya Emha Ainun Nadjib yang tulisannya sangat sederhana. Tidak ndakik-ndakik seperti tulisan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar-Abdalla seperti dalam bukunya, “Membakar Rumah Tuhan”. Atau, lebih banyak catatan kakinya daripada isi tulisannya seperti sang kritikus sistem demokrasi Barat, Ahmad Baso –yang mengurai tentang “kekurangan dan kelemahan” sistem demokrasi Barat bila dilihat dari sudut pandang “Kritik Nalar Melayu”.

Tulisan Cak Nun, tidak juga seperti tulisan Indonesianis asal Barat, seperti De Graaf, Prof. Nakamura, A. Hauken, De Jong, dan lainnya yang begitu rumit untuk dipahami. Cak Nun, tulisannya simple. Dia tak perlu lebih detail mengupas teorinya Samuel P. Huttington, Lance Castle, atau Gertz. Dia cukup menulis apa yang ia lihat, apa yang terjadi di masyarakat. Baca lebih lanjut

Desember 4, 2006 Posted by | Other, Seni & Budaya | 1 Komentar