*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#099: Air Keruh

Air keruh kecoklatan mengalir cukup deras menuju ke Karet Pasar Baru Barat, belok ke utara melewati Petamburan, Stasiun Tanah Abang, Jembatan Tomang, sebelah ITC Roxy Mas, lalu ia bertemu dengan Kali Angke, menyusuri Pantai Indah Kapuk, ujungnya bermuara di pantai Pluit.

Air keruh di Banjir Kanal Barat itu bisa digunakan sebagai pertanda. Dua hari kemarin teman kantorku tidak masuk kerja. Mudah saja menebaknya. Bila air Banjir Kanal Barat pasang, maka ia bisa dijadikan sebagai indikasi ada beberapa perumahan yang terendam banjir kiriman dari Bopuncur (Bogor, Puncak dan Cianjur). Salah satunya, ya rumah temanku tadi.

Jakarta sejak dulu memang sudah dikenal sebagai “Kota Seribu sungai”. Banyak nama “Ci” di beberapa sudut di kota ini, yang menandakan bahwa ibukota negara ini menyimpan makna air yang begitu luas.

Ada Cibubur, Cideng, Cidodol, Cikijang, Cikini, Cikoko, Cilandak, Cilangkap, Cililin (Petogogan), Cililitan (Kramatjati), Cilincing, Cilungup (Duren Sawit), Cimacan (Rawa Badak), Cinere, Cipayung, Cipete, Cipedak (Srengseng Sawah), Ciganjur, Cipinang, Cipulir, Ciracas, Ciranjang (Rawa Barat), dan lain sebagainya. Baca lebih lanjut

Iklan

Desember 21, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota | 1 Komentar

#098: Pecel Lele dan Profesi (sebagai) Petani

Selama dalam perjalanan di ibukota -bukan lewat jalan tol tentunya, pernahkah Anda menghitung, berapa jumlah warung pecel lele di sepanjang jalan yang Anda lalui itu?
Coba diamati juga, berapa warung pecel lele yang ada di deretan warung di sekitar kantor Anda. Pertanyaan ini sederhana, tapi implikasinya luar biasa buat masa depan bangsa.

*
Seminggu yang lalu seorang teman memberi saya sebuah undangan; acara halal-bi halal warga asli Lamongan di Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai penyelenggaranya adalah Paguyuban “PUALAM” (Putra Asli Lamongan). Bupati dan pejabat Pemda Lamongan direncanakan akan hadir dalam acara itu. Sebagai penutup acara, sang Bupati akan mengunjungi wilayah Kebayoran Lama yang disebut-sebut sebagai “Kampung Lamongan” di ibukota; karena -disebutkan dalam undangan itu- hampir 90% masyarakat di sana berasal dari Lamongan yang berprofesi sebagai pedagang ikan di pasar. Baca lebih lanjut

Desember 19, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota, Seni & Budaya, Sosial-Politik | Tinggalkan komentar

#097: Orang Kota, Orang Kampung, dan “Kampungan”: “Norax Culture” [1]

Rombongan bus yang mengangkut Aremania tertahan lama di Senayan, Sabtu malam, 19 Nopember 2005. Bahkan, beberapa bus pendukung tim Arema itu sempat dilempari oleh Jakmania -suporter Persija, yang kecewa karena timnya kalah 3-4 dalam partai Final Copa Djie Sam Soe 2005 sore itu. Padahal, hubungan kedua suporter selama ini berjalan cukup baik. Di babak penyisihan, kedua suporter saling menerima dan menyambut hangat bila tim mereka bertandang ke kandang lawan. Jika main di Lebak Bulus-Jakarta Selatan, Jakmania menyambut mesra Aremania. Begitu sebaliknya, bila bertanding di stadion Kanjuruhan-Malang, ganti Aremania yang menyambut hangat Jakmania. Tak ada bentrokan. Kedua suporter dikenal sangat akur. Damai!

Tapi tidak dengan Sabtu kemarin. Pendukung Persija mengamuk pasca Persija kalah melawan Arema. Luapan emosi mereka dilampiaskan dengan merusak fasilitas umum di sekitar Senayan. Termasuk lampu-lampu di kawasan komplek olahraga itu. Aksi brutal mereka juga dilakukan dengan melempari polisi dengan batu. Baca lebih lanjut

Desember 19, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Olahraga | Tinggalkan komentar

#096: Tuangan, Jombang, dan Pembuangan “Sampah Peradaban”

Ungu-jingga di atas langit Jombang. Merahnya matahari sore berpadu dengan awan mendung, membentuk penyatuan kedua warna itu yang unik. Meskipun awan sering bermuka muram seperti itu, toh hujan belum turun juga. Kemarau berlangsung panjang, menyebabkan wilayah di daerah-daerah menjadi kering. Kasihan nasib para petani di kampung!

Hamparan ladang tebu terbentang luas, seluas mata memandang. Jika anda ke pinggiran Kabupaten Jombang menuju ke arah bantaran Kali Brantas (perbatasan dengan Kabupaten Mojokerto), hampir mayoritas di kiri-kanan jalan isinya ladang tebu semua. Karena begitu luasnya, orang setempat menyebutnya sebagai “tuangan”.

Di wilayah perbatasan Jombang-Mojokerto-Lamongan-Kediri-Nganjuk merupakan daerah penghasil tebu. Maklum! Di Jombang dan Mojokerto terkenal dengan pabrik gulanya. Jadi jangan heran, bila mampir di kedua kota itu, anda akan mencium bau manisnya gula -sesekali diselingi dengan bau comberan hasil buangan limbahnya ke kali- dan menjumpai pabrik gula di setiap sudut kota. Juga, anda akan melihat hamparan tuangan, dengan truk-truk pengangkut tebu yang lalu-lalang di setiap sudut jalan pinggiran kota. Baca lebih lanjut

Desember 13, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | 1 Komentar

#095: Jauh-Dekat Sama Saja: Filosofi Jalanan di Ibukota [2]

Ini bukan jargon tarif angkutan umum di ibukota. Tapi, coba lihat dan amati kisah ini.

*
Setiap Senin, wajah-wajah cemberut kembali mewarnai jalanan ibukota, setelah dua hari sebelumnya (Sabtu-Minggu) libur. Maklum saja! Bagi orang-orang yang hidup dan bertempat tinggal di wilayah pinggiran ibukota –seperti di Depok, Bekasi, Tangerang, Cibubur-Cileungsi, Tangerang dan Bogor, Sabtu-Minggu dan hari libur merupakan saat yang menyenangkan buat keluarga. Hari libur adalah hari spesial untuk keluarga, karena selama 5 hari kerja, mereka harus berangkat pagi (05:30) dan pulang di sore harinya (18:00). Apalagi bila ingin menghindari macet, tentu sampai di rumah bisa jam 20:00.

Jadi tidak usah heran bila pakai lipstik, bebedak pipi hingga menor, pakai dasi, sisir rambut, dan kegiatan lainnya seringkali biasa kita lihat terjadi di balik kaca mobil yang terjebak lampu merah atau kena macet. Itu adalah hal yang biasa. Baca lebih lanjut

Desember 13, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , | Tinggalkan komentar

#094: “Rumus” Masuk Jalan Tol: Filosofi Jalanan di Ibukota [1]

Sekitar jam 07 pagi, jika anda melintas di atas jembatan Jalan Cililitan Besar dari Pangkalan Halim menuju Cililitan, atau di atas jembatan Jalan Kerja Bakti; pertemuan antara Halim-Kramatjati, maka anda akan menyaksikan “show room” mobil yang luar biasa spektakuler panjangnya. Mulai dari pintu tol Cililitan hingga tol Cawang-UKI menuju dalam kota, atau ke arah Priok dan Cikampek. Atau bahkan, kemacetan di jalan tol itu sudah mulai dari pintu tol Cibubur. Puanjaaaang sekali.

Ya, rumus lewat tol Jagorawi sekarang adalah = masuk tol paling lambat jam 06:30. Jika lewat dari itu, jangan harap kita akan “dapet jalan lancar” (baca: akan menemui “show room” seperti di atas). Bahkan, untuk beberapa bus feeder perumahan yang berada di wilayah pinggiran Jakarta, mereka berangkat dari komplek biasanya jam 05:00 – 05:30. Feeder Kota Wisata misalnya, mereka jalan jam 05:30. Begitupun bus dan truk (shuttle) pengangkut para anggota TNI AL dari komplek Jala Yudha yang lokasinya berada bersebelahan dengan perumahan elite bernuansakan wisata di timur Cibubur itu. Jika anda jam 05:30 mampir ke daerah itu, maka anda akan menyaksikan para ibu KOWAL (Korps Wanita TNI AL) dengan segala kedisiplinannya naik ke atas truk militer untuk berangkat kerja. Baca lebih lanjut

Desember 13, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota | Tinggalkan komentar