*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#159: AyuNara Update…

P7290008Narayana Nakmas Syailendra.
Umurnya sekarang sudah setahun 1 bulan. Sangat komunikatif. Diajak ngobrol nyambung. Paling suka kalo jalan-jalan. Jika Papa pulang kantor, dia langsung kabur menuju teras depan. Kemudian minta digendong sambil nunjuk-nnjuk motor; ingin ngajak jalan-jalan. Begitupun kalo melihat papa ganti baju, pasti langsung mendekat.

P7290007Nara, belum bisa jalan sendiri, sering truntunan. Semeter dua meter sudah bisa jalan sendiri. Sukanya naik-naik; tangga, kursi, meja. Ngambek-an. Kalo ribut rebutan barang sama kakaknya, nangis terus mbantingin diri ke belakang. Kepalanya benjol jadi tidak rata. Smoga kuat kepalamu, Nak!

Nara senyumnya mahal. Saya panggil “Cool Man”! Mamanya banget. Bangun tidur yang dicari pasti mamanya. Walaupun ada papanya di sebelahnya, tetap tidak mau.

Sekar Ayu Nakmas Pambayun.
Empat tahun 6 bulan. Sudah masuk TK A. Saat ini adalah fase di mana dia kelihatan bosan dengan pelajarannya. Beberapa kali dia tanya kapan bisa masuk TK B. Solusinya, di rumah saya beri pelajaran, tantangan yang baru dan lain sehingga dia selalu senang. Baca lebih lanjut

Iklan

September 4, 2009 Posted by | Family | , | 6 Komentar

#158: Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri (:Res)

senopatiJudul                : Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri
Penulis              : Gamal Komandoko
Penerbit            : Diva Press
Edisi                 : Cet-I, Mei 2009
Tebal                : 400 halaman
Harga               : 34.000,-
Tempat Beli      : Jakarta Book Fair 2009, Istora
Peresensi          : aGusJohn

Buku ini seperti menjadi lanjutan dari karya sebelumnya, Joko Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu”. Walaupun data sejarah yang digunakan bersifat normatif –yang berlaku umum, tapi produktifitas sang penulis dalam membuat novel sejarah patut diacungi jempol.

Buku yang teridir dari 19 bab ini mengupas habis tentang Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati Ing Alaga Sayyidin Panatagama, raja pertama Mataram Islam. Berikut ringkasan novel sejarah ini:

***
Ki Pamanahan resah bercampur kecewa. Bumi Mentaok sebagai hadiah sayembara dalam mengalahkan Aryo Penangsang belum juga diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang. Sultan yang masa mudanya bernama Joko Tingkir itu terkesan mengulur, menunda-nunda atas pemberian hadiah tersebut. Padahal, tanah Pati yang menjadi satu paket dalam hadiah sayembara tersebut sudah diserahkan ke Ki Penjawi, sepupu Ki Pamanahan.

Pamanahan benar-benar sangat kecewa, karena kesetiaan, pengabdian yang selama ini ia lakukan seolah-olah diabaikan begitu saja oleh Sultan Hadiwijaya. Pengorbanan demi kewibawaan Kasultanan Pajang yang ia lakukan tatkala tidak satupun orang Pajang yang berani melawan Aryo Penangsang, Adipati Jipang yang sakti mandraguna. Pamanahan merasa dirinya sangat berjasa pada berdirinya Pajang. Baca lebih lanjut

September 1, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , | 6 Komentar