*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#077: Perjalanan Spiritual (1)

Padepokan Tebet, di suatu malam Jum’at. Langit di atas bumi Padepokan dipenuhi awan pekat. Beberapa hari belakangan ini, badai memang mengguncang di beberapa wilayah Nusantara. Banjir, tanah longsor, hujan deras tiada henti, angin puting-beliung, pepohonan tumbang, membuat panik dan hiruk-pikuk warga. Terutama yang tinggal di daerah pesisir.

Kulihat langit dari tengah taman padepokan, di bawah pohon cemara yang menjulang tinggi. “Malam ini, hujan mungkin akan turun dengan derasnya,” gumamku. Segera aku masuk ke dalam kamar. Kututup pintu. Kuletakkan buku yang tadi kubaca, kubiarkan menumpuk berserakan di sebelah tv, lalu kumatikan lampu. Hanya tv channel ESPN yang menemani.

Di antara titik kritis kesadaran. Wussss, gurden biru yang menutupi kaca di sebelah utara kamar tiba-tiba tersingkap. Sosok laki-laki berjubah putih muncul dari balik gurden itu. Ia berdiri tegak. Mematung, memandangiku dengan diam di pojok kamar sebelah barat, dekat tv yang telah mati. Jubah putih itu terlihat sangat terang di balik kegelapan yang menyelimuti kamar, tapi wajah laki-laki itu samar-samar masih bisa kulihat dan kukenali. Baca lebih lanjut

Iklan

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 1 Komentar

#071: Masih Belum Menyerah

Paijo dibuat pusing. Raden Ayu Jumilah masih belum juga mau menyerah. Ia terus mendesak agar hubungan mereka kembali bisa terajut indah seperti yang dulu kala.

“Ada satu hal yang sebenarnya saya malu untuk menyampaikan, tapi saya ingin jujur: saya belum bisa melupakan pengalaman-pengalaman indah yang pernah ada di antara kita. Gila!”, tulis Ayu dalam e-mailnya. Sebuah bentuk kejujuran dari perasaan seorang perempuan.

Hati Paijo kontan luluh. Ia hanya bisa terdiam. Lidahnya terasa keluh. Jemarinya serasa kaku. Tak ada lagi gerakan jari-jemari yang lincah di atas keyboard. Ia menghela napas dalam-dalam. Istighfar. Hanya bisa terpaku di depan monitor dengan jemari yang tertekuk lemas. Tak ada daya.

Paijo lalu mengangkat kedua tangan. Kedua jari-jemari telapak tangan itu ia eratkan satu sama lain dengan posisi sikunya masih di atas meja. Ia menunduk, membenamkan mukanya di punggung jemari yang saling merapat itu. ‘Hm, kenapa bisa begini?’, guman Paijo. Baca lebih lanjut

November 13, 2006 Posted by | Other | , , | Tinggalkan komentar

#039: Kidung Cinta Para Raja

Padepokan Tebet, Malam Jum’at, 29-08-2003.
Alunan gamelan kidung cinta para raja kembali hanyut terdengar. Mengiang-ngiang di telinga, menggelayuti pendengaranku. Ia sepertinya dekat. Sangat dekat. Seolah-olah ia mengepung padepokan. Ia selalu muncul ketika nurani tidak bisa diajak kompromi. Ketika pilihan dipertentangkan.

Kubayangkan Damarwulan, Joko Tingkir, Ki Ageng Mangir, dan para raja yang lain dengan segala kebesarannya, melakoni fragmen hidup mereka yang dinamakan cinta; sebuah cerita legenda yang menyiratkan hubungan kasih suci nan agung. Yang kadang diselingi dengan perjuangan, ujian dan cobaan yang sangat berat.

Kurebahkan badanku di balai bambu di teras padepokan. Malam ini tidak seperti biasa. Di saat isu munculnya bulan kembar, tapi aku tak tertarik sama sekali dengan gembar-gembor media massa itu. Aku lebih menyukai membiarkan terjadinya pergulatan pikiran, batin, dan nurani dalam diri ini. Kubiarkan mereka berdebat secara demokratis, tuk menentukan setiap langkah demi langkah yang akan kutempuh. Kubiarkan kidung cinta para raja menguasai diriku, ditemani semilir angin yang menerpa bumi padepokan. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Sastra | , | Tinggalkan komentar

#037: Dari Kuningan hingga Tebet: Dari Turnamen Futsal hingga Rapat Perseroan Terbatas “Wikusama”

Padepokan Tebet, 18-08-03 di pagi hari.
Tatkala tetesan-tetesan embun telah melekat di dedaunan. Seperti biasa. Sekawanan suara burung membangunkanku pagi ini. Mereka bercanda sambil bersiul, dari satu ranting ke ranting pohon yang lain. Di antara sekawanan burung itu, ada satu burung yang suaranya cukup jelas kukenal. Suaranya berbeda dengan yang lain. Sangat jelas berbeda. Entah apa nama burung itu?!

Kuantarkan AW (Agus Widjaya/1C) pulang, sampai di pintu gerbang padepokan. Semalam, dia menginap di sini, setelah aku dan Wanus bertemu secara tidak sengaja dengannya di toko buku Gramedia di Hero Gatsu. Ia pun kemudian mampir dan menginap di padepokan. Kita ngobrol banyak hal hingga larut malam, ditemani kacang rebus, mie rebus, nescafe, dan Kabelvision.

Sepagi ini, Mbak Yati, istri penjaga padepokan sedang menyapu di taman. Ia bersihkan rerumputan dari kotoran dedaunan kering yang rontok. Daun mangga dan daun cemara, serta buah mengkudu yang jadi sampah di atas hamparan taman itu. Semua ia bersihkan. Kemudian ia guyur dengan air. Rerumputan itu menjadi tampak segar, layaknya menyambut mentari yang sebentar lagi kan menyapa bumi. Memberi warna pada semua permukaan. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Alumni | , , | Tinggalkan komentar

#033: Memuliakan Tamu

Padepokan Tebet, 4 Agustus, 22:30,
Senin malam ini tidak seperti biasa. Padepokan Tebet sore hari sudah berpersonel komplet. Wanus pulang duluan. Begitu sampai di padepokan, dia memilih tidur lesehan di balai bambu di depan kamarnya. Mungkin dia stress, komputer kantornya rusak.

Kemudian tak lama berselang, aku pulang, setelah menemani teman berbuka puasa di Kalibata. Lalu menyusul Patrang sambil membawa nasi. Lalu Cipeng dan WW.

Kita sudah berkumpul lengkap sebelum jam 20:00.Berhubung stok ikan asin bawaan Cipeng dari Surabaya minggu kemarin masih banyak, kita mengadakan acara memasak bersama, seperti beberapa minggu yang lalu. Tak lupa, bikin sambal trasi. Itu tugas Patrang.

Sepuluh menit kemudian, semua makanan sudah siap sedia. Sambil makan, kita bercerita banyak hal. Disamping membahas soal PT “Wikusama” yang akan berdiri dalam minggu ini (ctt: sudah berdiri hari Selasa kemarin [5/8/03],pen), hal lain yang kita bicarakan adalah, bagaimana seyogyanya bila ada tamu, kita memperlakukan tamu itu dengan baik. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Alumni, Religi | , | Tinggalkan komentar

#032: Duh, Gusti….?!

Padepokan Tebet, dini hari, 2:25
Kuterbangun! Dua jam yang lalu, tampaknya aku terlelap dalam balutan kelelahan. Benar-benar lelah. Dan ketika kini terbangun, masih kupikirkan, “Kenapa aku bisa lelah?”Aku tak punya kuasa untuk menjawab, atau bahkan menjelaskannya. Sedih. Kumenangis: ekspresi pasivisme, suatu bentuk penyerahan diriku secara total kepada-Nya.
“Karena ini sudah bukan lagi kehendakku,” batinku merintih. Sedih……….

#
Tiga jam sebelumnya. Awan relatif pekat, tapi tak berarak. Bulan dengan setengah wajah begitu angkuh mempermainkan sinarnya, mengiringi setiap perjalananku malam ini. Dengan penuh muram, ia berikan sinarnya. Ke setiap sudut gedung-gedung yang menjulang tinggi, yang berada di kiri-kanan di sepanjang jalan yang kulalui. Tapi, malam ini ia tak menunjukkan wajah yang berseri seperti biasanya, yang sering ia tunjukkan kepadaku, yang kemudian kusambut dengan ritual bulanan ataupun tulisan –yang berseri pula. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Sastra | , | Tinggalkan komentar