*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#038: Bila Masyarakat Awam Memaknai Kemerdekaan

Jam di hp-ku menunjukkan pukul 00:15. Pentas dangdut itu belum juga usai. Dua biduanita di atas panggung masih meliuk-liukkan tubuhnya yang terbalut baju ketat, khas penyanyi dangdut, menggoda setiap lelaki untuk berjoget di atas panggung. Dua biduanita lainnya duduk di pinggir, menunggu giliran tampil. Dengan diiringi musik organ tunggal dari Buncit Delapan, biduanita itu berjoget ditemani beberapa penonton yang sengaja memberi ‘sawer’.

Keringat mengucur membasahi wajah mereka. Dengan handuk yang sengaja dikalungkan di leher, mereka seka keringat. Di malam yang kelam itu, mereka menyanyikan lagu “Noda dan Dosa”, sambil berjoget, bergerombol di atas panggung. Keberisikan di tengah malam, di tempat terbuka, yang menjadi “halal” (dimahfumkan) di kehidupan sosial masyarakat. Ya, karena acara itupentas 17-an.

Tiga meter di depan panggung, kursi-kursi sengaja disibakkan. Dipinggirkan, untuk tempat berjoget bagi penonton. Sementara penonton yang lainnya, menikmati alunan musik khas Melayu itu dari kursi pertunjukan, di bawah tenda yang sudah disiapkan sejak pagi. Sebagian penonton yang lain, duduk di bangku-bangku. Ada juga yang duduk di ‘dak’ rumah warga. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar