*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#155: Syekh Branjang Abang (:Res)

Judul : Syekh Branjang Abang
Penulis : Fahrudin Nasrullah
Penerbit : Pustaka Pesantren (Kelompok Penerbit LKiS)
Edisi : Cet-I, Juli 2007
Tebal : xx+155 hal; 12x18cm
Harga : 14.000,-
Tempat Beli : Jakarta Book Fair 2009, Istora Senayan
diresensi  : aGusJohn

Jika ada kenangan yang hanya kau simpan
jika ada bacaan yang sekedar kau renungkan
jika ada cerita yang pernah kau dengar, tapi tak pernah kau tuliskan:
itulah kesunyian paling menyedihkan
ia bakal hilang bersama debu
dan kisah hidupmu akan berlalu begitu saja diterbangkan waktu.

(Kiai Baghowi, Kedungmaling, Brangkal, Mojokerto)

syekh branjang abangRenungan dari Kiai Baghowi di atas sejalan dengan tipe si penulis buku ini; seorang pencatat. Administratif, dokumentasi, pencatatan, penulisan selama ini menjadi kelemahan dunia pesantren. Banyak mutiara-mutiara karya yang terpendam dalam pesantren tapi tidak terpublikasikan. Begitupun tentang jasa-jasa pesantren dalam perjuangan kemerdekaan bangsa sangat jarang didokumentasikan, sehingga seolah-olah pesantren tak memliki andil sama sekali dalam perjalanan sejarah bangsa.

Itu semua dikarenakan pesantren masih beranggapan bahwa periwayatan itu tidak penting. Bahwa pencatatan, publikasi karya itu riak dan tidak perlu. Hanya segelintir sesepuh pesantren saja yang memahami bagaimana pentingnya dokumentasi, menuliskan karya/kitab/novel seperti:  Syekh Nawawi al-Bantani, Kiai Ahmad Rifa’i, Kiai Saleh Darat, KH. Hasyim Asy’arie (pendiri NU di 1926), Kiai Ihsan Jampes, Kiai Mahfudz Termas, Zamakhsyari Dhofier, hingga KH. Saifuddin Zuhri. Sejalan dengan prinsip (alm) KH. Bisri Mustofa, ayahanda KH. Mustofa Bisri yang sangat inspiring bagi saya, “jika engkau ingin dilihat, dihargai orang lain, maka menulislah”. Baca lebih lanjut

Iklan

Juli 10, 2009 Posted by | Religi, RESENSI BUKU | , | Tinggalkan komentar

#003: Wikusama: Sahabat Sekaligus Guru

Ada satu ajaran dalam lingkungan pesantren yang cukup menarik untuk diapresiasi. Tepatnya dalam kitab ta’lim muta’allim, yang berisikan: “Aku adalah hamba dari orang yang mengajariku, walau hanya satu (ayat) katapun.” Literatur sejarah Islam menyebutkan, “ayat” tersebut berasal dari perkataan Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra.

Bila dipahami secara negatif, ayat tersebut bisa mengakibatkan terbentuknya pola hubungan ketertundukan yang bersifat total dari kalangan santri secara berlebihan pada kiai. Ini biasanya terjadi di lingkungan pesantren–walaupun tidak secara keseluruhan.

Padahal, banyak hadis yang menyebutkan adanya proses terjadinya tanya-jawab (dialog) antara sahabat dengan Rasulullah SAW tentang sesuatu hal. Misalnya begini, “…Sahabat bertanya, Rasulullah menjawab…”. Yang ini bisa dipahami bahwa sebenarnya Rasulullah mengajarkan pola hubungan, dialog yang sangat demokratis, dua arah. Bukan monolog! Artinya, salah besar bila dalam pola interaksi kita sehari-hari, ada seorang kiai, guru, ustad tidak mau dan “mengharamkan” untuk diajak berdialog.

Di sisi yang lain, bila dipahami secara positif, maka ayat di atas akan menjadikan kita sebagai manusia yang toleran, tidak tinggi hati, tidakmerasa yang paling berilmu dan akan selalu menjaga langgengnya nilai persahabatan.

Dalam usaha memahami “pemahaman positif” dari ayat di atas, maka bisa saya umpamakan dalam ilustrasi begini: Latar belakang diskusi di millist Wikusama. Misalnya Hilal, Zakki, Anam memosting tentang wawasan keislaman, tentang gerakan Islam-Taliban. Kebetulan saya belum mengetahui itu sebelumnya. Maka bisa dikatakan Hilal dkk itu adalah guru saya.

Contoh yang lain, misalnya Arisandi, Noka, Dodik dll membahas soal sistemUnix/Linux, dan teman-teman enjoy mengikutinya, artinya: Arisandi dkk itu adalah guru dari teman-teman yang belum tahu dan menikmati pengetahuan itu. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni | , , , , | Tinggalkan komentar