*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#074: Angan Seorang Buruh Kecil

Masyarakat di sekitar lingkungan Chekov dibesarkan mengatakan, Chekov adalah seorang pemuda yang cemerlang. Sejak kecil ia sudah menunjukkan kenakalan yang luar biasa. Setiap hari hampir tidak ada anak tetangga yang tidak menangis akibat ulahnya. Naluri sebagai jiwa pemberontak sudah mulai kelihatan tatkala dia dengan berani melawan orang yang lebih tua, yang dianggapnya berbuat tidak adil di kampungnya. Seorang kepala desa pun pernah ia lempar dengan batu kerikil, karena ia sangat membenci ulah dan kelakuan kades yang tidak patut ditiru itu.

Chekov kecil sudah mulai lancar membaca koran sejak masih TK. Semasa sekolah, ia selalu menyabet rangking terbaik. Ia termasuk pemuda yang serba-bisa. Ia tak punya hobi yang spesifik. Dalam dirinya, mengalir darah seni. Suaranya merdu bila menyanyi. Terutama lagu-lagu Nostalgia. Ia juga pandai melukis. Hobi terbarunya adalah membaca dan menulis. Semuanya itu, ia peroleh secara otodidak, karena kedua orang tuanya tidak mewariskan ilmu apapun kepadanya. Kecuali petuah dan kebajikan. Baca lebih lanjut

Iklan

November 15, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | , | Tinggalkan komentar

#010: Karyawan Indosat dan Petani-Buruh Tembakau di abad XIX

Ketika mampir ke Yogya tempo hari, saya menemukan sebuah buku yang sangat menarik, yang berjudul: “Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta, 1830-1870“, karya Vincent JH. Houben, seorang sejarawan Jawa berasal dari Belanda.

Inti dari buku setebal 785 halaman, terbitan Bentang itu adalah, menceritakan secara gamblang ihwal periodesasi ketika kolonial melakukan eksploitasi secara eksplisit di Indonesia, khususnya di dua daerah semi-otonom, yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Secara terperinci, Houben menguraikan ekspansi, eksploitasi, dan intervensi Pemerintah Kolonial terhadap kedua wilayah tersebut. Tentang masa itu,Houben mencatat adanya suatu pergeseran, yakni dari dependensi militer keraton terhadap Pemerintah Kolonial, menuju dependensi ekonomi.

Ketika elite penguasa di kedua kerajaan bekas pecahan Mataram Baru –yang terbelah akibat dari Perjanjian Giyanti (th. 1755 M)– itu hanya disibukkan dengan saling menebarkan pengaruh dan rebutan tahta kekuasaan di lingkungan keluarga, dengan lihainya Kompeni Belanda memanfaatkan situasi krisis tersebut untuk menguasai tanah-tanah para bangsawan dengan harga sewa tanah dan upah buruh yang murah.

Dengan mengedepankan politik ekonomi yang rakus, dan memanfaatkan ketamakan dan kekerdilan berpikir para elite penguasa lokal (Surakarta danYogyakarta), Kompeni akhirnya berhasil menjerat para bangsawan itu dalam hutang yang sulit untuk dibayar. Setiap ada acara pernikahan, pesta atau hajatan dari penguasa lokal, Kompeni dengan “baik hati”-nya memberikan modal pinjaman untuk keperluan tersebut. Dampaknya, para penguasa lokal itu kemudian terjerat oleh ketergantungan pada para penyewa tanah, sehingga menyebabkan tanah-tanah kerajaan dijual atau digadai dengan harga yang murah untuk kepentingan Kompeni. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , , | Tinggalkan komentar