*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#136: Ilir-Ilir: Antara Keluarga dan Makna Filosofinya

ayun1Ilir-ilir,
ilir-ilir….
tandure wis sumilir…
tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar…..

bocah angon,
bocah angon….
penekno blimbing kuwi…
lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotiro…

Dodotiro,
dodotiro….
kumitir bedah ing pinggir…
dondomana, jrumatana kanggo seba mengko sore..
mumpung padhang rembulane.
mumpung jembar kalangane…..

Artinya:

p13100083(Ilir-ilir,
ilir-ilir…
tanamannya sudah berkembang/bersemi..
tampak menghijau ibarat pengantin baru..

anak gembala,
anak gembala..
panjatlah blimbing itu..
meski licin panjatlah, buat mencuci kain

kain,
kain…
yang sedang robek pinggirnya..
jahitlah dan tamballah untuk menghadap nanti sore..
semampang bulan terang-benderang
semampang lebar tempatnya…) Baca lebih lanjut

Iklan

Maret 27, 2009 Posted by | Family, Religi | , , , , , , | Tinggalkan komentar

#134: Siti Jenar Menggugat (Res:)

siti-jenar2Judul : Siti Jenar Menggugat
Penulis : Bambang Marhiyanto
Penerbit : Jawara Surabaya
Cetakan : ke-1, Th. 2000
Tebal : 128 halaman

Legenda Syekh Siti Jenar menjadi kontroversial; apakah figur tersebut benar-benar ada? Dan jika ada, di manakah dia dimakamkan? Apakah ajarannya itu benar ataukah salah? Jika salah, kenapa Wali Songo sampai harus menukar jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing ketika jenazahnya disemayamkan di Mesjid Demak?

Buku ini adalah satu dari sekian buku yang mengupas khusus tentang tokoh legenda kontroversial dari Cirebon itu. Sejak KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden, buku-buku tentang Syekh Siti Jenar memang bagaikan jamur tumbuh di musin hujan. Banyak, dan sangat bervariasi. Khusus untuk buku ini, dalam memaparkan Siti Jenar dibagi dalam 9 bahasan.

***
Syekh Siti Jenar dikenal juga dengan sebutan Syekh Abdul Jalil atau Syekh Jabaranta atau Syekh Lemah Abang. Asal-usul Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah Ali Hasan, putra mahkota Raja Cirebon Girang. Karena dia berani melawan ayahnya, maka dia dirubah oleh ayahnya yang seorang pendeta itu sebagai seekor cacing. Oleh ayahnya, cacing itu diletakkan di pinggir sebuah danau (Bab I). Baca lebih lanjut

Maret 19, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , | 17 Komentar

#133: Cikal-Bakal Dinasti Mataram (Res:)

dinasti-mataramJudul: Cikal Bakal Dinasti Mataram
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial Budaya
Penulis: Radix Penadi
Cetakan: 1988
Tebal: 48 halaman

Berbicara tentang sejarah Mataram, maka dibagi menjadi dua; Mataram Kuno dan Mataram Baru. Mataram Kuno yakni sejarah Tanah Bagelen. Sementara Mataram Baru, tidak bisa dipisahkan dengan sejarah lahir dan berakhirnya Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang. Mataram Baru adalah Mataram yang sudah tersentuh nilai-nilai Islam. Sedangkan Mataram Kuno hidup di era ajaran Hindu/Budha (Syiwa/Wisnu).

Buku ini memberikan gambaran runtutan sejarah Mataram dari proses memuainya Mataram Kuno hingga munculnya Mataram Baru. Proses evolusi sejarah Mataram ini berawal ketika raja terakhir Mataram Kuno, Mpu Sendok memindahkan pusat pemerintahan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Kediri) diakibatkan adanya konflik dan intrik antar keluarga kerajaan. Saling jegal-menjegal, perebutan kekuasaan menjadi hal yang biasa. Perpindahan pusat kekuasaan itu juga dikarenakan terjadinya letusan Gunung Merapi yang menghancurkan keraton dan tempat-tempat suci kerajaan. Juga dikarenakan adanya kekhawatiran dari Mpu Sendok akan bahaya serangan dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang, yang notabene juga pelarian dari keluarga istana dalam konflik pertama di Kerajaan Mataram Kuno (era Rakai Pikatan). Baca lebih lanjut

Maret 12, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , , | 11 Komentar

#082: Seks Penguasa dan Status Kelas di Masyarakat

“Orang Mojokerto itu cenderung brangasan, karena turunan budak”, begitu asumsi seorang netter dalam sebuah diskusi di millist politik yang pernah saya buat, lima tahun yang lalu.

Menuruti apa kata asumsi atau stigma yang berkembang, mungkin tak akan pernah ada habisnya. Tapi, jangan pula terlalu meremehkan stigma yang berkembang di masyarakat, karena ada beberapa diantaranya justru kemudian menjadi bagian (mengintegrasi) dengan adat-istiadat. Ia dipercaya, diyakini, lebih dari itu, lalu diakui, dipatuhi oleh masyarakat. Misalnya saja stigma atau sejenis mitos yang berkembang di Lamongan, bahwa orang Lamongan tidak boleh menikah dengan orang Kediri. Lalu ada stigma, orang Jawa berpantang menikah dengan orang Sunda, dan sebagainya.

Tentu, semua itu punya latar belakang sejarah di masa lalu. Ia bisa benar, bisa juga tidak, atau hanya sekedar hasil rekayasa masa lalu belaka. Mungkin, stigma premature yang berkembang di masyarakat tentang karakter orang Mojokerto seperti tersebut di atas, berangkat dari latar belakang sejarah Majapahit yang pada waktu berdirinya pada abad 13, harus mendatangkan orang-orang bertipe pekerja keras asal Madura, untuk membuka dan membangun sebuah desa kecil, bernama Tarik (Krian), yang kelak di kemudian hari berubah menjadi pusat sebuah kerajaan besar, Majapahit.

Mereka, para pekerja itu, sengaja didatangkan oleh Arya Wiraraja, penguasa Madura, atas permintaan RadenWidjaya, dengan sebelumnya mendapatkan persetujuan dari Raja Kertanegara (raja terakhir Singosari). Mendatangkan penduduk dalam jumlah besar, dengan latar belakang pekerja kasar itulah yang mungkin menjadi dasar, latar belakang dari stigma yang berkembang secara turun-temurun tersebut. Baca lebih lanjut

November 27, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , | 1 Komentar