*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#157: Flu (& Teror) Babi

UI flu babiKetika muncul wabah penyakit antraks, sapi/kambing, kuda dan kerbau menjadi korban. Banyak kambing dan sapi yang sakit langsung dimusnahkan. Beritanya begitu massif. Hingga sebuah daerah yang bernama Babakan Madang di dekat Bukit Sentul, Bogor yang terkenal dengan makanan khas  “Sate Kiloan” menjadi sepi. Yang biasanya bisa habis puluhan kilo dalam sehari bagi setiap warung, bisa turun drastis hingga satu kilo saja.

Sampai sapi, kuda dan kerbau wajib memiliki KTP di Nusa Tenggara Timur (NTT). Meresahkan hari raya Qurban hingga perlu dirazia. Orang-orang benar panik. Sentimen terhadap kambing, sapi, kuda, kerbau begitu tinggi.

Sama! Ketika wabah flu burung berkembang, burung dan semua jenis unggas kena getahnya. Ayam mati mendadak, warga panik. Orang-orang yang memelihara ayam sekedar buat klangen-klangenan baik di komplek ataupun di perkampungan menjadi tidak enak hati. Mereka merelakan ayam piaraan yang sudah dipelihara tahunan itu dimusnahkan. Ada yang dijual atau dipotong untuk konsumsi sendiri.

Ayam-ayam banyak yang dibakar kemudian ditimbun! Sampai muncul polemik buku Menkes Fadilah Sapari tentang vaksin flu burung yang sengaja dimanfaatkan negara maju untuk senjata biologi.

Tapi tidak dengan flu babi! Sangat sedikit sekali berita yang menampilkan adanya babi dimusnahkan -atau barangkali memang tidak ada? Beda dengan ayam, kuda, kambing, unggas lainnya. Hewan ternak yang nyata-nyata halal begitu ramai dimusnahkan tapi justru “silent please” -meminjam istilah komedian Tukul Arwana- untuk babi yang notabene makanan “bermasalah” baik secara agama -Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia- ataupun kesehatan. Aneh memang?!

Kabar terbaru, setelah isu bom Marriot lambat-laun hilang, muncul isu baru flu babi menyerang dunia pesantren. Koran SINDO 28 Juli memberitakan ada 50 santri dari Pondok Pesantren Assalafi Al-Fitrah Surabaya diduga suspect flu yang berasal dari Meksiko tersebut.

Penularan itu diyakini berasal dari acara haul akbar di ponpes yang diasuh oleh KH Asrori yang dihadiri tidak hanya santri-santri lokal, tapi juga dari Malaysia dan Singapura. Dari peserta asing inilah kemungkinan virus tersebut berkembang. Di tempat terpisah, 5 orang santri dari Pondok Pesantren Tebu Ireng dinyatakan suspect flu babi. Penderita berasal dari luar Jombang, tepatnya dari Cirebon. Baca lebih lanjut

Iklan

Juli 29, 2009 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

#156: Bangsa (Sarang) Teror?

73978_pasca_peledakan_hotel_jw_marriott_ritz_carlton_thumb_300_2251707 (baca: 17 July) bom meledak di Hotel JW Marriot dan Rizt Carlton. Kabarnya, masih ada bom yang tidak jadi meledak tersimpan di kamar 1808 di hotel tersebut dan berhasil dijinakan oleh kepolisian. Lagi-lagi, Noordin M. Top dijadikan kambing hitam dalam kasus teror tersebut. Baik dari pihak kepolisian sendiri yang menyebut hampir pasti 90% (link)dan juga dari mantan pimpinan Jama’ah Islamiyah, Nasir Abbas sama-sama menuduh Noordin dalang di balik aksi teror tersebut.

Dengan begitu cepatnya sampai Presiden SBY menyebut “drakula” untuk dalang pelaku teror dan mengaitkan teror tersebut dengan Pilpres; bahwa ada pihak-pihak yang ingin menggagalkan pelantikan presiden, rencana pendudukan KPU(link) disertai dengan foto-foto yang katanya dari data intelijen yang beberapa hari kemudian dibantah oleh politisi Gerindra, Permadi sebagai sebuah data yang tidak valid.

Spontan, pihak yang kalah dalam pemilu pilpres merasa tersudut dengan tuduhan itu. Tidak hanya itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin juga menolak keras (link), begitu juga Presiden PKS, Tifatul Sembiring (link).

Kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto langsung menolak. Sanggahan Letjen (Pur) Fahrur Razi dari tim Wiranto sungguh menarik, “Kita ini pihak yang kalah, kalau kita sebagai pelaku maka akan dengan mudah diberangus”. Message dari pernyataan tangan kanan Wiranto sungguh jelas menohok justru pemenang pemilu pilpres sebagai pelaku teror. Ketidakvalidan data yang diungkapkan presiden juga dibantah oleh Jusuf Kalla yang notabene masih menjabat Wakil Presiden hingga Oktober mendatang.

Maka lengkap sudah. Teror bom itu seperti hantu. Siapa dalang, siapa pelaku masih dan akan terus gelap. Bagaimana otak kita dipaksa untuk memahami sebuah kenyataan yang membodohkan bahwa seorang pelarian dari Malaysia yang bernama Noordin M. Top tidak bisa tertangkap oleh aparat intelijen kita, sementara di sisi yang lain anggota berani matinya Noordin terus bertumbuh-kembang. Bagaimana mungkin seorang warga negara asing lebih menguasai kondisi geografis/demografis bangsa ini daripada aparat intelijen kita? Nalar-logika yang benar-benar tidak masuk akal.

Otak kita benar-benar diajak untuk diperas menerima fakta bahwa ternyata kita hidup di tengah ketidaknyamanan, di tengah teror yang suatu saat sangat mungkin bisa muncul kembali -karena Noordin masih berkeliaran. Kita tidak tahu, siapa dan berapa jumlah korban teror bom berikutnya, dan di tempat mana serta kapan waktunya. Gelap! Semua gelap! Misterius, hantu! Baca lebih lanjut

Juli 29, 2009 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

#104: no identification

Januari 25, 2007 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#085: no identification

November 28, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#083: no identification

November 28, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#063: Inspirasi


Seorang pria sederhana, dengan kumis tebal dan rambutnya yang agak panjang, mendatangi tempat tinggalku di Cililitan beberapa tahun yang lalu. Ia orang daerah. Datang ke Ibukota dalam rangka diundang sebagai pembicara di sebuah seminar tentang hukum yang diadakan oleh Departemen Dalam Negeri di Gedung Bidakara, Pancoran. Aku sering memanggilnya, Cak Wadi. Ia seorang Doktor hukum lulusan sebuah universitas negeri di Semarang. Kini, ia menjadi dosen di sebuah universitas swasta di Kota Pahlawan.

Saya menyukainya. Baik tulisan ataupun sikapnya yang bersahaja. Walaupun ia seorang kolumnis ternama spesialis hukum di berbagai media massa lokal dan nasional, tapi rumahnya sangat sederhana. Itu kuketahui setelah aku beberapa kali berkunjung ke rumahnya.

Ketika ngobrol di Cililitan itulah, aku mendapatkan banyak “pelajaran” dari Cak Wadi. Diantaranya, Cak Wadi bilang, kegemarannya menulis muncul sejak usia muda. Ia rajin menulis ke koran ketika masih kuliah di Strata-1 (S1). Ketika dia masuk di S2 justru frekuensi menulisnya menurun. Begitupun kualitasnya. Ini ia akui sendiri.

Begitulah. Hari itu aku mendapatkan “pelajaran hidup” yang sangat berharga dari Cak Wadi. Bahwa, persoalan ide itu tak memandang usia, strata pendidikan, status sosial (jabatan) ataupun latar belakang. Ide bisa datang ke siapa, di mana, dan kapan saja.

#
Dik Wijiasih (salah satu partner diskusiku) memintaku agar setiap tulisanku diselingi humor-segar. Itu ide menarik! Tapi, yang namanya ‘ide’ tak bisa dibatasi atau diatur-atur, dik. Ia datang begitu tiba-tiba laksana gumpalan awan. Bila tak ditangkap, ia akan kabur laksana angin. Begitu ia datang, lekas-lekas kutuangkan. Maka, jerawat pun hilang.

Ide atau aku sering menyebutnya sebagai inspirasi adalah anugerah Ilahi. Ia bisa berupa sesuatu yang berisi canda-tawa. Bisa juga yang serius seperti karya ilmiah. Tergantung suasana hati yang menyertai. Bila hati berbunga, maka cerahlah tulisan itu. Sebaliknya, bila nurani bermurung duka, maka tampak mendunglah sang karya.

Inspirasi. Tidak hanya menjadi monopoli orang pintar, penulis, novelis, pengamat politik, sastrawan, dan sebagainya. Tapi ia bisa menghinggapi siapa saja. Orang awam, bukan penulis, yang tidak bisa menulis, dan lain-lain pun punya kesempatan yang sama. Karena inspirasi adalah karunia Gusti Pengeran.

Bisa jadi, orang awam punya ide lebih brilian dibandingkan orang kaum elite. Bedanya mungkin, bila ide itu ditangkap oleh orang elite, mereka memiliki kelebihan pendukung lainnya. Seperti, pengetahuan dan wawasan yang luas (berhubungan dengan referensi), gramatikal (tata-bahasa), sehingga ide itu kemudian bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan yang hebat. Sementara, orang awam, walaupun dengan segala ide cemerlangnya, hanya bisa terkungkung
pada pola pikir dan wawasan yang sebatas ia kuasai.

Karenanya, soal inspirasi itu, kita tak perlu rendah diri (minder). Yang penting kita bisa menuangkannya dengan lugas dan lancar, walaupun karya kita itu tak sepuitis penyair, tak seindah novelis, dan tak sehebat karya penulis. Asalkan kita bisa mengaktualisasikan ide dengan sederhana namun jelas, dan apa (baca: tema) yang ingin kita sampaikan mengena, itu sudah
cukup. Setiap orang memiliki kedudukan dan hak yang sama untuk bisa menangkap inspirasi. Begitupun untuk mengaktualisasikannya.

Pancoran, 9-Des-’03
(c) Gus John

November 3, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar