*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#162: Cermin Diri

Di sebuah kehidupan “Antah Berantah“, ada sebuah cerita yang tragis; ketika seorang yang sangat potensial, akhirnya tersingkir dari pusat kekuasaan. Banyak orang tidak mengira, orang secerdas, sepandai itu bisa terpinggirkan dari lingkungan yang kompetitif dan luar biasa bagusnya. Ironisnya, tidak ada satupun yang mau menolongnya.

Kita boleh melihatnya sebagai sebuah kewajaran, proses rotasi yang lumrah. Sebagai proses pembelajaran. Bagi orang yang “waras”, instropeksi diri adalah hal terpenting dalam menyikapi hal tersebut. Melihat dari bingkai kacamata positif; sebagai cobaan. Ketika satu orang melihat hal tersebut akibat dari kesalahan yang bersangkutan, itu masih wajar. Tapi ketika lebih dari satu orang mengatakan itu hal yang wajar yang harus diterimanya, maka yang bersangkutan seharusnya perlu cermin diri.

Tapi bagi orang yang tidak memiliki “cermin diri” yang bagus, bisanya hanya mengumpat, mencari kesalahan-kejelekan mantan atasan, menebar kebencian, dan tidak senang dengan kemajuan teman. Krasak-krusuk dan bikin onar.
***
Cermin dalam istilah Jawa adalah ‘pengilon‘. Cermin digunakan untuk melihat kerapihan kita sebelum bepergian meninggalkan rumah. Berangkat ke kantor, rapat RT, pergi ke mall, mau pergi arisan dan lain-lain. Sebelum keluar rumah mampir dulu ke cermin. Apakah dandanan kita sudah rapi? Apakah pakaian kita sudah pantas?

Dalam terminologi kehidupan, cermin (diri) bisa diartikan sebagai self-instropection (instropeksi diri), self-correction (koreksi diri), muhasabah; yakni orang yang memiliki kepekaan, mau mendengarkan kritik-saran orang lain. Baca lebih lanjut

Iklan

Desember 4, 2009 Posted by | Ideologi Sikap Otak | | 3 Komentar

Negeri Para Bedebah

Oleh: Adhie M. Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.

Source:
http://jakartatoday.tumblr.com/post/230443828/negeri-para-bedebah-by-adhie-massardi

November 11, 2009 Posted by | Ideologi Sikap Otak | Tinggalkan komentar

#143: Antara Hukum dan Premanisme

WW_001Jika kasus Antasari dkk ini benar; Inilah potret buram wajah negeri kita tercinta ini; Indonesia. Premanisme berbaju aparat.

Enak benar jadi pejabat, petinggi aparatur negara, bisa main bunuh orang seenaknya dengan iming-iming kenaikan pangkat. Murah benar nyawa manusia di bumi pertiwi ini. Jika seorang Nasrudin yang direktur saja dengan mudah dihilangkan nyawanya dengan banderol 500 juta rupiah, lalu bagaimana dengan kita (-kita) ini yang hanya seorang buruh kecil, petani kecil, tukang becak, tukang ojek? Berapa harga nyawa kita?

Kolaborasi antara pejabat KPK – pengusaha – pejabat Polri ini akhirnya terungkap dengan cepat (luar biasa!!!). Terlepas salah-benarnya, bahwa terjadi distorsi “demi bela negara” sehingga perlu melenyapkan nyawa orang; apa iya semudah itu? Bealajar dari kasus ini, sudah berapakah nyawa manusia Indonesia yang telah lenyap tanpa terungkap?

Antasari-Wiliardi-Sigit HW mungkin sedang kena hari sial. Banyak kasus kejahatan yang melibatkan pejabat biasanya “aman-aman” saja. Dan baru terungkap kalau sang tokoh dianggap “mengganggu stabilitas kekuasaan” dan tidak memiliki patron ke partai politik besar.

Kali ini, mereka kena batunya. Sebagai rakyat, hikmah dari kasus AA-SHW dan WW ini: Pertama, kerja aparat penegak hukum patut diacungi jempol. Harusnya begitu mereka bekerja; tanpa pandang bulu. Jangan karena pejabat “bulunya tebal”, tidak pernah diungkap, tapi maling ayam/rakyat kecil yang “bulunya tipis” dengan mudah dijebloskan ke penjara. Baca lebih lanjut

Mei 8, 2009 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , , | 1 Komentar

#142: Hukum Tarik-Ulur??

antasari3Gambar sebelah ini begitu ironi. Orang yang dulunya gigih dalam menjebloskan orang ke tahanan, kini gantian digelandang masuk tahanan. Dengan baju tahanan berwarna jingga, celana kolor krem dipadu dengan sandal jepit biru, Antasari Azhar akhirnya ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Putra Rajawali Banjaran.

Kasus mantan Ketua KPK, Antasari Azhar ini memang “luar biasa”. Jadi tersangka cukup dalam hitungan hari (satu minggukah?) saja. Selama ini, kasus-kasus yang melibatkan pejabat negara biasanya “tak berbekas”. Sangat mustahil bisa selesai secepat itu.

Mungkin, kasus Antasari ini perlu masuk dalam catatan MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai sebuah “prestasi” buat penegak hukum yang tegas; tidak pandang bulu. Harusnya memang begitu. Tapi -ma’af, orang awam (baca: bodoh) juga paham. Segala ketidakmustahilan di negeri ini biasanya selalu memiliki motif politik.

Tidak hanya Antasari, tapi juga penangkapan Emron Pangkapi, Ketua DPP PPP saat Rapimnas PPP di Bogor dengan kasus yang terjadi di tahun 1998/1999 (jauh banget, 10 tahun baru diungkit), atau Muchdi PR dengan kasus Munir-nya. Uniknya, semua ditangkap pada saat kita sedang sibuk Pemilu, sibuk akan pilpres, sibuk KPK mau memanggil KPU dalam kasus DPT (Daftar Pemilih Tetap) dalam pemilihan legislatif kemarin yang amburadul.

Terlepas benar-tidaknya ada “motif politik” di balik kasus Antasari ini, catatan penting buat kita semua adalah bahwa orang kebal suap belum tentu kebal perempuan. Sesuai dengan dalil agama tiga hal godaan di dunia adalah: harta, tahta dan wanita.  Dari proses hukum yang berjalan, peran Rani Juliani, si wanita penggoda itu dianggap sebagai pemicu terjadinya pembunuhan ini. Baca lebih lanjut

Mei 7, 2009 Posted by | Ideologi Sikap Otak, SOROT & Berita | , | Tinggalkan komentar

#124: Rintihan (2)

taken from #087:

“Kepalaku penat. Syaraf otakku berdenyut-denyut seolah-olah ingin
ambrol saja. Inspirasi dan ide begitu banyak, tapi sulit untuk kutuangkan dalam tataran teks. Ide, inspirasi, asumsi, hipotesa, semua bercampur menjadi satu. Berbaur, seiring dengan telingaku yang mendengar berita, mataku yang melihat dan membaca, dan otakku yang kemudian melakukan analisa. Semua bergelindan menjadi satu.

Dadaku serasa bergetar. Denyut jantungku berdecak keras. Terlalu banyak ide menimbulkan pergulatan pikiran di dalam batin. Ide-ide itu mengisi setiap relung-relung otak, seperti halnya arus Ciliwung yang mengalir deras melewati kanal-kanal”.

Kali itu kini berwarna coklat, penuh berisi. Sampah-sampah berselancar terbawa arus air yang kuat. Jakarta terancam banjir lagi. Ini bulan Februari, dan itu sudah biasa tiap tahunnya.

back to #087:

“……….Telah kutemukan hipotesa tentang nasionalisme yang lebih bersifat fisik, atau aku menyebutnya sebagai “nasionalisme semu” di kalangan militer. Kebobrokan negara karena kebijakannya yang cenderung a-historis; mengangkangi hukum di bawah daulat kekuasaan. Tentang kerajaan nusantara; kaitannya dengan kehidupan sekarang. Atau tentang Banjir Kanal Timur dan kebijakan-kebijakan Pemprov DKI dengan segala kontroversinya. Dan masih banyak lagi yang lain. Duh, begitu banyaknya……” Baca lebih lanjut

Februari 10, 2009 Posted by | Ideologi Sikap Otak | | Tinggalkan komentar

#115: Diaudit Kok Takut??

“Diaudit kok takut??”, kata seorang teman.

Kalau SOP beres, Bisnis Process beres, dokumentasi beres, kenapa orang mesti takut diaudit sehingga menyebabkan paranoid dan keluar pernyataan2 yang tidak mencerminkan jabatan yang disandang??

Asalkan, semua syarat, work-flow kita lakukan dengan benar, dengan hati bersih, kita tak perlu takut diaudit. Karena audit tidak akan keluar dari SOP, aturan yang kita buat sendiri. Audit bukanlah hantu, tapi pemberi solusi jika ada kekurangan/kelemahan.

Kalau kita bukan penjahat. Kita bukan maling, dan kita bukan penipu, harusnya kooperatif dengan tim audit. Kalau ada kelemahan, kekurangan itu menjadi PR bersama untuk diperbaiki. Kita sama-sama cari solusi demi kemajuan perusahaan. Kalau hanya bisa saling menyalahkan, mending jadi anggota Dewan saja.

So, kenapa harus takut diaudit??

October 22nd, 2008
(c) aGus John

November 3, 2008 Posted by | Ideologi Sikap Otak | | Tinggalkan komentar