*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#110: Akar Terorisme

Ketika Abu Dujana yang dianggap sebagai jaringan Noordin M. Top dan Dr. Azhari tertangkap, maka ada pernyataan menarik dari salah satu anggota Jama’ah Islamiyah (JI) yang sudah insyaf. Orang itu bilang, di Indonesia sangat berkembang subur akar terorisme dikarenakan 3 (tiga) hal: Pertama, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Kedua, rendahnya tingkat taraf kehidupan (ekonomi), dan ketiga, lemahnya hukum.

Hukum di Indonesia memang harus diakui lemah. Hukum lebih efektif buat rakyat jelata, bukan untuk pejabat atau penguasa. Hukum bisa tebang pilih, bisa pilih kasih. Di sini, penegakan hukum seperti main gaplek. Dimainkan jika dibutuhkan. Ada “kartu As”. Ada “kartu balak”. Tergantung kebutuhan. Baca lebih lanjut

Iklan

Juli 10, 2008 Posted by | Religi | , | 1 Komentar

#108: Konflik (Politik) Ulama

Menurut (almarhum) KH Ali Ma’shum, “jati diri” NU sesungguhnya terletak pada kepemimpinan ulama. Sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, NU merupakan pengejawantahan dari ide para ulama. Di NU, ulama tidak hanya sekedar dijadikan sebagai simbol, tapi mereka juga memiliki posisi dan tanggung jawab yang tertinggi. Segala keputusan yang dikeluarkan NU, menjadi tanggung jawab dan berada di pundak mereka. Mereka pula yang berkewajiban menuntun umat menuju kebahagian di dunia dan akherat. Karena sangat dominannya posisi ulama, maka kepribadian NU sejak berdirinya (1926) hingga sekarang masih tetap utuh, tidak terpengaruh oleh perubahan situasi dan tidak tumbang oleh kemajuan zaman.

Karenanya, sungguh sangat ironis dan menjadi persoalan yang serius, bila ulama yang memiliki posisi utama dan seharusnya menjadi tokoh panutan masyarakat tersebut, kemudian mengalami konflik di antara sesama mereka sendiri. Baca lebih lanjut

Mei 28, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , , | 1 Komentar

#107: Gus Dur: sebuah Potret Gandhi Modern

Ratusan orang seperti saya boleh enyah, tetapi biarlah Kebenaran bertahta.”
–Mahatma Gandhi.

Potret Singkat Gandhi. Mahatma Gandhi merupakan “Bapak sekaligus Guru Bangsa” bagi India. Tokoh besar yang lahir di Gujarat, 2 Oktober 1869 ini, pada awalnya sangat berniat untuk bisa mempersatukan Hindu-Islam dalam format satu negara; India, setelah sebelumnya berhasil membebaskannya dari penjajahan Inggris. Sayang, harapannya itu kandas. Sang “Jiwa Agung”
(Mahatma) itu meninggal sebelum harapannya terwujud.

Meskipun demikian, Gandhi, dengan niat yang kuat dan ketulusannya, telah menjadi suri tauladan keberanian dan integritas untuk rakyat India dalam perjuangan politik mereka melalui jalan non-kekerasan. Lebih dari setengah abad setelah kematiannya, Gandhi masih menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia (Stanley Wolpert, Mahatma Gandhi: Sang Penakluk Kekerasan Hidupnya dan Ajarannya, Murai Kencana:2001).

Gandhi memang seorang tokoh besar. Jalan yang ditempuh Gandhi lahir dari semangat kesadarannya yang luas tentang berbagai penderitaan sebagai sarana mencapai kebenaran Ilahi. Suatu “isme” yang kemudian dikenal sebagai ajaran Gandhi; “satyagraha” (kekuatan kebenaran), “ahimsa” (anti kekerasan) dan “passion” (menderita karena luka). Baca lebih lanjut

Maret 29, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 2 Komentar

#004: Setan Di Antara Diskusi Para Wali

Alkisah, dalam sebuah sidang yang diadakan oleh Wali Songo di Masjid Demak, terjadilah perdebatan sengit antara Sunan Kalijaga versus Sunan Kudus. Padahal, diskusinya berawal dari membahas masalah yang sangat sederhana; bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan oleh para wali melihat mundurnya Kerajaan Majapahit.

Diskusi yang diawali dengan begitu tenang, kemudian menjadi berubah.Bukannya membahas masalah Majapahit, tapi diskusi para wali itu menjadimeruncing tatkala Sunan Kudus menyindir pakaian yang digunakan SunanKalijaga. Menurut Sunan Kudus, pakaian yang dipakai Sunan Kalijaga tidak”Islami”, dan dia juga mengungkit-ungkit soal penggunaan bunga setandan(kemenyan) dalam tradisi Jawa.

Menanggapi pernyataan Sunan Kudus yang tajam seperti itu, Sunan Kalijaga menjawabnya dengan santai. Tak mau kalah, Sunan Kalijaga kemudian menjawab, “Fungsi bunga setandan itu untuk membuat bau yang harum. Agama kita mengajarkan untuk menggunakan bau-bauan yang wangi. Orang Jawa, identik dengan kemenyan. Apa salahnya kalau bunga itu dimanfaatkan agar dapat memperkhusyu’ ibadah?”

“Masalah pakaian yang saya kenakan, bukankah ajaran agama kita lebih mengutamakan menutup aurot daripada terpaku pada formalitas pakaian belaka?”, sindir Sunan Kalijaga dengan santun.

“Lebih baik begini, tapi aurat tertutup,” ujar Sunan Kalijaga kemudian. Sunan Kudus yang merasa pakaiannya terbuka (tersingkap) hingga lutut, kemudian cepat-cepat menutup auratnya yang terbuka itu. Diskusi pun kemudian terbawa ke hawa panas. Suasana sidang diskusi para wali menjadi tegang.

Untunglah dengan bijaksana, Sunan Ampel segera mengingatkan mereka berdua. “Saudara-saudara, setan telah menghinggapi di hati saudara-saudara. Sudahlah dihentikan saja diskusinya”.

Para wali menundukkan kepala.Merekapun kemudian mengucapkan istighfar. Mohon ampun pada Allah. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Religi | , , , , | Tinggalkan komentar