*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#019: Memilih: Nasionalisme, atau Separatisme?

Suatu malam, di awal bulan Juni. Tiga orang teman aktivis dari LembagaSwadaya Masyarakat (LSM), datang silaturahmi ke rumah penulis. Kita ngobrol banyak hal hingga larut malam, ketika pada saat itu sahabat karib penulis, Noka Robeth juga menghubungi penulis untuk membicarakan soal masa depan IAW.

Menerima teman-teman aktivis LSM dan politik di rumah adalah hal yang biasa, karena kita sering melakukan sharing informasi, kapan dan di mana saja. Kebetulan, mereka sudah lama tidak mampir ke rumah, dan baru bisa datang malam itu.

Banyak tema yang kita bahas, tapi satu tema yang menarik adalah soal pelaksanaan Darurat Militer di Aceh. Mereka bercerita, kalau TNI sudah banyak melakukan pelanggaran HAM di Aceh. Mulai dari aksi intimidasi terhadap warga sipil, mengisolasi ruang gerak bagi aktivis LSM, hingga penyempitan akses bagi pers. Dalam perspektif mereka, tindakan yang telah dilakukan TNI di Aceh, harus segera dihentikan.

Selama beberapa saat penulis terdiam, hanya menjadi pendengar yang baik.Saya biarkan saja mereka bicara, mengeluarkan uneg-unegnya tentang TNI. Ketika mereka selesai, barulah penulis katakan, “Saya pun tercatat sebagai anggota LSM seperti Anda. Tapi saya punya cara pandang yang berbeda dengan Anda dalam memaknai konflik bersenjata di Aceh”.
Mereka sontak terdiam. Kini mereka yang ganti mendengarkan. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 12, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , | Tinggalkan komentar

#018: Kesederhanaan

30 Mei 2003.
Jum’at sore, di Jakarta Hall Convention Center (JHCC). Saya berada di sebuah stand khusus printer warna, sedang bertanya sama sang gadis penjaga stand, mengenai spesifikasi berikut harga dari printer tersebut. Disela-sela obrolan, tiba-tiba seseorang datang menghampiri, dan kemudian menyapa: “Hello, Gus. Apa kabar?” Saya agak tertegun sebentar. Siapakah gerangan orang ramah yang menyapa sahaya?

Setelah lama mengamati, “Masya Allah, P’ Anung?! Apa kabar juga, Pak?” Karena saking gugupnya, saya mengucapkannya pakai bahasa Jawa Kromo-Inggil. Beliau pun membalasnya dengan bahasa yang sama. Seingat saya, orang yang murah senyum ini memang berasal dari Jawa. LulusanITS, kalau tidak salah.

Biar lebih nyantai, saya minta ma’af sebentar pada si mBak penjaga stand, “ma’af, mBak. Saya tinggal ngobrol dulu dengan dosen saya”. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Other | , | Tinggalkan komentar

#017: “Perang Batin” dalam Partai Final*

Menyaksikan secara langsung kemenangan tim putra Jakarta Phinisi atas Surabaya Flame, 3-2, dalam partai final ProLiga 2003 [20/4], memang cukup menyesakkan dada, mengingat penulis sangat menjagokan Flame bisa menjadi juara ProLiga tahun ini. Paling tidak, itu untuk mengobati kekalahan mereka tahun lalu ketika peluangnya dikandaskan oleh Bandung Tectona, 2-3 di partai final, juga melalui proses kekalahan yang memilukan –setelah lebih dulu unggul 2-0.

Lebih menyesakkan lagi, kekalahan Flame atas Phinisi dalam final kali ini terjadi, setelah Flame terlebih dulu unggul 14-12 di set ke-5, yang akhirnya harus menyerah 17-19. Tapi, meskipun Flame kalah, penulis lumayan bisa terhibur, karena kunci di balik sukses Phinisi meraih juara ProLiga tahun ini, tak bisa dilepaskan dari peran sentral dan sosok sang tosser, LoudryMaspaitella.

Tosser kawakan yang kini berusia 34 tahun itu, merupakan idola penulis sejak SMP, ketika masih terobsesi untuk bergabung dengan klub Petrokimia Gresik. Loudry, adalah fenomena bagi masyarakat Jawa Timur dan dunia bola voli nasional di era akhir 80-an dan 90-an. Bersama Syamsul Jaiz [pelatih BandungArt-deco sekarang, juara ProLiga tahun ini], Jalu Sudiro, Dennis Taroreh dll, mereka adalah pilar-pilar utama tim Petro, tim PON Jawa Timur dan jugatim nasional. Bersama timnas, Loudry mampu merebut medali emas bola voli SeaGames 1997 di Jakarta, setelah di final mampu menumbangkan Thailand. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Olahraga | , | 1 Komentar

#016: Pendatang Baru, Juara Baru*

Tim debutan baru, Bandung Art-deco sepertinya tidak punya lawan. Dalam 10 pertandingan di babak penyisihan, mereka hanya mengalami satu kali kekalahan dari Gresik Phonska. Di pertandingan final kemarin, bertemu dengan Phonska, pertandingan berjalan kurang menarik.

Permainan berjalan kurang seimbang. Skor telak akhirnya untuk Art-deco, 3-0. Publik memang sudah menduga, the real-final di bagian putri sebenarnya sudah terjadi di semifinal Jum’at[18/4] lalu, ketika Artdeco menumbangkan juara tahun lalu, Jakarta Monas dengan skor 3-1.

Kemenangan Li Wen dkk atas Sentya dkk ini sekaligus menunjukkan bahwa kemenangan Phonska atas Art-deco ketika bertanding di depan publik Gresik pada putaran pertama lalu, patut dipertanyakan kembali.

Dari sisi skill, pemain-pemain Phonska lebih merata. Spike-spike yang dilancarkan juga cukup tajam. Sentya Angelita, Purwitasari, Maya dan Santi dikenal punya spike yang bagus. Namun sayang, faktor mental dan antisipasi setiap serangan dari Art-deco yang selalu bertumpu pada Li Wen dan He Shan kurang dipahami. Ini beda dengan Jakarta Monas, yang sedikit banyak mampu membuat frustasi Li Wen dkk di pertandingan semifinal, karena spike-spike mereka mampu diblok oleh Siti Nurjanah dkk. Paling tidak, hal itu bisa dilihat di set-1, ketika Monas mampu mencuri set dalam pertandingan tersebut. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Olahraga | , , | Tinggalkan komentar

#015: Memahami Histori, Merajut Silaturahmi

Di ruang lobi Hotel Sabang. Sore ini menjelang malam, penulis bertemu-muka, bersilaturahmi dengan mBak Zahrotul Jannah, alumni angkatan 1 yang kini bekerja di Indosat Semarang. Dalam kacamata penulis, pertemuan ini mengandung beberapa nilai penting, karena memiliki histori yang bisa dijadikan untuk merekatkan silaturahmi antar alumni –dalam kerangka yang lebih luas- di masa yang akan datang. Yakni pertama, pertemuan malam ini akan sangat menentukan terbentuknya Ikatan Alumni Wikusama (IAW) untuk wilayah Jawa Tengah, khususnya di Semarang.

Kedua, penulis sangat menghormati sosok perempuan berjiwa aktivis yang sedang hamil tujuh bulan ini, karena beliaulah yang pertama kali memperkenalkan organisasi kepada penulis, ketika di STM dulu. Ketiga, bersama dengan beliau dan teman-teman yang lain, kita dulu mampu mendirikan sebuah forum sosial di wilayah Bongkaran, Tanah Abang, Jakpus; sebuah kegiatan sosial yang pertama kali dilakukan oleh Wikusama, yang masih eksis hingga sekarang.

Walaupun singkat hanya 1 jam, tapi kita membahas banyak hal soal alumni. Satu hal yang penting dalam pembicaraan itu adalah, bagaimana IAW yang telah terbentuk, kelak di kemudian hari bisa menjadi pemberi solusi atas berbagai masalah yang terjadi di kalangan alumni –yang masih terjadi hingga saatini. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni | | Tinggalkan komentar

#014: H-2

Acara Temu Alumni STM Telkom Malang, kurang dua hari lagi. Tepatnya Minggu, 4 Mei, ‘kera-kera MTS Moklet Ngalam’ secara resmi akan memiliki sebuah ikatan alumni, yang bernama: Ikatan Alumni Wikusama [IAW]. Sebuah ikatan alumni, yang kelak diharapkan bisa menjadi sebuah “jembatan komunikasi” antara para alumni, perusahaan dan pihak sekolah. Terutama demi kepentingan adik-adik kelas yang belum lulus, dan para alumni yang masih belum menemukan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan.

Mengingat H-2, panitia kelihatan semakin super-sibuk. Noka, K-San, Cipeng, Cho’i, Usma, E-wenk dari angkatan-1. Parjon, Dodik, Patrang, Wanus, Kriwul,Ipin, Kencong, Roy, Lilis dari angkatan-2. Malit, Toha Masykur dari angkatan-3. Dan angkatan-angkatan berikutnya: AWW, Hoodprist, IkaWahyuningsih, Hendra, Wijiasih, Fitri, Ira N, serta panitia lainnya yang belum tersebutkan secara tuntas, tampak semakin intens dengan job-desc-nya masing-masing. Belum itu teman-teman yang sibuk dari Surabaya.

Luar biasa! Mereka punya pekerjaan, ada yang sudah berkeluarga, tapi masih mau dan bersedia meluangkan waktunya untuk ikut andil dalam proses pembentukan ikatan alumni ini; mulai dari awal hingga Minggu besok. Bahkan, mungkin mereka akan tetap konsisten mengawal IAW dalam perjalanannya ke depan.

Temu Alumni besok minggu, yang juga menghadirkan perwakilan guru dari STMTelkom, Malang, memang barulah sebuah awal. Tapi itu langkah permulaan yang bagus, mengingat jalan yang harus ditempuh IAW masihlah panjang dan berliku. Sudah banyak gagasan dan ide yang tertampung, tapi itu tentu membutuhkan proses dan waktu untuk mengaktualisasikan konsep-konsep tersebut. Plus, konsistensi; satu hal yang dengan setia selalu mengiringi proses dan waktu, bila ingin mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan.

Landasan berpikir yang terpenting: IAW adalah milik bersama. Milik semua alumni Wikusama, tanpa terkecuali. Karenanya, setiap individu dalam IAW memiliki hak yang sama di mata organisasi. Masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan bagi kemajuan IAW. Maju dan tidaknya IAW adalah menjadi tanggung jawab kita bersama. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni | | Tinggalkan komentar