*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#137: Sunan Gunung Jati: Sekitar Komplek Makam dan Sekilas Riwayatnya (Res:)

sgj-cover1Judul : Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya
Penulis :
Hasan Basyari

Penerbit :
Zulfana Cirebon
Tahun : 1989
Tebal : 63 halaman

Syarif Hidayatullah atau yang sering disebut dengan Sunan Gunung Jati merupakan salah satu anggota Wali Songo; penyebar agama Islam di Jawa di era Majapahit akhir. Dia adalah seorang raja (pemimpin rakyat), sekaligus wali (pemimpin spiritual, muballigh, da’i) dan sufi.

Dia adalah Putra dari Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma’iliyah Arab Saudi –bukan dari Aceh. Dia juga bukan Fatahillah atau Faletehan seperti yang disebut-sebut dalam sebagian catatan sejarah. Faktanya adalah terdapat makam Fatahillah (Ki Bagus Pasai) di sisi makam Sunan Gunung Jati. Lagipula, Sunan Gunung Jati hidup di era Raden Patah, Sultan Demak pertama. Sedangkan Fatahillah datang dari Aceh pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, sultan Demak ke-3 setelah Dipati Unus. Repotnya, pembuktian oleh masyarakat umum sangatlah sulit akan keberadaan makam dua tokoh yang berbeda tersebut, karena adanya batasan masyarakat umum tidak diijinkan untuk bisa masuk mencapai pintu ke-9, tapi hanya sampai pintu ke-2 saja.

Di sinilah menariknya isi dari buku ini. Buku karya lokal yang membahas orang paling berpengaruh di Cirebon tersebut dibagi dalam 5 bab; “Gunung Jati sebagai pangguron Islam”, “Pertamanan Gunung Sembung”, “Sunan Gunung Jati bukan Fatahillah”, “Komplek pemakaman Gunung Sembung”, dan “Tradisi Ziarah” disertai lampiran “Do’a silsilah Gunung Jati dan Ratib Al-Haddad”.

***
Permulaan abad XV agama Islam sudah berkembang di Jawa, terutama di Gresik, Jawa Timur dengan Maulana Malik Ibrahim -anggota sekaligus sesepuh Wali Songo- yang membuka pesantren bagi siapa saja yang berminat belajar Islam. Para santri datang dari berbagai penjuru, dan hanya sedikit yang datang dari Jawa Barat. Saat itu, Jawa Barat di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang Hindu, termasuk Gunung Jati yang masuk wilayah administratif  Singapura (Celancang), bawahan Pajajaran (Bab I).

Gunung Jati yang terletak di tepi pelabuhan Muara Jati sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari manca negara.  Penguasa negerinya sangat bijaksana, adalah Ki Gede Surawijaya dengan syahbandar bernama Ki Gede Tapa atau Ki Jumajan Jati yang juga santri di Pangguron Islam Syekh Quro’ Krawang. Pedagang banyak yang datang dari Cina, Gujarat (barat India), dan Arab yang berdagang sambil berdakwah Islam. Lambat-laun, terjadi evolusi perubahan agama dari Budha ke Islam.

Sekitar tahun 1420M datanglah serombongan pedagang dari Baghdad yang dipimpin Syekh Idlofi Mahdi. Oleh Ki Surawijaya, Syekh Idlofi diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yang terletak di Gunung Jati. Dia berdakwah, dan ajaran Islam berkembang begitu cepat. Itulah awal mula Gunung Jati sebagai Pangguron Islam. Muridnya diantaranya adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Keduanya adalah putra Raja Pajajaran, Raden Pamanarasa (Prabu Siliwangi) dengan Nyi Mas Subanglarang putri Ki Jumajan Jati, Syahbandar Pelabuhan Muara Jati. Karena pengaruhnya yang sangat besar bagi masyarakat sekitar, Syekh Idlofi juga disebut Syekh Dzatul Kahfi (“sesepuh yang mendiami gua”) atau Syekh Nur Jati (“sesepuh yang menyinari atau menyiarkan Gunung Jati”).

Setelah dianggap mumpuni, Walangsungsang bersama adik dan istrinya diperintahkan oleh Syekh Idlofi agar membuka hutan untuk dijadikan pedukuhan yang lokasinya di selatan Gunung Jati (Bab II). Setelah selesai babat alas, pedukuhan itu disebut Tegal Alang-Alang dan Walangsungsang diangkat sebagai Kepala Dukuh dengan gelar Ki Kuwu dan dijuluki Pangeran Cakrabuana.

Pedukuhan itu berkembang pesat. Banyak pedagang membuka pasar dan kemudian menetap di pedukuhan itu. Karena multi ras, maka nama Tegal Alang-Alang lambat-laun luntur menjadi Caruban (pertautan). Di samping itu, nama ini disebabkan karena sebagian besar warganya bekerja sebagai pencari ikan dan mmebuat petis dari air udang yang dalam bahasa Sunda disebut “Cai Rebon”, maka lama-lama menjadi Cirebon.

Atas perintah Syekh Idlofi, Cakrabuana dan Rarasantang pergi ibadah haji, sementara istrinya yang lagi mengandung tetap di Caruban. Pedukuhan kemudian diserahkan ke Ki Pengalang-Alang (Ki danusela). Di Mekkah, keduanya bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanillah. Rarasantang kemudian disunting oleh seorang pembesar Kota Isma’iliyah bernama Syarif Abdillah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Rarasantang kemudian berganti nama Syarifah Muda’im. Dari perkawinan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.

silsilah-sgj

Sekitar tahun 1456 M, Cakrabuana pulang kampung. Pedukuhan Caruban yang berkembang pesat kemudian diganti namanya menjadi Nagari Caruban Larang. Negeri ini diresmikan oleh Prabu Siliwangi -meskipun secara prinsip Raja Pajajaran ini kurang berkenan atas tindakan anaknya tersebut- dan Cakrabuana diberinya gelar “Sri Manggana“.  Cakrabuana lalu membangun Istana Pakungwati, sesuai nama puterinya yang lahir ketika dia masih di Mekkah.

Untuk kunjungan tetapnya ke Syekh Idlofi, Cakrabuana membangun tempat peristirahatan yang disebut pertamanan Gunung Sembung. Lokasinya berada di sebelah barat Gunung Jati, jaraknya sekitar 200m. Pada akhirnya pertamanan ini menjadi pemakaman pendirinya berikut keturunannya.

***
Syarifah Muda’im dan Syarif Hidayatullah -yang saat itu berusia 20 tahun- mudik ke Cirebon, sementara Syarif  Nurullah sang adik, menggantikan posisi ayahnya sebagai pembesar Kota Isma’iliyah (Bab III). Sekitar tahun 1475 M mereka tiba di Caruban.  Oleh Cakrabuana, keduanya diperkenankan menetap di pertamanan Gunung Sembung, sekaligus sebagai penerus Pangguron Gunung Jati yang saat itu Syekh Idlofi sudah wafat.Pangeran Cakrabuana kemudian menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Tahun 1479M, Cakrabuana yang sudah berusia lanjut digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya, Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan atau Sunan.

Di awal pemerintahannya, Syarif Hidayatullah sowan ke kakeknya, Prabu Siliwangi sekaligus mengajak untuk memeluk agama Islam. Namun, Sang Prabu menolak, tapi tetap mengijinkan cucunya untuk menyebarkan Islam di wilayah Pajajaran.  Dia kemudian mengembara ke Banten. Di sana, dia disambut dengan baik, bahkan dinikahkan dengan putri Adipati Banten, Nyi Ratu Kawungaten. Dari pernikahan ini lahirlah Nyi Ratu Winaon dan Pangerang Sabakingking.

Peran dakwah Syarif Hidayatullah didengar sampai di Kerajaan Demak yang baru berdiri 1478M. Dia kemudian diundang ke Demak dan ditetapkan sebagai “Penetap Panata Gama Rasul” di tanah Pasundan dengan gelar Sunan Gunung Jati, sekaligus berdirilah Kesultanan Pakungwati dengan gelar Sultan. Karena merasa mendapatkan dukungan dari Demak, Cirebon tidak lagi mau membayar upeti -sebagai bukti ketundukan- pada Pajajaran. Marahlah Prabu Siliwangi. Dikirimlah 60 pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Jagabaya untuk menangkap cucunya. Tapi usaha ini sia-sia. Pasukan Pajajaran itu berhasil dilumpuhkan oleh Cirebon. Mereka menyerah bahkan bergabung dengan Cirebon. Wilayah Cirebon semakin luas. Negeri-negeri yang sebelumnya di bawah Pajajaran seperti Surantaka, Japura, Wanagiri, Galuh, Talaga dan Singapura melebur bergabung dalam kedaulatan Cirebon.

Pembauran multi ras terjadi di Cirebon. Kakak Ki Gede Tapa (Ki Jumajan Jati) -kakek Sunan Gunung Jati, Nyi Rara Rudra menikah dengan saudagar Tiongkok/Cina, Ma Huang yang kemudian bergelar Ki Dampu Awang. Oleh Kaisar Tiongkok, Sunan Gunung Jati dijadikan menantu dinikahkan dengan Ong Tien (1481M), yang kemudian ganti menjadi Nyi Ratu Rara Sumanding. Pernikahan ini dilakukan setahun setelah Mesjid Agung Sang Ciptarasa dibangun (1480M).

***
Malaka diduduki Portugis pada tahun 1511M. Kerajaan Demak mengirim pasukan yang dipimpin Dipati Unus (Pangeran Sabrang Lor) dengan dibantu oleh negeri-negeri sahabat. Cirebon bertugas mempertahankan Sunda Kelapa (Jayakarta). Pasukan Demak bisa dipukul mundur. Mereka balik ke Jawa. Di antara rombongan tersebut, terseliplah Kyai Fathullah atau Fatahillah atau Feletehan, ulama dari Aceh. Pasca Dipati Unus gugur 1521M, Demak dipegang oleh Sultan Trenggono. Fatahillah diangkat sebagai panglima pasukan Demak untuk mempertahankan Sunda Kelapa.

Dengan dibantu pasukan Cirebon, Fatahillah mampu memukul mundur Pajajaran yang berkolaborasi dengan Portugis. Mereka bisa diusir dari Sunda Kelapa di tahun 1522M. Banten di bawah kendali Pangeran Sabakingking, putra Sunan Gunung Jati juga memberikan dukungan yang hebat. Karena keberhasilan Fatahillah dalam memimpin Sunda Kelapa, maka ia juga disebut Kyai Bagus Pasai. Hanya beberapa bulan saja, Fatahillah kemudian kembali ke Cirebon -alasan utamanya adalah ditunjuk oleh Sunan Gunung Jati dalam rangka memperluas wilayah Isllam ke negeri-negeri sekitar Cirebon (seperti: talaga, Rajagaluh). Padat saat yang bersamaan, Sunan Gunung Jati menikah lagi dengan Nyi Ageng Tepasari putri Ki Ageng Tepasan, seorang mantan pembesar Majapahit. Hal ini karena Nyi Pakungwati meninggal -tidak punya anak- dan Nyi Ong Tien juga tidak dikaruniai anak. Dari perkawinan ini lahirlah Ratu Wulung Ayu dan Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean) yang kelak akan menggantikannya.

Selesai penaklukan negeri sekitar, Fatahillah menikah dengan putri Sunan Gunung Jati, Ratu Wulung Ayu. Bupati Jayakarta diserahkan ke Ki Bagus Angke. Pangeran Pasarean naik menggantikan Sunan Gunung Jati menjadi Sultan ke-2 Cirebon dengan penasehat politiknya, Fatahillah. Pangeran Sabakingking dinobatkan sebagai Sultan Banten pertama dengan gelar Sultan Maulana Hasanuddin.  Tahun 1552M, Pasarean meninggal mendahului ayahnya. Karena anak-anaknya masih kecil, Sunan Gunung Jati kemudian mengangkat anak angkatnya, Aria Kamuning sebagai Sultan ke-3 Cirebon dengan gelar Dipati Cirebon I. Menikah dengan Nyi Ratu Wanawati putri Fatahillah, Aria Kamuning dikaruniai empat putra, yaitu: Nyi Ratu Ayu, Pangeran Mas, Pangeran Manis dan Pangeran Wirasaba.

Tahun 1568M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun.  Dua tahun kemudian Fatahillah menyusul. Keduanya dimakamkam secara berdampingan dan tidak diperantarai apapun. Ini menjadi bukti bahwa kedua tokoh tersebut memanglah beda.

Pada masa pemerintahan Sultan ke-VI Pangeran Karim (Panembahan Girilaya), Mataram yang sudah pro-VOC (Sunan Amangkurat I) mengundang menantunya itu untuk datang ke Mataram. Bersama istri dan kedua anaknya -kecuali Pangeran Wangsakerta- hadir ke Mataram. Karena kecurigaan Mataram, keempatnya ditahan untuk tidak kembali ke Cirebon. Panembahan Girilaya meninggal dan dimakamkan di Bukit Wonogiri (1667M), sedang kedua putranya pulang ke Cirebon. Atas kebijakan Sultan Banten, An-Nasr Abdul Kohar, agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka dipecahlah Cirebon menjadi tiga bagian; Kasepuhan dipegang Pangeran Martawijaya yang kemudian bergelar Sultan Raja Syamsudin, Kanoman dipegang Pangeran Kertawijaya bergelar Sultan Moh. Badridin, dan Pangeran Wangsakerta diberi bagian Kacirebonan dengan gelar Panembahan Tohpati. Peristiwa ini terjadi di tahun 1667M. Sesuai kesepakatan, hanya Kasepuhan dan Kanoman yang memakai gelar Sultan.

Berikut adalah silsilah raja-raja Cirebon:

silsilah-cirebon1

Hal-hal unik tentang pemakaman Gunung Sembung ini adalah; Pertama, pemakaman tersebut dibagi dalam 9 pintu untuk menuju makam Sunan Gunung Jati di bagian tertinggi. Masyarakat awam dengan alasan keamanan hanya diperbolehkan ziarah sampai di depan pintu ke-3. Kedua, untuk penziarah Tionghoa, disediakan ruangan khusus bagian barat serambi muka.

Ketiga, tiga kali seminggu makam-makam tersebut dibersihkan dan diperbarui bung-bunganya oleh para juru kuncen. Secara rutin pintu Selamatangkep (pintu ke-2) yang membuka pemandangan ke cungkup makam Sunan Gunung Jati dibuka setiap Jum’at. Dan juga dibuka setiap pergantian petugas pada sore hari setiap setengah bulan. Pada saat terbukanya pintu inilah yang biasanya dimanfaatkan oleh pengunjung umum untuk bisa melihat makam Sunan Gunung Jati.

Keempat, juru kuncen makam berjumlah 108 orang yang berprofesi secara turun-temurun. Mereka berasal dari Keling (Kalingga) -kira-kira Kediri, Jawa Timur saat ini.

Berikut denah komplek pemakaman Gunung Sembung:
denah-makamKeterangan denah makam:
1. Sunan Gunung Jati, 2. Fatahillah, 3. Syarifah Muda’im, 4.Nyi Gedeng Sembung (Nyi Qurausyin), 5. Nyi Mas Tepasari, 6. Pangeran Cakrabuana, 7. Nyi Ong Tien, 8.  Dipati Cirebon I, 9. Pangeran Jakalelana, 10. Pangeran Pasarean, 11. Ratu MAs Nyawa, 12. Pangeran Sedang Lemper, 13. Komplek Sultan Panembahan Ratu, 14. Adipati Keling, 15. Komplek Pangeran Sindang Garuda, 16. Sultan Raja Syamsudin (Sultan Sepuh I), 17. Ki Gede Bungko, 18. Komplek Adipati Anom Carbon (Pangeran Mas), 19. Komplek Sultan Moh. Badridin, 20. Komplek Sultan Jamaludin, 21. Komplek Nyi Mas Rarakerta, 22. Komplek Sultan Moh. Komarudin, 23. Komplek Panembahan Anom Ratu Sesangkan, 24. Adipati Awangga (Aria Kamuning), 25. Komplek Sultan Mandurareja, 26. Komplek Sultan Moh. Tajul Arifin, 27. Komplek Sultan Nurbuwat, 28. Komplek Sultan Sena Moh. Jamiudin, 29. Komplek Sultan Saifudin Matangaji

PINTU SEMBILAN:
I. Pintu Gapura, II. Pintu Krapyak, III. Pintu Pasujudan, IV. Pintu Pasujudan, IV. Pintu Ratnakomala, V. Pintu Jinem, VI. Pintu Raraoga, VII. Pintu Kaca, VIII. Pintu Bacem, IX. Pintu Teratai

LAIN-LAIN:
A. Masjid Sunan Gunung Jati (sebelah timur No. 26),
B. Karas/Lunjuk (tempat istirahat keluarga Kraton setelah naik makam Sunan Gunung Jati),
C. Pintu Mergu (tempat ziarah orang-orang Tionghoa, D. Komplek Sultan Raja Sulaiman,
E. tempat Juru Kuncen menerima tamu-tamu umum, F. Pelayonan: tempat jenasah keluarga Kraton disholati,
G. Balemangu Pajajaran:  hadiah dari Prabu Siliwangi, H. Pintu masuk para peziarah
I. Paseban Soko: tempat permusyawaratan, J. Gedung Jimat: tempat penyimpanan guci-guci Tiongkok
K. Balemangu Trusmi, L. Balemangu Pos Penjagaan, M. Gapura Timur: pintu masuk pertama peziarah umum,
N. Balemangu Majapahit: hadiah Demak, O. Paseban Besar : pendopo tempat penerimaan tamu-tamu kehormatan

***
Beberapa hal yang menjadi catatan (baca: kritikan) saya tentang sejarah yang dicatat dalam buku ini adalah: Pertama, adanya pengeramatan makam Sunan Gunung Jati secara berlebihan. Kalau bukan keluarga kraton atau keturunan kasultanan Cirebon, tidak boleh masuk sampai ke makam. Levelisasi/kastanisasi pengunjung terlihat jelas dengan dibuatnya 2 pintu masuk yang berbeda. Jika untuk pengunjung umum, maka melalui pintu “Gapura Timur” (pintu umum/pintu timur), yakni pintu ke-2 dari 9 pintu yang ada. Sedangkan bagi pengunjung/tamu kehormatan boleh melewati “Paseban Besar” (pintu tengah).

Apakah karena Sunan Gunung Jati itu seorang wali sekaligus raja sehingga akses peziarah sangat dibatasi? Tentu tidak, karena Sunan Giri yang seorang pemimpin pemerintahan pun akses ziarah langsung ke makam tidak sesulit seperti di Cirebon. Pihak pengelola makam (kebijakan kraton) beralasan, agar barang-barang di dalam makam tidak hilang, sehingga pengunjung umum cukup sampai di pintu-2 saja.

Kedua, banyaknya pengemis di sekitar lokasi makam dengan tingkah laku yang sangat tidak sopan, bahkan sedikit memaksa para pendatang (penziarah) untuk memberikan sedekah.

Ketiga, komersialisasi yang terlalu berlebihan. Juru kuncen (penunggu makam) seperti “terlalu berharap” (mengarahkan) agar para tamu sebelum melakukan ziarah untuk memberi sedekah seikhlasnya. Begitupun tukang parkirnya.

Ketiga catatan di atas, belum pernah saya temukan jika berziarah ke makam-makam Wali Songo yang lain. Kalaupun ada pengemis, masih sangat sopan dan tidak memaksa. Tidak seribet di Cirebon ini!

© aGusJohn,
Lembah Ciangsana, 01 April 2009

About these ads

April 1, 2009 - Posted by | Religi, RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , ,

47 Komentar »

  1. ceritanya mantaaabbb !!!

    Komentar oleh Mardiansyah | April 3, 2009

  2. terima kasih, kritik dan masukan Anda sangat kami tunggu.

    Komentar oleh agusjohn | April 3, 2009

  3. Great site this ayunara.wordpress.com and I am really pleased to see you have what I am actually looking for here and this this post is exactly what I am interested in. I shall be pleased to become a regular visitor :)

    Komentar oleh gasysuili | April 5, 2009

  4. th’s, Pak.

    Komentar oleh agusjohn | April 6, 2009

  5. formidable site this ayunara.wordpress.com excellent to see you have what I am actually looking for here and this this post is exactly what I am interested in. I shall be pleased to become a regular visitor :)

    Komentar oleh optiopsses | April 11, 2009

  6. nice site this ayunara.wordpress.com nice to see you have what I am actually looking for here and this this post is exactly what I am interested in. I shall be pleased to become a regular visitor :)

    Komentar oleh optiopsses | April 16, 2009

  7. th’s, Pak.
    ini akan menjadi dorongan motivasi bagi saya untuk menyajikan yg lebih baek..

    Komentar oleh agusjohn | April 17, 2009

  8. Alhamdulillah..
    Kami sangat menyesal pemerintah pusat dan daerah tidak menghormati sejarah masuknya islam di tanah pasundan, terutama cirebon. Selanjutnya kami mohon pihak terkait harus lebih serius dalam melakukan kenyamanan untuk tamu dari luar jawa, dan jaga pintu masuk agar tidak dipadati para pengemis dan tukang parkir liar.

    Terima kasih.

    Komentar oleh Djenambang Bin Tandjak | April 22, 2009

  9. jangan kalian jadikan makam leluhur seperti candi dan berhala

    Komentar oleh Ade Zaenal Mutaqin | Juli 6, 2009

  10. positif thinkingnya adalah ziarah itu silaturahmi spiritual, mas.
    th’s.

    Komentar oleh agusjohn | Juli 7, 2009

  11. pangeran sabakingking makamnya ada dimana?

    Komentar oleh m.taufan | November 10, 2009

  12. Mohon maaf.. Mr. Ade Zaenal Mutaqin, tolong ajari kami tentang hukum agama islam dan hubungannya dengan makam orang-orang tua kami.. Terima kasih.

    Komentar oleh Djenambang Bin Tandjak | November 19, 2009

  13. Pingin kesana jalurnya lewat mana aku ci cuikarang aduh heboh cirebon kota tua yang mengesankan

    Komentar oleh Haryanta | November 27, 2009

  14. salamullah.. saya adalah hamba Allah dari malaysia ingin bertanya dimanakah saya bisa membeli buku ini? adakah ia telah di export ke malaysia??

    saya juga ingin tahu salasilah nya Mbah Sunan Syariff Hidayatullah.

    Komentar oleh SusurGalur Mbah Syariff | Desember 21, 2009

  15. assalamu’alaikum.wr.wr. kami mohon selain daftar silsilah sunan gunung jati, mohon daftar silsilah sunan geseng sampai sekarang. terimah kasih wassalam.

    Komentar oleh agung | Desember 21, 2009

  16. dear Mbah Syarif,
    buku tsb adalah buku lokal. Saya temukan sewaktu maen/jalan2 ke Magelang.
    terima kasih.

    Komentar oleh agusjohn | Desember 29, 2009

  17. oo jadinya tidak ada yang untuk dijual ya?

    Komentar oleh SusurGalur Mbah Syariff | Desember 29, 2009

  18. oke getooo

    Komentar oleh prapto | Januari 5, 2010

  19. Di mana makam syekh Maulana Ishaq Syarif Abdillah dan Syekh Idlofi Mahdi. terima kasih.

    Komentar oleh Haryono | Januari 8, 2010

  20. Saya yakin perkembangan suatu keyakinan tidak lebih campur tangan dari ilmu politik….

    Contoh:
    Presiden Republik Indonesia beragama Islam dan selanjutnya rakyat akan menjadi mayoritas memilih agama Islam.

    Berani gak kalo presiden agamanya ganti menjadi non-muslim ….kalo berani…saya jamin pasti semua rakyat akan pindah agamany menjadi non-muslim…

    Coba buktikan…..

    Komentar oleh Putra | Januari 19, 2010

  21. As. Alhd buku ini menambah Referensi dan saya sudah lama memilikinya. Saya seneng banget ilmu Silsilah. Saya keturunan ke-19 dari Eyang Sunan melalui Ratu Sutiah Binti Rd.Bg.Nursa’id bin Rd.Bg.M.Rawi Bin Pangeran Martakusumah Rahman ( dan selanjutnya 11 lagi, lalu SGD, ada tapi tak dituliskan ).Barangkali ada yang seketurunan, mari kita jalin Silaturahmi !, Ws.

    Komentar oleh Yayat S M Din Wawan | Februari 11, 2010

  22. As. Saya sangat bangga memiliki darah Eyang Sunan ( Sunda : reueus ) walaupun dari garis Ibunya Ayah.Kata peribahasa Sundamah “Sanes niat nyeungeut damar na suhunan atanapi ngagulkeun payung butut”, hanya kalau ada yang seketurunan ingin dapat Silaturahmi. sesuai dengan ajaran Agama Islam ” Kita harus memperbanyak Silaturahmi, supaya lebih dapat berkah, amin !, Ws.

    Komentar oleh Yayat S M Din Wawan | Februari 11, 2010

  23. Untuk buah hatiku Ratu Intan dan Rahadian Imam, Perbanyaklah Silaturahmi !

    Komentar oleh Yayat S M Din Wawan | Februari 11, 2010

  24. SALAMULLAH YAYAT..

    ALHAMDULILLAH KETEMU JUGA SUSURGALURNYA…

    YAYAT SAYA INGIN MENGETAHUI LEBIH LAJUT PASAL BUKU INI. BOLEHKAH YAYAT MENYALIN DALAM SOFTCOPY ATAU PHOTOSTAT UNTUK SAYA?
    SAYA JUGA INGIN MGETAHUI DARI CERITA YAYAT SENDIRI.
    INSYAALLAH KITA KETEMU LAGI.. AMIN WASALAM

    Komentar oleh SusurGalur Mbah Syarif | Februari 12, 2010

  25. kita perlu melestarikan kebudayaan kita d kita harus bangga sebagai masyarakat cirebon

    Komentar oleh bobby | Februari 13, 2010

  26. Salam buat smuanya, saya ingin sekali mempelajari tentang silsilah Syekh Syarif Hidayatulloh.
    Saya ingin punya bukunya bagaimana ya..tolong email ya

    Komentar oleh Agus Achmadi | April 12, 2010

  27. ehm..brarti klo Qmo ke makam eyang sunan gunung jati kmungkinan besar dipersulit ea??…
    pdhl mo ke makam leluhur z dipersulit.huft..
    kasihan yg masih jd keturunan sunan gunung jati tpi ga bsa berziarah langsung ke makam sunan gunung jati di pintu 9..

    Komentar oleh Jo2 aza | April 29, 2010

  28. Makanya dalam resensi ini saya kritik sbg model ziarah yg birokratis..
    sudah meninggal saja sulit “ditemui”…
    barangkali hanya makam Sunan Gunung Jati yg menjadi satu2-nya ziarah ke makam poro wali yang paling rumit dan terlalu berlebihan bagi ahli warisnya..

    Komentar oleh agusjohn | Mei 17, 2010

  29. Buku tentang Sunan Gunung Jati sangat banyak modelnya, Pak Agus.
    kebetulan yg saya punya ini bukunya tidak luks banget, tapi isinya unik dan antik. Boleh dibilang ini mungkin buku terbitan lokal. Jadi content lokalnya sangat menonjol.

    Komentar oleh agusjohn | Mei 17, 2010

  30. Ass.wr.wb-pesan dari para wali yang 9 atau yang terakhir di tanah jawa :” Janganlah meminta-minta kepada makam karena alasan kekayaan dunia, atau mencari kejayaan. cukup kita tahu niat kita untuk silaturahmi baik jasmani dan rohani kita, niat inti adalah zarohke para wali adalah untuk mengagungkan Allah karena ciptaan dan yang diciptakan baik di bumu dan langit serta seisinya.trims.

    Komentar oleh muhammad deni abdullah | Mei 27, 2010

  31. Ass.wr.wb.Astagfirullohal’adzim.. bertaubatlah sebelum kita mati karena kematianitu sungguh dekat, dunia hanya sementara, ibarat bak daun yang jatuh dari pepohonan, Allah SWT. sudah dengan keikhlasannya memberikan semua keinginan kita baik jasmani maupun rohani dan diqobulkannya, karena kita bukan Nabi atau wali apalagi ustadz.. mari kita kaji inti ajaran yang disampaikan Nabi ke para wali sampai akhir jaman : ” Sesungguhnya hanya membangun Akhlakul karimah ” sebagai bagian amal soleh kita.mudah2 an menjadikan kita sebagai amal untuk kita pertanggungjawabkan.amin

    Komentar oleh muhammad deni abdullah | Mei 27, 2010

  32. saya kok nggak ada ya

    Komentar oleh masdono | Juni 1, 2010

  33. boleh tau alamat jelas makam sunan gunung jati ingin lansung datang kesana, untuk lebih jelas lagi

    Komentar oleh Rully | Juni 10, 2010

  34. Pak Rully,
    daerahnya di sekitar Klayan, Cirebon.
    Orang sana pasti tahu kalo tanya terlebih dulu.
    terima kasih.

    Komentar oleh agusjohn | Juni 14, 2010

  35. yah sangat disangkan sekali,,Makanya Pemerintah Daerah harus sigap akan budaya Islam di Negeri Indonesia

    Komentar oleh Ferry | Juni 29, 2010

  36. cerita orng tua

    Komentar oleh R. Roni | Agustus 8, 2010

  37. knapa garis keturunan dari prabu siliwangi keatas beda ,sedangkan patilasan di istana rajagaluh ada semua dan bukunya beda dari mulai hal-hal berbau pusaka ada hubungannya disana ,dan kaka saya ada di sana ..

    Komentar oleh rony/ddn | Agustus 29, 2010

  38. setuju, Pak Deni Abdullah.
    ziarah layaknya “silaturahmi” saja; silaturahmi terhadap orang yang (Insya Allah) dimuliakan Allah SWT..

    Komentar oleh agusjohn | September 20, 2010

  39. Alhamdulillah, saya bisa sedikit tahu tentang sejarah di islam di nusantara.Ternyata membuat saya takjub akan perkembangan islam di dunia,khususnya di tanah pasundan..karena saya turunan dari Banten.

    Komentar oleh Rizko Agustian | Oktober 12, 2010

  40. Buat Jo2 aza, kalau keturunan Sunan kan bisa sampai pintu 9 mustinya.
    Thanks a lot mas Agus John. Saya jadi ngerti sekarang kalo kata kuncen yg mengantar kami (saya dan istri) ziarah dulu benar, bhw peziarah umum dilarang sampai pintu 9. Waktu itu kami diijinkan sampai pintu tsb dan alhamdulillah dengan leluasa saya (diaminkan istri) membaca doa tawassul. Kami waktu itu samasekali nggak merasa sbg tamu kehormatan sebab kita pikir kuncennya just joking aja.

    Membaca resensi mas Agus inilah saya baru ngeh dan jadi ber-tanya2 kenapa dulu kami diijinkan sampai pintu terakhir… Memang sih, istri saya keturunan Sunan Gunungjati dari jalur Banten dan saya jelek2 gini juga masih keturunan wali, tapi kan kita nggak bilang2. Apa mungkin sang kuncen punya indra keenam?

    Soal pengemis, saya sepakat… lebai banget :-) kaya para pengemis di Banten lama.

    Komentar oleh Agung Sugiri | Oktober 13, 2010

  41. ass.wr.wb.
    salam hormat saya untuk semua kerabat keraton kanoman cirebon
    saya e.abdiindung putra dari bp.e. ramlan,cucu dari R.jamal j
    ,canggah dari (entah bertitel apakah canggah saya)yang bernama canggah tameng braja/canggah kimpul………….saya minta copian silsilah dari leluhur saya yg lebih komplit.
    sekian pesan saya,mohon maaf bila ada kata saya yang menyinggung para pembaca.
    wass.wr.wb.

    E.ABDI INDUNG

    Komentar oleh E.Abdi indung | Oktober 27, 2010

  42. Asswrwb.

    Cerita nya bagus banget, menambah wawasan, kebetulan saya juga sedang mencari jejak silsilah keturunan saya yg dari Cirebon.
    Soal masuk ke makam, memang benar birokrasinya terlalu jlimet padahal yg datang kan utk berdoa ya.
    btw, gimana cara nya saya bisa dapatkan buku tersebut ya.
    Terima kasih sebelumnya.

    Wass,

    Komentar oleh meidy | November 23, 2010

  43. Ada informasi, pada hari-hari tertentu saja kalayak umum bisa mencapai pintu ke-9. Selain itu, hanya keluarga keraton saja.
    Yg saya kritik keras justru, sudah meninggal saja masih diperlakukan birokrasi.
    Sistem layer, seolah-olah mau ziarah dan mendekat saja ndak boleh.
    Ini sangat beda dengan ziarah ke wali2 yang lain.
    Ini dibutuhkan keterbukaan pola pikir dari keturunan Sunan Gunung Jati agar mencontoh bagaimana orang2 dengan bebas ziarah ke makam wali2 yg lain.

    Komentar oleh agusjohn | Desember 9, 2010

  44. Bukunya dulu justru saya beli di lokasi makam, Pak.
    Biasanya, kalo ziarah2 saya suka beli oleh2; kalo tidak VCD sholawat ya buku2; karena muatannya lokal.
    Sangat unik.

    Komentar oleh agusjohn | Desember 9, 2010

  45. bgm caranya mengetahui silsilah keturunan sunan gunung jati sampai sekarang? apa ada referensi bukunya?

    Komentar oleh iskandar | Januari 12, 2011

  46. Di Cirebon, era kompeni, Keturunan Sunan Gunung Jati terpecah dalam 4 kerajaan mini.
    Barangkali trah keturunan di masing2 kerajaan mini tsb ada, Pak.

    Komentar oleh agusjohn | Februari 14, 2011

  47. Alhamdulillah.. Ternyata masih ada dari persaudaraan keluarga siliwangi (PKS) yang peduli asal usul moyang dan sejarah islam nusantara. Semoga kita senantiasa dijaga dalam silaturahim yang berdasarkan Iman Islam.. Aamiin!

    Komentar oleh Djenambang Bin Tandjak | September 27, 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: