*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#038: Bila Masyarakat Awam Memaknai Kemerdekaan

Jam di hp-ku menunjukkan pukul 00:15. Pentas dangdut itu belum juga usai. Dua biduanita di atas panggung masih meliuk-liukkan tubuhnya yang terbalut baju ketat, khas penyanyi dangdut, menggoda setiap lelaki untuk berjoget di atas panggung. Dua biduanita lainnya duduk di pinggir, menunggu giliran tampil. Dengan diiringi musik organ tunggal dari Buncit Delapan, biduanita itu berjoget ditemani beberapa penonton yang sengaja memberi ‘sawer’.

Keringat mengucur membasahi wajah mereka. Dengan handuk yang sengaja dikalungkan di leher, mereka seka keringat. Di malam yang kelam itu, mereka menyanyikan lagu “Noda dan Dosa”, sambil berjoget, bergerombol di atas panggung. Keberisikan di tengah malam, di tempat terbuka, yang menjadi “halal” (dimahfumkan) di kehidupan sosial masyarakat. Ya, karena acara itupentas 17-an.

Tiga meter di depan panggung, kursi-kursi sengaja disibakkan. Dipinggirkan, untuk tempat berjoget bagi penonton. Sementara penonton yang lainnya, menikmati alunan musik khas Melayu itu dari kursi pertunjukan, di bawah tenda yang sudah disiapkan sejak pagi. Sebagian penonton yang lain, duduk di bangku-bangku. Ada juga yang duduk di ‘dak’ rumah warga.

Malam itu, lapangan di depan Padepokan terlihat semarak. Umbul-umbul “Telkomsel” ikut memarakkan pesta 17-an warga kampung Jl. Rasamala Gg. H.Marzuki. Tenda didirikan begitu gagahnya. Dihiasi kelambu warna-warni dengan warna merah dan putih mendominasi desain panggung. Terbaca, “Dirgahayu ke-58Kemerdekaan RI” di spanduk panggung.

Lapangan yang digunakan pentas malam itu adalah lapangan badminton. Letaknya di depan rumah-rumah penduduk kampung, agak masuk ke dalam gang bila dari arah Padepokan. Panggung itu menghadap ke timur. Kiri panggung tampak sederetan rumah bedeng yang terbuat dari seng berkarat bercat putih. Belakang rumah bedeng ada tanah kebun yang masih kosong. Sementara di kanan panggung, kujumpai segala macam rombong (gerobak untuk berjualan). Rombong tukang bakso, rombong tukang roti, rombong tukang minuman, yang semuanya terparkir rapi dan tergembok rantai. Di sebelahnya terdapat juga deretan ‘pagupon’ (rumah burung dara) bercat putih.

Malam itu begitu terang. Pentas yang dimulai sejak jam 10 pagi itu, semakin malam semakin semarak. Bintang kekuning-kuningan nampak nan jauh di sana. Di atas langit, tepat di atas kepalaku. Bintang-bintang yang lain mengintip dibalik dahan, ranting dan dedaunan pohon nangka yang berdiri tegak di depan kiri-kanan panggung. Sebagian dahan dan ranting pohon nangka itu terpapras (terpotong) untuk keperluan mendirikan tenda.

Itulah, salah satu bentuk partisipasi warga sekitar padepokan dalam merayakan hajatan kemerdekaan ke-58 RI. Tapi ada sesuatu yang hilang, menurutku. Tak kujumpai anak-anak atau ibu-ibu di deretan penonton yang berjubel itu. Yang ada hanyalah kaum pria. Di lihat dari tampang dan penampilannya, mereka seperti berasal dari masyarakat urban (kaum pendatang, bukan penduduk asli) dan lapisan masyarakat pinggiran (orang-orang awam, kaum buruh dan pekerja kasar lainnya). Tak ada yang berpakain rapi. Padahal, rumah di sekitar panggung adalah komplek BI. Termasuk padepokan. Dan, pesta 17-an di Gg. Marzuki itu benar-benar terlihat jelas hanya menjadi milik masyarakat pinggiran.

Dua malam sebelumnya, pertunjukan dalam rangka yang sama juga berlangsung diMampang Delapan belas. Acaranya juga di atas lapangan badminton, sebelah kandang sapi perah milik orang Betawi. Pentasnya juga dangdut. Nanggap organ tunggal dari Cilandak. Bedanya dengan di Tebet, di Mampang biduanita nyalebih banyak, lebih cantik, penontonnya lebih ramai. Kaum pria dan wanita, tua dan muda bercampur menjadi satu, dan ada yang berkelompok. Diramaikan oleh anak-anak kecil yang minta dibelikan mainan dan jajan. Pertunjukan itupun usai hingga jam 02:00.

#
Begitulah. Tidak hanya di Tebet dan Mampang, mungkin di hampir semua kampung di seluruh pelosok wilayah Nusantara, masing-masing memiliki acara sendiri-sendiri untuk memeriahkan kemerdekaan. Walaupun berbeda acara, tapi spiritnya tetap sama; ikut berpartisipasi dalam memaknai kemerdekaan RI. Organ tunggal atau organ tunggal plus, laris manis, panen mendapatkan job. Wanita-wanita yang lumayan seksi, meskipun suaranya pas-pasan, mencoba mencari untung dengan berprofesi sebagai biduanita. Menjadi penyanyi dangdut, walaupun goyang pun tak bisa (terlihat dipaksakan). Siklus hidup pun berjalan tanpa disadari. Masyarakat awam haus akan hiburan, para biduanita itu membutuhkan uang. Maka, pentas 17-an kini sudah diartikan sama dengan pentas dangdut. Pentas dangdut dianggap sebagai pentas rakyat. Pentas rakyat menimbulkan kesenangan masyarakat. Senang sama dengan merdeka. Asumsi yang sederhana dan praktis, menurutku.

Yang membedakan mungkin bisa dilihat dari karakter masyarakatnya. Masyarakat Mampang, berbeda karakternya dengan di Tebet. Dan berbeda pula dengan karakter masyarakat di kampung di daerah-daerah. Di Mampang, kultur masyarakatnya aneh. Mereka religius di bidang ubudiyah, tapi sangat toleran dan menyukai pentas dangdut. Sulit membedakan, mana hiburan, mana yang tergolong eksploitasi aurot yang berlebihan. Mereka ngaji ok, dangdutan juga boleh. Tahlilan bisa, togel pun dibiarkan merajalela.

Gg. Marzuki, Tebet lain lagi. Penikmat sajian dangdut itu hanya didominasi kaum lelaki. Perempuan bisa dihitung dengan jari. Sehingga sangat wajar, lelaki menjadi dominan. Sesekali juga berani kurang ajar dengan mencolektubuh bahenol biduanita. Begitupun di kampung. Tentu memiliki karakteristik, kultur masyarakat yang berbeda pula. Tapi intinya tetap sama; pesta!
Inilah ironisme dari sebuah proses hidup. Dulu, kemerdekaan diraih dengan darah dan air mata.

Di awal revolusi, kemerdekaan dirayakan dengan dentuman meriam sebagai simbol perlawanan dan kepahlawanan rakyat manunggal dengan tentara melawan kolonial. Tapi kini, kemerdekaan sudah identik denganhiburan, goyangan biduanita, pesta makanan, atau bahkan pelampiasan syahwat dalam bentuk saweran terselubung. Sebuah ironi yang patut disesali di tengah-tengah kenyataan bahwa masyarakat awam butuh hiburan, suntuk akan konflik elite politik yang kadang tak bermoral. Menyedihkan, tapi itu terjadi.

Padepokan Tebet, 01-09-03, 00:32
© Gus John

Oktober 16, 2006 - Posted by | Ideologi Sikap Otak | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: