*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#136: Ilir-Ilir: Antara Keluarga dan Makna Filosofinya

ayun1Ilir-ilir,
ilir-ilir….
tandure wis sumilir…
tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar…..

bocah angon,
bocah angon….
penekno blimbing kuwi…
lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotiro…

Dodotiro,
dodotiro….
kumitir bedah ing pinggir…
dondomana, jrumatana kanggo seba mengko sore..
mumpung padhang rembulane.
mumpung jembar kalangane…..

Artinya:

p13100083(Ilir-ilir,
ilir-ilir…
tanamannya sudah berkembang/bersemi..
tampak menghijau ibarat pengantin baru..

anak gembala,
anak gembala..
panjatlah blimbing itu..
meski licin panjatlah, buat mencuci kain

kain,
kain…
yang sedang robek pinggirnya..
jahitlah dan tamballah untuk menghadap nanti sore..
semampang bulan terang-benderang
semampang lebar tempatnya…) Baca lebih lanjut

Iklan

Maret 27, 2009 Posted by | Family, Religi | , , , , , , | Tinggalkan komentar

#130: Gajah Mada: Pahlawan Nusantara (#01)- Res:

gajah-mada_1Judul: Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara
Penulis : Muhammad Yamin
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1993 (Cet. ke-14)
Hal : 113

Gajah Mada menjadi tokoh utama sejarah Kerajaan Majapahit. Timbul-tenggelam, pasang dan surutnya kerajaan besar tersebut hampir tak dapat dipisahkan dari nama tokoh terkenal ini.

Gajah Mada dengan segala wibawanya bercita-cita hendak mempersatukan Nusantara. Cita-cita tersebut diperjuangkannya dengan pengabdian yang sepenuhnya kepada negaranya.Karya Muhammad Yamin (cetakan ke-14) ini membuktikan betapa besar minat pembaca kepada sejarah tokoh legenda ini.

Muhammad Yamin, seorang sejarawan membentangkan secara luas dan terperinci, siapa Gajah Mada, dari mana asalnya, dan apas aja yang telah diperjuangkan olehnya semasa hidupnya. Kehidupan dan perjuangannya pantas menjadi ilham bagi cita-cita dan perbuatan kita semua. Baca lebih lanjut

Maret 4, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , | 10 Komentar

#129: Meracik Wacana, Melacak Indonesia (Res:)*

pitutur1Judul: Meracik Wacana, Melacak Indonesia
Penulis: Hasyim Wahid, dkk
Tahun: Pitutur, Edisi I/Juli 2001
Penerbit: Yayasan KLIK (Kajian & Layanan Informasi untuk Keadilan Rakyat)
Hal: 76 halaman

Masa kini (the present) adalah akibat dari masa lalu (the past). Baik-buruk, senang-sedih, gembira-duka, untung-malang, yang kita rasakan saat ini adalah akibat dari kejadian masa lalu. Tapi, waktu tak akan dapat diubah atau ditarik ke belakang. Waktu akan terus berjalan. Semuanya telah terjadi.  Saat ini pun akan menjadi masa lalu (baca: sejarah) di masa yang akan datang (the future). Dan karena sejarah biasanya selalu berulang, maka dengan belajar tentang masa lalu, kita tidak akan terkejut, heran, atau malah akan terjebak dalam perjalanan sejarah yang sama.

Dengan belajar masa lalu, akan menjadi rujukan kita buat menatap masa depan. Buku ini sangat menarik untuk belajar tentang sejarah asal-usul tentang bangsa Indonesia.

Prototype Indonesia

Kini kita sedang berjalan dari peristiwa yang sudah terjadi (the past), sedang terjadi (the present) menuju ke peristiwa di masa depan yang belum pasti (the future). Meskipun belum pasti, namun sesungguhnya kita bisa merancang bagaimana masa depan kita nanti. Untuk mencapai hal itu, kita mesti mau menerima dan mengakui masa lalu kita dengan sejujur-jujurnya. Setelah itu, baru kita mulai bisa merencanakan dan merekayasa masa depan kita.

Proto Indonesia dapat dianalisis dari 3 hal:
1. mulai kemunculannya sebagai wilayah adminstratif;
2. faktor bahasa, dan
3. faktor pendidikan Baca lebih lanjut

Februari 27, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , | 5 Komentar

#127: Pramoedya dari Dekat (Res:)

pram_14Judul   : Pramoedya Ananta Tour dari Dekat Sekali
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Tahun  : Cetakan I, Juli 2006
Penerbit : Gramedia
Hal : xiv+ 266 halaman

Jika anda seorang Pramoedya(n)* sejati, buku ini sepertinya wajib untuk dimiliki. Buku yang lebih tepatnya seperti “catatan harian tentang Pram” ini dipotret oleh orang yang paling dekat dengannya; yakni  Koesalah Soebagyo Toer, adiknya yang nomor-5.

Koes memotret sisi-sisi dari sosok seorang Pramoedya Ananta Tour yang tidak diketahui oleh publik. Buku ini seperti “curhat”-nya Pram. Koes sendiri mengatakan dirinya merasa seperti “keranjang sampah” untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat, atau tidak pantas dikemukakan (oleh Pram) kepada orang lain.

Dalam buku mungil ukuran 13cm x 19cm ini, Koes membagi tiga periode dalam mengupas sisi lain kakaknya;  Periode pertama dari tahun 1981-1986. Periode ke-2 (1987-1992), dan periode ke-3 (1992-2006).

Periode-1  secara garis besar, Koes menceritakan sosok Pram dalam keseharian dan masalah keluarganya.  Pram yang terus didera sakit sejak sering ditahan, kakinya yang ketarik ketika loncat sewaktu mau naik bus, hingga marah-marah karena royalti bukunya belum dikirim. Dalam kesehariannya, Pram yang pernah ikut pamannya juga merasakan tugas-tugas berat: ngepel, nyuci, nyeterika dan belanja.

Diceritakan juga masalah keluarga yang mendera Pram, mulai dari keinginannya untuk segera mensertifikatkan tanah leluhurnya yang diserobot pemerintah Blora. Menikahkan anak perempuannya yang membuatnya pusing -Koes mencatatnya dalam 5 judul- hingga forum silaturahmi lebaran antar saudara. Baca lebih lanjut

Februari 19, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sastra | , , | 3 Komentar

#068: Lahirnya Kota Jakarta, Awal Kolonialisme atas Nusantara

Dari Padepokan Tebet, terus ke Mampang Prapatan, Warung Buncit, Kebon Sirih, Cililitan, Kalibata, Matraman, Kramat Raya, Ciganjur, dan begitu seterusnya. Ngeluyur, memutari ibukota Jakarta, aku tak ada bosannya. Mungkin, aku ini makhluk yang tak pernah sadar, bahwa, bumi yang kuinjak ini penuh dengan lintasan sejarah. Bahwa, jalan yang selama ini kulewati pernah menjadi saksi bisu catatan sejarah masa lalu.

Nama Warung Buncit, sebagai pertanda menyisakan cerita adanya seorang Cina berperut buncit yang buka warung kelontong di sebuah jalan jaman dulu, yang kini bernama Jl. Mampang Prapatan dan diteruskan ke selatan dengan nama jalan Warung Jati Barat.

Kebon Sirih, dan nama-nama daerah yang berawalan “kebon” menandakan kalau Jakarta ini dulunya ladang luas yang subur. Ada Kebon Bawang, Kebon Kacang, Kebon Jahe, Kebon Sirih, Kebon Jeruk, Kebon Jati, Kebon Jambu, Kebon Kosong, Kebon Manggis, Kebon Mawar, Kebon Melati, Kebon Pala, Kebon Pedati, Kebon Sayur, Kebon Sereh, Kebon Nanas, Kebon Nangka, Kebon Pisang, Kebon Mangga, Kebon Kelapa, Kebon Baru, dan sebagainya. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban | , , , | Tinggalkan komentar