*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#146: Dari Masjid ke Masjid

“Saksi Bisu” Potret Perjalanan Ekspansi Bakrie Telecom

~
Foto-foto berikut ini menjadi sejarah, bagian kecil dari  “saksi bisu” perjalanan ekspansi Bakrie Telecom ke Jawa Barat; yang kini disebut sebagai Regional 02 -minus Bekasi, Depok, Bogor, Kerawang dan Sukabumi- dan wilayah Banten -masuk Regional 01.

Masjid menjadi target kedua setelah kandidat BTS (Base Transciever System) ditemukan, ketika saya melakukan survey ke kota-kota di Jawa Barat, seperti: Sumedang, Ciamis, Majalaya (Bandung) dan Banten (Pandeglang, Rangkasbitung dan Anyer).

Berikut “saksi bisu” yang sekian lama berserakan, dan baru saya temukan kembali hari ini:

Masjid Ciamis
diambil  tanggal: 3 Januari 2003
pada saat pencarian lokasi-lokasi BTEL di Ciamis. Boleh dibilang, inilah awal ekspansi BTEL di kota paling timur dari Propinsi Jawa Barat tersebut.

100_6276

~~O~~

Masjid Majalaya
diambil tanggal: 4 Januari 2003
saat ekspansi pertama BTEL di kota paling tenggara Bandung, berbatasan dengan Garut.
100_6401

Baca lebih lanjut

Mei 22, 2009 Posted by | Esia, Sejarah & Peradaban, Seni & Budaya | , , | 2 Komentar

Geliat Telepon Tanpa Kabel Bersaing di Pasar CDMA

  • Jumlah pengguna FWA (Fixed Wireless Access)/telepon tetap nirkabel) terus meningkat pesat. Inikah pertanda bahwa masyarakat mulai menyadari alat komunikasi terbaik untuk kebutuhan dirinya?

Oleh: Nala Dipa Alamsyah

Persaingan antara teknologi code division multiple access (CDMA) milik FWA dengan global system for mobile communications (GSM) di ranah seluler makin memanas. Kendati, CDMA memang masih dibayang-bayangi GSM yang saat ini sudah dipakai lebih dari satu milyar penduduk dunia. Namun faktanya, manuver CDMA memang terus menggila. Tengok saja catatan mutakhir dari CDMA Development Group (CDG) yang menunjukkan bahwa pengguna CDMA di dunia selama kuartal II 2007 mencapai 377 juta orang atau tumbuh sebesar 42% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan CDG memperkirakan sampai tahun 2010 nanti, akan ada 41% pengguna telepon tanpa kabel di seluruh dunia yang memakai teknologi CDMA.

Lalu, bagaimana gambaran di Indonesia? Karena GSM lebih dulu dikenal, tak ayal lagi  pengguna GSM masih berada di volume terbesar. Sejauh ini, sudah mencapai 70 juta lebih pelanggan. Bandingkan dengan empat tahun lalu, yang hanya menembus angka 14,5 juta pelanggan.

Namun, di tengah terjangan GSM, penetrasi CDMA juga tidak kalah sigap. Di usianya yang dini, justru teknologi ini mendapat respons mamukau dari masyarakat. Buktinya, sejak pertama kali dipelopori PT Telkom dengan meluncurkan Flexi semester pertama tahun 2003 lalu, total pelanggan CDMA saat ini saja hampir mencapai 13 juta pelanggan. Angka itu disumbangkan para pelanggan Flexi (6juta), Fren dari Mobile-8 (2,5 juta), Esia dari Bakrie Telecom (3,7 juta), StarOne dari Indosat (600ribu) dan ‘si bungsu’ Ceria milik PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (275 ribu).

Sebenarnya, angka itu masih bisa merangkak lagi pada periode ini. Bila dua operator CDMA (Flexi dan StarOne) tidak direpotkan kebijakan penertiban migrasi frekuensi dari 1900 MHz ke 800 MHz dalam dua tahun terakhir. Syahdan, kebijakan ini cukup menguras energi dua operator tersebut. PT Telkom sendiri saja sudah menghabiskan dana miliaran rupiah untuk biaya kompensasi dan tetek bengek lainnya. Sementara, Indosat jadi emoh-emohan melakukan penetrasi pasar lantaran tarik ulur migrasi tersebut. Alhasil, dari kemampuan kapasitas jaringan CDMA Indosat yang masih bisa lempeng sampai 2,5 juta pengguna, hanya dipakai tak lebih dari 25%-nya. Baca lebih lanjut

Mei 1, 2009 Posted by | Esia | , , | 2 Komentar

Halo, Semua pun Tersenyum

Operator berlomba menawarkan paket bundel: handset plus bermacam bonus.
Konsumen, operator, dan pabrik handset sama-sama diuntungkan.

(Agus S. Riyanto, Ahmad Pahingguan, dan Julianto)

Fajar belum lagi menjelang. Jarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Angin dingin tak meyurutkan antrean puluhan orang di depan gerai Esia di jalan Margonda, Depok, Jawa Barat, pekan lalu. Sepagi itu, ya sepagi itu, mereka sudah berjaga di sana. Duduk-duduk di atas kursi plastik, berbaris dua-dua, hingga menyentuh tepian jalan yang berjarak sekitar delapan meter dari gerai yang merupakan bangunan ruko tersebut.

Antre sembako? Bukan. Mereka rela bangun pagi dan antre untuk memperoleh nomor urut pembelian paket bundel Esia yang harganya Rp. 230 ribu (termasuk pajak). “Pulang dulu, nanti baru kembali lagi. Yang penting sudah dapat nomor urutnya,”kata Dewi, seorang mahasiswi yang ikut memperebutkan 100 nomor yang dijajakan setiap pagi itu.

Dengan uang sebesar Rp. 230 ribu, Dewi bisa memperoleh handset CDMA merek Huawei C2601 dengan fitur yang lumayan komplet. Lalu, ada lagi pulsa senilai Rp. 10 ribu dan bonus 1.000 menit untuk menelepon ke nomor Esia lainnya. Esia adalah merek dagang dari Bakrie Telecom, operator CDMA.

Nah, di kantor pusat Bakrie Telecom, Wisma Bakrie I, Kuningan, Jakarta, antrean yang sama rupanya juga terlihat. Sejak pukul empat pagi, banyak orang yang sudah berbaris untuk memperoleh nomro urut. Di sini, nomor yang ditawarkan agak banyak: 500 unit. Para polisi pun jengkel. Maklum, peminat paket Esia di kuningan itu mamarkir motornya di depan gedung, bukan di areal parker di dalam gedung. Baca lebih lanjut

Mei 1, 2009 Posted by | Esia | , | 2 Komentar

Bakrie Telecom Calon Raksasa Baru?

KORAN TEMPO, JUMAT 21 SEPTEMBER 2007
Hal : 45
Ditulis Oleh : AW SUBARKAH

Belum lama ini, PT Bakrie Telecom Tbk, perusahaan penyelenggara telekomunikasi nirkabel tetap, meluncurkan telepon seluler paling murah dengan harga kurang dari Rp 200.000. Awal pekan ini juga, perusahaan ini memenangi tender sambungan langsung internasional, sebuah agenda besar baru yang tentu tidak sekedar mencari peluang di harga layanan paling murah.

Sebuah agenda besar bagi operator yang mungkin selama ini “paling tidak dilihat” karena wilayah operasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTel) yang sempit, hanya kawasan Jawa Barat lama yang sekarang dibagi menjadi Banten, DKI, dan Jabar. Namun, sekarang tiba-tiba diandalkan banyak pihak untuk bisa menyaingi dua penyelenggara sambungan langsung internasional (SLI), yang notabene juga raksasa telekomunikasi Indonesia, yaitu PT Telkom dan Indosat.

Tantangan besar yang ada di pundak operator milik keluarga Bakrie ini sangat besar, termasuk menjadi tumpuan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan internet murah. Ini juga merupakan gagasan pemerintah, yang direalisasikan melalui konsorsium swasta dengan membangun jaringan backbone Palapa Ring timur dan barat.

Operator yang dikenal dengan produk layanan Esia ini memang sedang menggeliat dengan membuka layanan keluar kawasan Jabar itu, ke timur sampai Surabaya dan ke barat Medan. BTel harus membangun infrastruktur telekomunikasi modern dan tidak boleh menggunakan infrastruktur telekomunikasi modern dan tidka boleh menggunakan infrastruktur yang sudah dibangun Telkom dan Indosat.

Dalam komitmen awal ketika melamar sebagai peserta tender SLI, BTel telah merencanakan pembangunan dalam lima tahun pertama. Pihak BTel bahkan menyanggupi akan mewujudkan pembangunan jaringan internasional selama tiga tahun sejak izin prinsip diterbitkan oleh pemerintah. Baca lebih lanjut

Mei 1, 2009 Posted by | Esia | , | Tinggalkan komentar

Si Hitam Yang Laris Manis

KORAN TEMPO, JUMAT 21 SEPTEMBER 2007
Hal : E8
Ditulis Oleh : DEDDY SINAGA


Kedua lelaki itu tampak kuyu. Tapi mereka tetap duduk dengan tenang di ruangan berpenyejuk udara yang tampak sesak tersebut. “Saya antre sejak pukul delapan pagi,”kata A Sen, salah satu dari kedua pria itu, kepada Tempo di kantor distributor Esia di kompleks Ruko ITC Roxy Mas, Jakarta Barat, Kamis sore pecan lalu.

A Send an pria satunya, Jimmy, adalah dua dari lebih dari 400 orang yang menyesaki kantor itu sejak pagi. Mereka sabar menanti sampai dapat membawa pulang huawei C2601, telepon seluler murah dari Esia.

Inilah ponsel code division multiple access alias CDMA termurah di pasaran saat ini. Harganya dibanderol Rp 199 ribu atau Rp 220 ribu setelah ditambah pajak.

Pembelinya pun mendapat bonus nomor perdana Esia dan bonus bicara 1.000 menit (senilai Rp 50 ribu).

Bonus-bonus ini membuat peminatnya berjubel. “Kan, ada pulsa gratis enam bulan, jadi tidak usah membeli pulsa.” kata A Sen, karyawan di kawasan Proyek Senen itu. Kartu antreannya bernomor 299 dan dia baru dipanggil pada pukul 17.00 WIB.

Adapun Jimmy, 40 tahun, rela antre sejak pukul 10.00 WIB lantaran harganya sesuai dengan yang diiklankan  di televisi. “Kalau beli di toko, tidak menunggu, tapi harganya Rp 275 ribu,” kata pria yang akhirnya dipanggil setelah magrib itu.

Lantaran peminat ponsel buatan pabrik asal Cina itu begitu tinggi , distributornya sampai memberlakukan antrean. Bahkan untuk mendapatkan kartu antrean pun, pelanggan harus mandaftar dulu. Untuk mengaktifkan bonus bicara, pelanggan harus membayar Rp 25 ribu. Baca lebih lanjut

Mei 1, 2009 Posted by | Esia | , | Tinggalkan komentar

BTEL Peduli Situ Gintung

Sekilas info kegiatan CSR Bakrie Telecom dalam membantu korban Situ Gintung
Oleh: Dwitya Amanda, CorpCom

gintung11Bencana yang terjadi pada Jumat dini hari (27 Maret 09) telah mengetuk keprihatinan dan perhatian dari banyak pihak, termasuk jajaran direksi beserta seluruh karyawan PT. Bakrie Telecom,Tbk terketuk hatinya dan sangat prihatin atas bencana yang terjadi di Situ Gintung. Karena itu Bakrie Telecom langsung bergerak untuk dapat i terjun langsung memberikan bantuan dan pertolongan bagi para korban

BTEL menurunkan team Tanggap Bencana BTEL ke lapangan pada hari Selasa tanggal 31 Maret 2009, dan langsung bergabung dengan team PMI Banten + Pemrov Banten untuk membantu dapur umum dan sekaligus membantu pendistribusian makanan dari dapur Umum. Team Tanggap Bencana BTEL terjun kelapangan pada tanggal 31 maret, 1 April, dan tanggal 3 April 2009.

Di hari pertama Tim Relawan Btel bergabung (H+4 pasca bencana) saat itu kondisi di lapangan masih sangat memprihatikan. Masih banyak sisa puing berserakan dan  proses evakuasi terus berjalan karena masih ada 100 korban yang hilang. Baca lebih lanjut

April 14, 2009 Posted by | Esia | , , | Tinggalkan komentar