*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#039: Kidung Cinta Para Raja

Padepokan Tebet, Malam Jum’at, 29-08-2003.
Alunan gamelan kidung cinta para raja kembali hanyut terdengar. Mengiang-ngiang di telinga, menggelayuti pendengaranku. Ia sepertinya dekat. Sangat dekat. Seolah-olah ia mengepung padepokan. Ia selalu muncul ketika nurani tidak bisa diajak kompromi. Ketika pilihan dipertentangkan.

Kubayangkan Damarwulan, Joko Tingkir, Ki Ageng Mangir, dan para raja yang lain dengan segala kebesarannya, melakoni fragmen hidup mereka yang dinamakan cinta; sebuah cerita legenda yang menyiratkan hubungan kasih suci nan agung. Yang kadang diselingi dengan perjuangan, ujian dan cobaan yang sangat berat.

Kurebahkan badanku di balai bambu di teras padepokan. Malam ini tidak seperti biasa. Di saat isu munculnya bulan kembar, tapi aku tak tertarik sama sekali dengan gembar-gembor media massa itu. Aku lebih menyukai membiarkan terjadinya pergulatan pikiran, batin, dan nurani dalam diri ini. Kubiarkan mereka berdebat secara demokratis, tuk menentukan setiap langkah demi langkah yang akan kutempuh. Kubiarkan kidung cinta para raja menguasai diriku, ditemani semilir angin yang menerpa bumi padepokan. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 16, 2006 Posted by | Sastra | , | Tinggalkan komentar