*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#122: Travelling with Esia and Sriwijaya Air

One Day Trip to Batam. Terbang Hemat 20% bersama Esia-Sriwijaya Air
Penulis : aGus John
Fotografer: Yudi Febrianda

Dunia jurnalistik layaknya dunia Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ada challenge (tantangan), adventure (petualangan), dan network (pergaulan) yang luas di sana. Tak begitu heran, ketika mendapatkan tawaran mewakili BTel Blogger Community dan Esia Pojok Foto untuk meliput acara pers conference kerjasama Esia-Sriwijaya Air di atas pesawat dari Jakarta menuju Batam, Jum’at (23/01/2009) lalu, penulis sangat antusias untuk menerima tantangan itu.

Sriwijaya Air, maskapai penerbangan yang menggunakan Boeing 737-300, 400 dan 700 NG, yang baru saja mendapatkan penghargaan “Indonesia Most Branded Service Award” (IndoBSA) dari MarkPlus & Co.; sebagai perusahaan yang dipersepsi masyarakat sebagai pemberi layanan yang paling berbeda (terbaik) dalam industrinya- menjadi mitra Esia dalam kerjasama kali ini.

***
Karena acaranya sangat padat (One Day Trip), hari Jum’at itu kita seperti dikejar waktu. Berangkat pagi 05:30 WIB dari rumah, dan sampai di kantor jam 06:45. Bersama rombongan jurnalis, kita berangkat dari Kantor Wisma Bakrie jam 08:17 menuju Bandara Sukarno-Hatta. Sampai di Bandara 09:00. Pesawat sedikit delay 15 menit. Untuk mengisi waktu, kita hunting gambar yang bagus di sekitar ruang tunggu. Selebihnya, ngobrol dengan teman-teman wartawan. Sebelum naik pesawat, kita foto bareng Erik Meijer, Wakil Presiden Direktur Bakrie Telecom dan Chandra Lie, Presiden Direktur Sriwijaya Air beserta para pejabat dari Esia dan Sriwijaya Air lainnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Januari 28, 2009 Posted by | Esia | , , , | 8 Komentar

#121: Kampung: Recharge Otak

Orang tua lugu. Kulitnya gelap sepekat gagang sabit yang dia bawa. Pakaiannya lusuh, bercapil (topi) bundar. Makan satu warung denganku. Menunya sederhana; nasi, rawon kangkung (menu rawon tapi daging diganti dengan kangkung), plus tempe dan sambal. Dia makan dengan lahapnya.

Rawon kangkung merupakan menu “khas” kampung. Di saat daya beli masyarakat yang rendah, tapi lidah masih ingin merasakan menu rawon, dengan rawon kangkung, si pemilik warung bisa menjual masakannya dengan harga murah. Biasanya, menu ini untuk konsumsi anak-anak sekolah. Rasanya sama. Sama-sama hitam. Bedanya, jika rawon beneran, kita gigit kenyal dagingnya, ini kita kunyah sayur kangkungnya.

Mak, si pemilik warung menyuguhkan teh hangat dalam gelas besar ke Pak Tua. “Monggo, Pak”.
“Matur suwun,” kata si Pak Tua. Segera saja ia sruput teh hangat itu.

Mata si Pak Tua, yang cekung dan tajam menerawang ke luar. Menjebol dinding warung yang terbuat dari bambu anyaman yang jarang-jarang itu. Sambil terus mengunyah dan menelan, tatapannya seperti kosong. Nasi satu piring dan teh segelas pun disruput sampai habis. Sepeda dan keranjang rumput dia sandarkan di tiang warung sebelah depan. Hari masih pagi, dan waktu terus berjalan.

“Sampun, pinten, Bu?” tanya Pak Tua pencari rumput sambil berdiri dan menyodorkan uangnya.

“Sampun pun. Kersane,” kata si Mak pemilik warung. Uang itu dikembalikannya lagi.

Pak Tua bengong. “Nggih pun, matur suwun sanget”. Dia pun pergi. Baca lebih lanjut

Januari 12, 2009 Posted by | Sosial-Politik | , , | 2 Komentar

#120: Bermain Dengan Hati dan Otak

Final AFF Suzuki 2008 yang dulu dikenal sebagai turnamen “Piala Tiger” menampilkan juara baru. Timnas sepakbola Vietnam di luar dugaan menggilas juara bertahan Singapura di semifinal, dan berhasil melakukan revans dengan menaklukkan kandidat terkuat Thailand di partai final.

Apa Vietnam lebih baik dari Thailand? Tidak. Vietnam pun tidak lebih baik dari Singapura. Juga tidak lebih baik dari Indonesia. Serangan Vietnam sangat monoton, sering salah umpan dan mudah dipatahkan. Tapi, mereka bermain dengan otak dan hati.  Singapura dan Thailand yang menekan habis-habisan di sepanjang 90 menit pertandingan, tapi pertahanan Vietnam begitu lugas mengantisipasinya. Man to man marking timnas Vietnam sungguh efektif membuat striker Singapura dan Thailand menjadi frustasi. Dan ketika serangan lawan bisa dipatahkan, dengan cepat Vietnam melakukan serangan balik yang mematikan.

Vietnam fisik sangat bagus. Solid, kompak dalam bertahan dan menyerang. Tidak seperti Indonesia. Kalau sudah ketinggalan (dengan gol cepat) sudah pasrah, dunia seperti kiamat. Seperti sudah pasti kalah. Atau sebaliknya, kalau dalam posisi unggul menjadi jumawah. Santai, bertahan, terus jadi kalah (kasus ketika melawan Thailand).

***
Sesungguhnya pemain kita cerdas. Seperti ungkapan salah seorang pemain sepakbola terkenal ketika tim klub sepakbola Italia bertandang ke Indonesia di tahun 90-an, mereka bilang: “Pemain Indonesia itu punya kecepatan. Mereka punya bakat skill bagus. Tapi sayang, kurang cerdas”. Baca lebih lanjut

Januari 12, 2009 Posted by | Olahraga | , | Tinggalkan komentar

#119: Bangsa Koruptor

Sejauh mata memandang, saat ini foto Caleg (baik Caleg DPR/DPRD Tk.1/Tk. 2) terpampang hampir di setiap sudut, pelosok kota/desa. Dari Ciangsana (Bogor), Ujung Aspal (Pondok Gede), Jakarta hingga di pelosok kota/desa seperti di Lamongan ataupun Jombang. Seperti biasa, janji-jani manis, slogan-slogan klise layaknya kecap nomor satu tertulis di samping foto para calon wakil rakyat itu. Mengaku paling religius, paling nasionalis. Di saat dunia sedang krisis, jaman lagi susah, tak menyurutkan niat para caleg itu untuk menjual diri mereka. Ada gula, ada semut. Jabatan wakil rakyat bagaikan gula, dan para caleg itu adalah semutnya.

Muncul pertanyaan usil, apa niat sesungguhnya mereka menjadi wakil rakyat? Ingin mengabdi pada rakyat dengan sesungguhnya? Atau ingin mengejar gengsi jabatan agar jadi orang terpandang? Atau hanya ingin jadi seorang koruptor? Padahal, tidak sedikit modal yang dikeluarkan untuk kampanye. Jika pilihan terakhir yg dipilih, ternyata keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih juga belum bikin jera para calon pejabat/wakil rakyat untuk jera jadi pencoleng, penilep, pengentit, pengutil uang rakyat.

Coba simak berita Jawa Pos, Kamis 11 Desember 2008 berikut ini:

Dari gambar terekam jelas deretan Bupati/Walikota/Mantan BUpati/Walikota di Jawa Timur yang terseret kasus korupsi dengan status terakhirnya (kecuali Mantan Bupati Nganjuk yang bebas). Mereka adalah contoh pejabat-pejabat koruptor, tidak amanah, pengemplang uang rakyat. Jabatan mereka dapat rata-rata sebelum adanya KPK.

Apakah berita Jawa Pos tersebut kemudian sedikit bisa menjawab pertanyaan di atas; apakah para caleg itu ‘kemrungsung’ menjual diri hanya ingin dapat antrian dari penangkapan KPK selanjutnya?
Wallahu’alam. Baca lebih lanjut

Januari 12, 2009 Posted by | Sosial-Politik | | Tinggalkan komentar