*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#003: Wikusama: Sahabat Sekaligus Guru

Ada satu ajaran dalam lingkungan pesantren yang cukup menarik untuk diapresiasi. Tepatnya dalam kitab ta’lim muta’allim, yang berisikan: “Aku adalah hamba dari orang yang mengajariku, walau hanya satu (ayat) katapun.” Literatur sejarah Islam menyebutkan, “ayat” tersebut berasal dari perkataan Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra.

Bila dipahami secara negatif, ayat tersebut bisa mengakibatkan terbentuknya pola hubungan ketertundukan yang bersifat total dari kalangan santri secara berlebihan pada kiai. Ini biasanya terjadi di lingkungan pesantren–walaupun tidak secara keseluruhan.

Padahal, banyak hadis yang menyebutkan adanya proses terjadinya tanya-jawab (dialog) antara sahabat dengan Rasulullah SAW tentang sesuatu hal. Misalnya begini, “…Sahabat bertanya, Rasulullah menjawab…”. Yang ini bisa dipahami bahwa sebenarnya Rasulullah mengajarkan pola hubungan, dialog yang sangat demokratis, dua arah. Bukan monolog! Artinya, salah besar bila dalam pola interaksi kita sehari-hari, ada seorang kiai, guru, ustad tidak mau dan “mengharamkan” untuk diajak berdialog.

Di sisi yang lain, bila dipahami secara positif, maka ayat di atas akan menjadikan kita sebagai manusia yang toleran, tidak tinggi hati, tidakmerasa yang paling berilmu dan akan selalu menjaga langgengnya nilai persahabatan.

Dalam usaha memahami “pemahaman positif” dari ayat di atas, maka bisa saya umpamakan dalam ilustrasi begini: Latar belakang diskusi di millist Wikusama. Misalnya Hilal, Zakki, Anam memosting tentang wawasan keislaman, tentang gerakan Islam-Taliban. Kebetulan saya belum mengetahui itu sebelumnya. Maka bisa dikatakan Hilal dkk itu adalah guru saya.

Contoh yang lain, misalnya Arisandi, Noka, Dodik dll membahas soal sistemUnix/Linux, dan teman-teman enjoy mengikutinya, artinya: Arisandi dkk itu adalah guru dari teman-teman yang belum tahu dan menikmati pengetahuan itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni | , , , , | Tinggalkan komentar