*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#129: Meracik Wacana, Melacak Indonesia (Res:)*

pitutur1Judul: Meracik Wacana, Melacak Indonesia
Penulis: Hasyim Wahid, dkk
Tahun: Pitutur, Edisi I/Juli 2001
Penerbit: Yayasan KLIK (Kajian & Layanan Informasi untuk Keadilan Rakyat)
Hal: 76 halaman

Masa kini (the present) adalah akibat dari masa lalu (the past). Baik-buruk, senang-sedih, gembira-duka, untung-malang, yang kita rasakan saat ini adalah akibat dari kejadian masa lalu. Tapi, waktu tak akan dapat diubah atau ditarik ke belakang. Waktu akan terus berjalan. Semuanya telah terjadi.  Saat ini pun akan menjadi masa lalu (baca: sejarah) di masa yang akan datang (the future). Dan karena sejarah biasanya selalu berulang, maka dengan belajar tentang masa lalu, kita tidak akan terkejut, heran, atau malah akan terjebak dalam perjalanan sejarah yang sama.

Dengan belajar masa lalu, akan menjadi rujukan kita buat menatap masa depan. Buku ini sangat menarik untuk belajar tentang sejarah asal-usul tentang bangsa Indonesia.

Prototype Indonesia

Kini kita sedang berjalan dari peristiwa yang sudah terjadi (the past), sedang terjadi (the present) menuju ke peristiwa di masa depan yang belum pasti (the future). Meskipun belum pasti, namun sesungguhnya kita bisa merancang bagaimana masa depan kita nanti. Untuk mencapai hal itu, kita mesti mau menerima dan mengakui masa lalu kita dengan sejujur-jujurnya. Setelah itu, baru kita mulai bisa merencanakan dan merekayasa masa depan kita.

Proto Indonesia dapat dianalisis dari 3 hal:
1. mulai kemunculannya sebagai wilayah adminstratif;
2. faktor bahasa, dan
3. faktor pendidikan Baca lebih lanjut

Iklan

Februari 27, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , | 5 Komentar

#121: Kampung: Recharge Otak

Orang tua lugu. Kulitnya gelap sepekat gagang sabit yang dia bawa. Pakaiannya lusuh, bercapil (topi) bundar. Makan satu warung denganku. Menunya sederhana; nasi, rawon kangkung (menu rawon tapi daging diganti dengan kangkung), plus tempe dan sambal. Dia makan dengan lahapnya.

Rawon kangkung merupakan menu “khas” kampung. Di saat daya beli masyarakat yang rendah, tapi lidah masih ingin merasakan menu rawon, dengan rawon kangkung, si pemilik warung bisa menjual masakannya dengan harga murah. Biasanya, menu ini untuk konsumsi anak-anak sekolah. Rasanya sama. Sama-sama hitam. Bedanya, jika rawon beneran, kita gigit kenyal dagingnya, ini kita kunyah sayur kangkungnya.

Mak, si pemilik warung menyuguhkan teh hangat dalam gelas besar ke Pak Tua. “Monggo, Pak”.
“Matur suwun,” kata si Pak Tua. Segera saja ia sruput teh hangat itu.

Mata si Pak Tua, yang cekung dan tajam menerawang ke luar. Menjebol dinding warung yang terbuat dari bambu anyaman yang jarang-jarang itu. Sambil terus mengunyah dan menelan, tatapannya seperti kosong. Nasi satu piring dan teh segelas pun disruput sampai habis. Sepeda dan keranjang rumput dia sandarkan di tiang warung sebelah depan. Hari masih pagi, dan waktu terus berjalan.

“Sampun, pinten, Bu?” tanya Pak Tua pencari rumput sambil berdiri dan menyodorkan uangnya.

“Sampun pun. Kersane,” kata si Mak pemilik warung. Uang itu dikembalikannya lagi.

Pak Tua bengong. “Nggih pun, matur suwun sanget”. Dia pun pergi. Baca lebih lanjut

Januari 12, 2009 Posted by | Sosial-Politik | , , | 2 Komentar

#119: Bangsa Koruptor

Sejauh mata memandang, saat ini foto Caleg (baik Caleg DPR/DPRD Tk.1/Tk. 2) terpampang hampir di setiap sudut, pelosok kota/desa. Dari Ciangsana (Bogor), Ujung Aspal (Pondok Gede), Jakarta hingga di pelosok kota/desa seperti di Lamongan ataupun Jombang. Seperti biasa, janji-jani manis, slogan-slogan klise layaknya kecap nomor satu tertulis di samping foto para calon wakil rakyat itu. Mengaku paling religius, paling nasionalis. Di saat dunia sedang krisis, jaman lagi susah, tak menyurutkan niat para caleg itu untuk menjual diri mereka. Ada gula, ada semut. Jabatan wakil rakyat bagaikan gula, dan para caleg itu adalah semutnya.

Muncul pertanyaan usil, apa niat sesungguhnya mereka menjadi wakil rakyat? Ingin mengabdi pada rakyat dengan sesungguhnya? Atau ingin mengejar gengsi jabatan agar jadi orang terpandang? Atau hanya ingin jadi seorang koruptor? Padahal, tidak sedikit modal yang dikeluarkan untuk kampanye. Jika pilihan terakhir yg dipilih, ternyata keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih juga belum bikin jera para calon pejabat/wakil rakyat untuk jera jadi pencoleng, penilep, pengentit, pengutil uang rakyat.

Coba simak berita Jawa Pos, Kamis 11 Desember 2008 berikut ini:

Dari gambar terekam jelas deretan Bupati/Walikota/Mantan BUpati/Walikota di Jawa Timur yang terseret kasus korupsi dengan status terakhirnya (kecuali Mantan Bupati Nganjuk yang bebas). Mereka adalah contoh pejabat-pejabat koruptor, tidak amanah, pengemplang uang rakyat. Jabatan mereka dapat rata-rata sebelum adanya KPK.

Apakah berita Jawa Pos tersebut kemudian sedikit bisa menjawab pertanyaan di atas; apakah para caleg itu ‘kemrungsung’ menjual diri hanya ingin dapat antrian dari penangkapan KPK selanjutnya?
Wallahu’alam. Baca lebih lanjut

Januari 12, 2009 Posted by | Sosial-Politik | | Tinggalkan komentar

#108: Konflik (Politik) Ulama

Menurut (almarhum) KH Ali Ma’shum, “jati diri” NU sesungguhnya terletak pada kepemimpinan ulama. Sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, NU merupakan pengejawantahan dari ide para ulama. Di NU, ulama tidak hanya sekedar dijadikan sebagai simbol, tapi mereka juga memiliki posisi dan tanggung jawab yang tertinggi. Segala keputusan yang dikeluarkan NU, menjadi tanggung jawab dan berada di pundak mereka. Mereka pula yang berkewajiban menuntun umat menuju kebahagian di dunia dan akherat. Karena sangat dominannya posisi ulama, maka kepribadian NU sejak berdirinya (1926) hingga sekarang masih tetap utuh, tidak terpengaruh oleh perubahan situasi dan tidak tumbang oleh kemajuan zaman.

Karenanya, sungguh sangat ironis dan menjadi persoalan yang serius, bila ulama yang memiliki posisi utama dan seharusnya menjadi tokoh panutan masyarakat tersebut, kemudian mengalami konflik di antara sesama mereka sendiri. Baca lebih lanjut

Mei 28, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , , | 1 Komentar

#107: Gus Dur: sebuah Potret Gandhi Modern

Ratusan orang seperti saya boleh enyah, tetapi biarlah Kebenaran bertahta.”
–Mahatma Gandhi.

Potret Singkat Gandhi. Mahatma Gandhi merupakan “Bapak sekaligus Guru Bangsa” bagi India. Tokoh besar yang lahir di Gujarat, 2 Oktober 1869 ini, pada awalnya sangat berniat untuk bisa mempersatukan Hindu-Islam dalam format satu negara; India, setelah sebelumnya berhasil membebaskannya dari penjajahan Inggris. Sayang, harapannya itu kandas. Sang “Jiwa Agung”
(Mahatma) itu meninggal sebelum harapannya terwujud.

Meskipun demikian, Gandhi, dengan niat yang kuat dan ketulusannya, telah menjadi suri tauladan keberanian dan integritas untuk rakyat India dalam perjuangan politik mereka melalui jalan non-kekerasan. Lebih dari setengah abad setelah kematiannya, Gandhi masih menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia (Stanley Wolpert, Mahatma Gandhi: Sang Penakluk Kekerasan Hidupnya dan Ajarannya, Murai Kencana:2001).

Gandhi memang seorang tokoh besar. Jalan yang ditempuh Gandhi lahir dari semangat kesadarannya yang luas tentang berbagai penderitaan sebagai sarana mencapai kebenaran Ilahi. Suatu “isme” yang kemudian dikenal sebagai ajaran Gandhi; “satyagraha” (kekuatan kebenaran), “ahimsa” (anti kekerasan) dan “passion” (menderita karena luka). Baca lebih lanjut

Maret 29, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 2 Komentar

#098: Pecel Lele dan Profesi (sebagai) Petani

Selama dalam perjalanan di ibukota -bukan lewat jalan tol tentunya, pernahkah Anda menghitung, berapa jumlah warung pecel lele di sepanjang jalan yang Anda lalui itu?
Coba diamati juga, berapa warung pecel lele yang ada di deretan warung di sekitar kantor Anda. Pertanyaan ini sederhana, tapi implikasinya luar biasa buat masa depan bangsa.

*
Seminggu yang lalu seorang teman memberi saya sebuah undangan; acara halal-bi halal warga asli Lamongan di Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai penyelenggaranya adalah Paguyuban “PUALAM” (Putra Asli Lamongan). Bupati dan pejabat Pemda Lamongan direncanakan akan hadir dalam acara itu. Sebagai penutup acara, sang Bupati akan mengunjungi wilayah Kebayoran Lama yang disebut-sebut sebagai “Kampung Lamongan” di ibukota; karena -disebutkan dalam undangan itu- hampir 90% masyarakat di sana berasal dari Lamongan yang berprofesi sebagai pedagang ikan di pasar. Baca lebih lanjut

Desember 19, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota, Seni & Budaya, Sosial-Politik | Tinggalkan komentar