*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#143: Antara Hukum dan Premanisme

WW_001Jika kasus Antasari dkk ini benar; Inilah potret buram wajah negeri kita tercinta ini; Indonesia. Premanisme berbaju aparat.

Enak benar jadi pejabat, petinggi aparatur negara, bisa main bunuh orang seenaknya dengan iming-iming kenaikan pangkat. Murah benar nyawa manusia di bumi pertiwi ini. Jika seorang Nasrudin yang direktur saja dengan mudah dihilangkan nyawanya dengan banderol 500 juta rupiah, lalu bagaimana dengan kita (-kita) ini yang hanya seorang buruh kecil, petani kecil, tukang becak, tukang ojek? Berapa harga nyawa kita?

Kolaborasi antara pejabat KPK – pengusaha – pejabat Polri ini akhirnya terungkap dengan cepat (luar biasa!!!). Terlepas salah-benarnya, bahwa terjadi distorsi “demi bela negara” sehingga perlu melenyapkan nyawa orang; apa iya semudah itu? Bealajar dari kasus ini, sudah berapakah nyawa manusia Indonesia yang telah lenyap tanpa terungkap?

Antasari-Wiliardi-Sigit HW mungkin sedang kena hari sial. Banyak kasus kejahatan yang melibatkan pejabat biasanya “aman-aman” saja. Dan baru terungkap kalau sang tokoh dianggap “mengganggu stabilitas kekuasaan” dan tidak memiliki patron ke partai politik besar.

Kali ini, mereka kena batunya. Sebagai rakyat, hikmah dari kasus AA-SHW dan WW ini: Pertama, kerja aparat penegak hukum patut diacungi jempol. Harusnya begitu mereka bekerja; tanpa pandang bulu. Jangan karena pejabat “bulunya tebal”, tidak pernah diungkap, tapi maling ayam/rakyat kecil yang “bulunya tipis” dengan mudah dijebloskan ke penjara. Baca lebih lanjut

Iklan

Mei 8, 2009 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , , | 1 Komentar

#138: Konspirasi Soeharto-CIA: Penggulingan Soekarno 1965-1967 (:Res)

cia3Judul: Konspirasi Soeharto – CIA: Penggulingan Soekarno 1965-1967
Penulis:
Prof. Peter Dale Scott (ringkasan by M. Adnan Anwar)
Penerbit:
PMII Unair & PeKad (Perkumpulan Kebangsaan Anti Diskriminasi)
Cetakan
: 1998
Tebal:
59 halaman

Paper singkat Peter Dale Scott, Profesor dari Universitas California, Barkeley ini membahas bagaimana keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam upaya penggulingan Soekarno (Bung Karno) secara kotor dan berdarah. Tulisan ini begitu penting karena sejarah seputar peristiwa “Gerakan 30 September” (Gestapu) banyak yang disembunyikan, dihilangkan dan diputarbalikkan oleh rezim Orde Baru. Pembantaian terhadap sekutu-sekutu Bung Karno (BK) yang beraliran kiri merupakan hasil konspirasi CIA-Soeharto dibantu intelijen Inggris, Jepang dan Jerman.

Namun, Soeharto dan klannya berdalih, Gestapu adalah penyerangan golongan kiri (menuduh PKI) ke kanan (Jenderal Ahmad Yani cs), yang membawa restorasi kekuasaan dan kemudian pembersihan golongan kiri sebagai hukuman oleh golongan tengah (Soeharto mengklaim posisinya di sini). Padahal, menurut Scott dengan pura-pura melakukan Gestapu, golongan kanan (Soeharto cs) dalam Angkatan Darat (AD) Indonesia melenyapkan golongan tengah (Yani cs yang walaupun kritis tapi tetap loyal ke BK). Dengan kata lain, Gestapu hanyalah merupakan tahap pertama dari tiga tahap yang dibantu secara rahasia oleh juru bicara dan pejabat AS; yakni tahap 1: Gestapu “coup” sayap kiri gadungan (Letkol Untung cs). Kedua, KAF Gestapu; yakni tindakan balasan dengan membunuh PKI secara massal, dan 3: pengikisan pendukung BK secara massif dan progresif. Baca lebih lanjut

April 16, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , | 23 Komentar

#129: Meracik Wacana, Melacak Indonesia (Res:)*

pitutur1Judul: Meracik Wacana, Melacak Indonesia
Penulis: Hasyim Wahid, dkk
Tahun: Pitutur, Edisi I/Juli 2001
Penerbit: Yayasan KLIK (Kajian & Layanan Informasi untuk Keadilan Rakyat)
Hal: 76 halaman

Masa kini (the present) adalah akibat dari masa lalu (the past). Baik-buruk, senang-sedih, gembira-duka, untung-malang, yang kita rasakan saat ini adalah akibat dari kejadian masa lalu. Tapi, waktu tak akan dapat diubah atau ditarik ke belakang. Waktu akan terus berjalan. Semuanya telah terjadi.  Saat ini pun akan menjadi masa lalu (baca: sejarah) di masa yang akan datang (the future). Dan karena sejarah biasanya selalu berulang, maka dengan belajar tentang masa lalu, kita tidak akan terkejut, heran, atau malah akan terjebak dalam perjalanan sejarah yang sama.

Dengan belajar masa lalu, akan menjadi rujukan kita buat menatap masa depan. Buku ini sangat menarik untuk belajar tentang sejarah asal-usul tentang bangsa Indonesia.

Prototype Indonesia

Kini kita sedang berjalan dari peristiwa yang sudah terjadi (the past), sedang terjadi (the present) menuju ke peristiwa di masa depan yang belum pasti (the future). Meskipun belum pasti, namun sesungguhnya kita bisa merancang bagaimana masa depan kita nanti. Untuk mencapai hal itu, kita mesti mau menerima dan mengakui masa lalu kita dengan sejujur-jujurnya. Setelah itu, baru kita mulai bisa merencanakan dan merekayasa masa depan kita.

Proto Indonesia dapat dianalisis dari 3 hal:
1. mulai kemunculannya sebagai wilayah adminstratif;
2. faktor bahasa, dan
3. faktor pendidikan Baca lebih lanjut

Februari 27, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , | 5 Komentar

#127: Pramoedya dari Dekat (Res:)

pram_14Judul   : Pramoedya Ananta Tour dari Dekat Sekali
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Tahun  : Cetakan I, Juli 2006
Penerbit : Gramedia
Hal : xiv+ 266 halaman

Jika anda seorang Pramoedya(n)* sejati, buku ini sepertinya wajib untuk dimiliki. Buku yang lebih tepatnya seperti “catatan harian tentang Pram” ini dipotret oleh orang yang paling dekat dengannya; yakni  Koesalah Soebagyo Toer, adiknya yang nomor-5.

Koes memotret sisi-sisi dari sosok seorang Pramoedya Ananta Tour yang tidak diketahui oleh publik. Buku ini seperti “curhat”-nya Pram. Koes sendiri mengatakan dirinya merasa seperti “keranjang sampah” untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat, atau tidak pantas dikemukakan (oleh Pram) kepada orang lain.

Dalam buku mungil ukuran 13cm x 19cm ini, Koes membagi tiga periode dalam mengupas sisi lain kakaknya;  Periode pertama dari tahun 1981-1986. Periode ke-2 (1987-1992), dan periode ke-3 (1992-2006).

Periode-1  secara garis besar, Koes menceritakan sosok Pram dalam keseharian dan masalah keluarganya.  Pram yang terus didera sakit sejak sering ditahan, kakinya yang ketarik ketika loncat sewaktu mau naik bus, hingga marah-marah karena royalti bukunya belum dikirim. Dalam kesehariannya, Pram yang pernah ikut pamannya juga merasakan tugas-tugas berat: ngepel, nyuci, nyeterika dan belanja.

Diceritakan juga masalah keluarga yang mendera Pram, mulai dari keinginannya untuk segera mensertifikatkan tanah leluhurnya yang diserobot pemerintah Blora. Menikahkan anak perempuannya yang membuatnya pusing -Koes mencatatnya dalam 5 judul- hingga forum silaturahmi lebaran antar saudara. Baca lebih lanjut

Februari 19, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sastra | , , | 3 Komentar

#120: Bermain Dengan Hati dan Otak

Final AFF Suzuki 2008 yang dulu dikenal sebagai turnamen “Piala Tiger” menampilkan juara baru. Timnas sepakbola Vietnam di luar dugaan menggilas juara bertahan Singapura di semifinal, dan berhasil melakukan revans dengan menaklukkan kandidat terkuat Thailand di partai final.

Apa Vietnam lebih baik dari Thailand? Tidak. Vietnam pun tidak lebih baik dari Singapura. Juga tidak lebih baik dari Indonesia. Serangan Vietnam sangat monoton, sering salah umpan dan mudah dipatahkan. Tapi, mereka bermain dengan otak dan hati.  Singapura dan Thailand yang menekan habis-habisan di sepanjang 90 menit pertandingan, tapi pertahanan Vietnam begitu lugas mengantisipasinya. Man to man marking timnas Vietnam sungguh efektif membuat striker Singapura dan Thailand menjadi frustasi. Dan ketika serangan lawan bisa dipatahkan, dengan cepat Vietnam melakukan serangan balik yang mematikan.

Vietnam fisik sangat bagus. Solid, kompak dalam bertahan dan menyerang. Tidak seperti Indonesia. Kalau sudah ketinggalan (dengan gol cepat) sudah pasrah, dunia seperti kiamat. Seperti sudah pasti kalah. Atau sebaliknya, kalau dalam posisi unggul menjadi jumawah. Santai, bertahan, terus jadi kalah (kasus ketika melawan Thailand).

***
Sesungguhnya pemain kita cerdas. Seperti ungkapan salah seorang pemain sepakbola terkenal ketika tim klub sepakbola Italia bertandang ke Indonesia di tahun 90-an, mereka bilang: “Pemain Indonesia itu punya kecepatan. Mereka punya bakat skill bagus. Tapi sayang, kurang cerdas”. Baca lebih lanjut

Januari 12, 2009 Posted by | Olahraga | , | Tinggalkan komentar