*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#103: Hidup Bermasyarakat

Jangan pernah membenci sesuatu secara berlebihan, karena bisa jadi kita akan menjadi bagian dari apa yang kita benci itu. Barangkali, ini adalah sebuah kata bijak yang cukup ampuh terbukti “tuah”-nya. Contoh sederhana, banyak orang yang menikah pada mulanya saling benci atau tidak suka. Banyak orang membenci sesuatu, tapi tak lama kemudian ia berada (terkondisikan) dalam apa yang ia benci itu. Seperti halnya yang sekarang penulis alami.

Dulu –sewaktu masih bergulat dengan dunia dan wacana LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), saya paling alergi dengan segala sesuatu yang berbau militerisme. Tapi sekarang, Tuhan menakdirkan saya untuk hidup bertetangga dengan puluhan prajurit militer, termasuk diantaranya 5 orang Kapten TNI AL dan 1 orang AKBP (setingkat Letkol) Mabes Polri. Bisa dipastikan, dalam hitungan 8 hingga 20 tahun mendatang, bila kenaikan pangkat mereka dihitung secara wajar sesuai dengan aturan kenaikan per-4 tahunan, maka saya memiliki banyak tetangga yang level jenderal. Belum mereka yang berprofesi sebagai sutradara dan krew film, serta anak-anak perwira menengah (pamen) militer. Baca lebih lanjut

Iklan

Januari 25, 2007 Posted by | Family | , , | Tinggalkan komentar

#038: Bila Masyarakat Awam Memaknai Kemerdekaan

Jam di hp-ku menunjukkan pukul 00:15. Pentas dangdut itu belum juga usai. Dua biduanita di atas panggung masih meliuk-liukkan tubuhnya yang terbalut baju ketat, khas penyanyi dangdut, menggoda setiap lelaki untuk berjoget di atas panggung. Dua biduanita lainnya duduk di pinggir, menunggu giliran tampil. Dengan diiringi musik organ tunggal dari Buncit Delapan, biduanita itu berjoget ditemani beberapa penonton yang sengaja memberi ‘sawer’.

Keringat mengucur membasahi wajah mereka. Dengan handuk yang sengaja dikalungkan di leher, mereka seka keringat. Di malam yang kelam itu, mereka menyanyikan lagu “Noda dan Dosa”, sambil berjoget, bergerombol di atas panggung. Keberisikan di tengah malam, di tempat terbuka, yang menjadi “halal” (dimahfumkan) di kehidupan sosial masyarakat. Ya, karena acara itupentas 17-an.

Tiga meter di depan panggung, kursi-kursi sengaja disibakkan. Dipinggirkan, untuk tempat berjoget bagi penonton. Sementara penonton yang lainnya, menikmati alunan musik khas Melayu itu dari kursi pertunjukan, di bawah tenda yang sudah disiapkan sejak pagi. Sebagian penonton yang lain, duduk di bangku-bangku. Ada juga yang duduk di ‘dak’ rumah warga. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar