*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#077: Perjalanan Spiritual (1)

Padepokan Tebet, di suatu malam Jum’at. Langit di atas bumi Padepokan dipenuhi awan pekat. Beberapa hari belakangan ini, badai memang mengguncang di beberapa wilayah Nusantara. Banjir, tanah longsor, hujan deras tiada henti, angin puting-beliung, pepohonan tumbang, membuat panik dan hiruk-pikuk warga. Terutama yang tinggal di daerah pesisir.

Kulihat langit dari tengah taman padepokan, di bawah pohon cemara yang menjulang tinggi. “Malam ini, hujan mungkin akan turun dengan derasnya,” gumamku. Segera aku masuk ke dalam kamar. Kututup pintu. Kuletakkan buku yang tadi kubaca, kubiarkan menumpuk berserakan di sebelah tv, lalu kumatikan lampu. Hanya tv channel ESPN yang menemani.

Di antara titik kritis kesadaran. Wussss, gurden biru yang menutupi kaca di sebelah utara kamar tiba-tiba tersingkap. Sosok laki-laki berjubah putih muncul dari balik gurden itu. Ia berdiri tegak. Mematung, memandangiku dengan diam di pojok kamar sebelah barat, dekat tv yang telah mati. Jubah putih itu terlihat sangat terang di balik kegelapan yang menyelimuti kamar, tapi wajah laki-laki itu samar-samar masih bisa kulihat dan kukenali. Baca lebih lanjut

Iklan

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 1 Komentar

#076: Kursi Kiai Semar

Batavia, 27 Jan ’04.
“Sampeyan tak perlu nglurug (datang berduyun-duyun) ke sini,” kudengarkan Kiai Mujurono menjelaskan kepada seseorang yang tadi menelponnya, di balik hand-phonenya. “Kalau ada isu, sampeyan bisa tabayyun ke saya terlebih dahulu,” kiai Mujurono melanjutkan dengan sedikit tegas.

Kiai Mujurono memang berhak marah. Orang daerah, bila ada masalah biasanya tidak mau menggunakan/melalui mekanisme sistem yang sebenarnya. Inginnya mereka langsung ke Batavia, ketemu dengan Kiai Semar. Menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Kiai Semar. Mereka seolah-olah tidak mempercayai mekanisme sistem yang sudah ada. Dalam benak mereka, ketemu dengan Kiai Semar secara otomatis bisa menyelesaikan masalah.

Urusan pencalegan memang sesuatu yang sensitif. Terkadang, aspirasi pusat tak sejalan dengan yang dikehendaki oleh daerah. Atau sebaliknya, keinginan daerah dianggap kurang tepat bagi pusat. Hubungan pusat-daerah pasca era reformasi ini memang sering membuat suasana tegang bagi sebuah partai politik. Baca lebih lanjut

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | Tinggalkan komentar

#075: Mendorong Kiai Semar Menjadi Raja

Nasution, salah seorang aktivis gerakan mahasiswa ’98, ingin bertemu dengan Kiai Semar. Ia merasa pusing melihat peta gerakan politik di lapangan dewasa ini yang menurutnya sangat membingungkan. Karenanya, ia kemudian menghubungiku, meminta bantuan agar ia dan teman-temannya bisa bertemu dengan Kiai Semar secepatnya.

“Kenapa harus melalui saya?”, tanyaku.

“Karena saya tahu, anda bisa membantu kami untuk menembus Kiai Semar,” alasan Nasution mencoba untuk meyakinkanku.

“Kenapa tidak melewati saluran yang lain?” Baca lebih lanjut

November 15, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | Tinggalkan komentar