*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#076: Kursi Kiai Semar

Batavia, 27 Jan ’04.
“Sampeyan tak perlu nglurug (datang berduyun-duyun) ke sini,” kudengarkan Kiai Mujurono menjelaskan kepada seseorang yang tadi menelponnya, di balik hand-phonenya. “Kalau ada isu, sampeyan bisa tabayyun ke saya terlebih dahulu,” kiai Mujurono melanjutkan dengan sedikit tegas.

Kiai Mujurono memang berhak marah. Orang daerah, bila ada masalah biasanya tidak mau menggunakan/melalui mekanisme sistem yang sebenarnya. Inginnya mereka langsung ke Batavia, ketemu dengan Kiai Semar. Menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Kiai Semar. Mereka seolah-olah tidak mempercayai mekanisme sistem yang sudah ada. Dalam benak mereka, ketemu dengan Kiai Semar secara otomatis bisa menyelesaikan masalah.

Urusan pencalegan memang sesuatu yang sensitif. Terkadang, aspirasi pusat tak sejalan dengan yang dikehendaki oleh daerah. Atau sebaliknya, keinginan daerah dianggap kurang tepat bagi pusat. Hubungan pusat-daerah pasca era reformasi ini memang sering membuat suasana tegang bagi sebuah partai politik. Baca lebih lanjut

Iklan

November 21, 2006 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | Tinggalkan komentar

#072: Duka Seorang Chekov

Hujan rintik menyelimuti Batavia di pagi hari, awal abad 21 ini. Matari sudah beberapa bulan mengalah, tak menunjukkan lagi keperkasaannya. Awan-mendung berarak membuat gelap ibukota. Di sana-sini jalanan aspal basah merata. Mobil merayap lambat di atasnya. Di antara lalu-lintas yang padat itulah, terselip seorang pemuda berperawakan kurus, berkacamata tebal meniti jalan demi jalan menuju tempat kerjanya, yang berjarak sekitar 500 m dari rumah kontrakannya. Dengan muka masam, ia berjalan gontai sambil membawa beberapa buku bacaan. Pagi benar ia sudah berangkat, menyisiri kali kecil di pinggir jalan, menuju kantornya.

Aku mengenalnya: Chekov. Seorang pemuda berbakat, dari keluarga miskin yang mencoba peruntungan hidup di kota besar, Batavia. Ia besar secara otodidaks, karena hobi dan bakatnya tak sejalan dengan latar bekalang pendidikannya. Ia termasuk pemuda periang. Optimis dalam menatap masa depan. Tapi, sebentar! Tidak dengan pagi ini. Wajahnya kelihatan bermuram-durja. Baca lebih lanjut

November 15, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Sastra | , , | Tinggalkan komentar