*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#001: Catatan Harian, Perlukah

Sebelum secara rutin saya bisa berapresiasi dalam sebuah “catatan harian” diWikusama, saya jadi teringat, dulu waktu di STM, di antara teman-temanku,yang paling rajin menulis (mencatat) segala aktivitasnya tiap hari adalahNadhor –sekarang bekerja di PT Indosat, Jakarta. Entah apa yang ia tulis.Yang jelas, pernah saya memergoki ketika ia sedang mengisi buku agendahariannya (diary) di kos-kosannya, dan dengan buru-buru kemudian ia tutup buku itu, sambil mengalihkan perhatian ke hal yang lain.

Saya sendiri terkejut bukan karena apa, tapi karena Nadhor yang begitu”sangar” –waktu itu– kok masih sempat-sempatnya menulis kisah-kisahhariannya bak seorang novelis, penyair yang berhati lembut.

“Dia memang rajin menulis kejadian-kejadian yang ia alami, di bukuhariannya,” kata temanku yang lain.

Saya tanya, “buat apa?” Sampai di sini, pertanyaanku itu berhenti, dan sayamemang tidak tertarik untuk berbuat seperti itu. Dalam benak saya, pekerjaanitu hanyalah memboroskan waktu. Melankolis, dan saya tidak tertarik yang demikian.

Kini, setelah 6 tahun kemudian, saya baru bisa menyadari betapa pentingnyaarti dari sebuah “catatan harian”. Anton Chekov (1860-1904), seorangpengarang besar dari Rusia, bisa dikenal sebagai seorang sastrawan besarkarena berkat isi dari catatan-catatan hariannya yang begitu menarik banyakorang. Padahal, semuanya itu ia berangkat dari ketidaksengajaan dan darisegala sesuatu yang sederhana. Tapi oleh seorang pengarang besar Rusia yang lain, karya Chekov itu disebutkan sebagai sesuatu yang mengingatkan pada kita, bahwa kehidupan manusia itu ada. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 11, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | | Tinggalkan komentar