*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#088: Belajar Dari Masa Lalu Itu Tetap Perlu

Belum lama berselang, seseorang terjungkal dari kursi empuknya karena melakukan sebuah kesalahan dalam membuat kebijakan yang diskriminatif (baca: timpang). Ia, tidak hanya menjadi bahan kutukan (baca: musuh) bersama, tapi juga terlempar dari kursi panasnya. Kini, kasus itu sepertinya terulang lagi.

Orang mungkin lupa, belajar dari masa lalu itu tetaplah perlu. Saat ini, orang begitu mudah melupakan masa lalu. Dipikir, apa yang terjadi pada masa lalu itu tidaklah penting. Karenanya, banyak orang beranggapan, lupakan masa lalu dan tatap masa depan saja. Sebuah anggapan yang simplifikatif, tentunya.

*
Masa lalu, bagaimanapun buruknya yang terjadi, tetaplah perlu dipelajari sebagai bahan evaluasi ke depan, agar kelak di kemudian hari kita tidak terjerumus dalam lubang kesalahan yang sama. Masa lalu, seperti yang dikatakan oleh Jose Ortega Y. Gasset, adalah masa lalu bukan karena ia terjadi pada orang lain (pada masa lalu), tetapi karena ia membentuk bagian-bagian kehidupan kita di masa kini. Kehidupan sebagai realitas merupakan kehadiran absolut: kita tidak bisa mengatakan tidak ada sesuatu apapun kecuali yang hadir pada masa kini. Karena ada masa lalu yang “aktif” pada masa kini (Ortega Y. Gasset, “Histori as a System” dalam Hans Meyerhoff [ed], The Philosophy of History in Our Time, 1959). Baca lebih lanjut

Iklan

November 29, 2006 Posted by | Esia, Ideologi Sikap Otak, Sejarah & Peradaban | Tinggalkan komentar

#087: Rintihan…

Kepalaku penat. Syaraf otakku berdenyut-denyut seolah-olah ingin ambrol saja. Inspirasi dan ide begitu banyak, tapi sulit untuk kutuangkan dalam tataran teks. Ide, inspirasi, asumsi, hipotesa, semua bercampur menjadi satu. Berbaur, seiring dengan telingaku yang mendengar berita, mataku yang melihat dan membaca, dan otakku yang kemudian melakukan analisa. Semua bergelindan menjadi satu.

***
Dadaku serasa bergetar. Denyut jantungku berdecak keras. Terlalu banyak ide menimbulkan pergulatan pikiran di dalam batin. Ide-ide itu mengisi setiap relung-relung otak, seperti halnya arus Ciliwung yang mengalir deras melewati kanal-kanal.

Telah kutemukan hipotesa tentang nasionalisme yang lebih bersifat fisik, atau aku menyebutnya sebagai “nasionalisme semu” di kalangan militer. Kebobrokan negara karena kebijakannya yang cenderung a-historis; mengangkangi hukum di bawah daulat kekuasaan. Tentang kerajaan nusantara; kaitannya dengan kehidupan sekarang. Atau tentang Banjir Kanal Timur dan kebijakan-kebijakan Pemprov DKI dengan segala kontroversinya. Dan masih banyak lagi yang lain. Duh, begitu banyaknya…… Baca lebih lanjut

November 28, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | Tinggalkan komentar

#086: Banjir Kanal Barat

Warnanya kecoklatan. Air itu mengalir cukup deras. Membawa segala benda yang terapung di atasnya. Onggokan sampah, kayu, papan, gabus, kain, dedaunan, dan tumpukan plastik dengan segala isinya (entah itu apa). Semua mengalir menuju ke arah barat. Kira-kira 50m per menit-nya.

Seminggu yang lalu, ketinggiannya masih di bawah batas atas pinggiran sungai. Lapak berwarna coklat, di bawah pohon berdaun lebat, di sebelah rimbunan pohon pisang, masih membuka “usaha”-nya. Para pramuria (penjaja cinta), dan langganannya masih melakukan “transaksi” di pinggiran kali itu. Hanya bertutupkan terpal berwarna coklat, beralaskan koran bekas, mereka lupakan semua norma. Lepaskan nafsu hasratnya, menikmati (konon) “indahnya” dunia dalam waktu tak lebih dari 10 menit saja!

Kini, sejak hujan deras mengguyur ibukota selama dua hari lalu, lapak coklat itu hanya menyisakan cerita. Air sungai naik, menenggelamkan dasaran lapak, merendam pepohonan di sekitarnya. Koran-koran bekas yang ikut “berjasa” dan menjadi saksi bisu atas “kenikmatan” mereka, sudah pergi entah ke mana. Terbawa arus, tentunya. Atau, barangkali nyangkut di akar-akar pohon yang kebanjiran. Baca lebih lanjut

November 28, 2006 Posted by | kebijakan Ibukota, Sejarah & Peradaban | Tinggalkan komentar

#085: no identification

November 28, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

#084: Re-launching: Antara Spirit, Tema, dan Berani Tampil Beda

Bila “launching” diartikan sebagai peluncuran, maka “re-launching” bermakna peluncuran ulang. “Re” menunjukkan adanya kegiatan yang bersifat mengulang(i) dari yang telah dilakukan sebelumnya. “Re” juga menandakan adanya sebuah revisi.

Menjadi pertanyaan penting kemudian, apakah “re” yang dimaksud dengan re-launching itu nanti tidak berdampak pada image di masyarakat tentang Esia; bahwa (target) launching sebelumnya dianggap kurang mengena (baca: gagal) bagi pasar? Berikut ada cerita menarik yang berkaitan tentang itu.

*
Produsen sepeda motor nomor satu di Indonesia, Honda, baru-baru ini meluncurkan produk baru mereka dengan label “Karisma X”. Munculnya versi X ini merupakan kelanjutan, sekaligus mengakhiri dari dua versi Karisma sebelumnya, “Karisma125” dan “Karisma125D” yang dilepas ke pasar pada akhir tahun 2002. Baca lebih lanjut

November 28, 2006 Posted by | Esia | Tinggalkan komentar

#083: no identification

November 28, 2006 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar