*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#158: Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri (:Res)

senopatiJudul                : Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri
Penulis              : Gamal Komandoko
Penerbit            : Diva Press
Edisi                 : Cet-I, Mei 2009
Tebal                : 400 halaman
Harga               : 34.000,-
Tempat Beli      : Jakarta Book Fair 2009, Istora
Peresensi          : aGusJohn

Buku ini seperti menjadi lanjutan dari karya sebelumnya, Joko Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu”. Walaupun data sejarah yang digunakan bersifat normatif –yang berlaku umum, tapi produktifitas sang penulis dalam membuat novel sejarah patut diacungi jempol.

Buku yang teridir dari 19 bab ini mengupas habis tentang Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati Ing Alaga Sayyidin Panatagama, raja pertama Mataram Islam. Berikut ringkasan novel sejarah ini:

***
Ki Pamanahan resah bercampur kecewa. Bumi Mentaok sebagai hadiah sayembara dalam mengalahkan Aryo Penangsang belum juga diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang. Sultan yang masa mudanya bernama Joko Tingkir itu terkesan mengulur, menunda-nunda atas pemberian hadiah tersebut. Padahal, tanah Pati yang menjadi satu paket dalam hadiah sayembara tersebut sudah diserahkan ke Ki Penjawi, sepupu Ki Pamanahan.

Pamanahan benar-benar sangat kecewa, karena kesetiaan, pengabdian yang selama ini ia lakukan seolah-olah diabaikan begitu saja oleh Sultan Hadiwijaya. Pengorbanan demi kewibawaan Kasultanan Pajang yang ia lakukan tatkala tidak satupun orang Pajang yang berani melawan Aryo Penangsang, Adipati Jipang yang sakti mandraguna. Pamanahan merasa dirinya sangat berjasa pada berdirinya Pajang. Baca lebih lanjut

Iklan

September 1, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , | 6 Komentar

#150: Mangir (:Res)

mangirJudul: Mangir
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun: Cet-6, Mei 2006
Hal: 114 halaman + XLIX
Tempat Beli: TB Utan Kayu
Tanggal Beli: 2 Juni 2009
Harga: 25.000
Diresensi Oleh: aGusJohn

Buku ini bukan novel yang berisi narasi dan deskripsi yang runut, melainkan buku tentang drama sejarah. Cerita panggung, teater. Ada pelaku, babak, dan panggung. Dalam buku yang ditulis di Pulau Buru ini, Pramoedya Ananta Toer sepertinya mencoba melucuti sejarah kiasan (ciri khas pujangga Jawa Tengah pasca runtuhnya Majapahit) dengan model drama. Jadi tidak heran, semua perlambang-perlambang (simbol-simbol) di-”ilmiah”-kan.

Menurut Pram –dalam bukunya yang sempat hilang (baca: dirampas rezim Orba) dan diselamatkan oleh Gereja Katholik Namlea, Buru dan Universitas Cornell, Ithaca, America Serikat ini, Mataram mengalami kemunduran (set-back) soal pemikiran dan sastra karena terlalu banyak menggunakan simbol-simbol, kiasan, yang berbeda dengan jaman Majapahit (Negarakertagama, Mpu Prapanca) yang sudah terbuka dengan budaya bangsa lain (Tiongkok). Hal ini bisa dipahami, karena orientasi Majapahit adalah negara maritim, sedangkan Mataram Baru identik dengan negara pedalaman.

Tokoh Baru Klinting, misalnya. Dalam sejarah yang tersebar, ia digambarkan sebagai sebuah tombak pusaka sakti peninggalan nenek moyang Wanabaya Ki Ageng Mangir (Mangir muda). Dalam cerita film, kakek Mangir muda adalah cucu bungsu dari raja Majapahit terakhir (Dewi Suhita?). Oleh Pram, Klinting digambarkan sebagai manusia biasa dengan kecerdikan yang luar biasa sehingga di-“tua”-kan di perdikan Mangir. Dia adalah “anak haram” Mangir tua dengan perawan Mendes. Berarti, Klinting adalah saudara kandung seayah beda ibu Mangir muda. Baca lebih lanjut

Juni 16, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , | 2 Komentar

#131: Bagelen dan Mataram Kuno (Res:)

bagelenJudul: Bagelen dan Mataram Kuno
Penulis: Radix Penadi
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial dan Budaya
Cetakan: 1988
Tebal: 59 Halaman

Bagelen memiliki nilai dan karismatik sebagai sebuah wilayah. Wilayah yang luas -terdapat 20 kecamatan jika dibandingkan dengan kondisi administratif saat ini- dan terletak di Jawa Tengah bagian selatan (tepatnya di Yogyakarta) itu memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah tanah air. Operasi militer, perlawanan terhadap Kompeni, pembangunan candi (Prambanan dan Borobudur) merupakan beberapa bukti pentingnya wilayah tersebut.

Bukti-bukti kebesaran Bagelen tercatat sebagai berikut:
1. di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk pernah memerintahkan untuk menyelesaikan pembangunan candi makam dan bangunan para leluhur, menjaga serta merawatnya dengan serius (Negarakertagama);
2. di era Demak, Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) mengunjungi Bagelen dan mengangkat muridnya, Sunan Geseng untuk berdakwah di wilayah Bagelen;
3. di awal Dinasti Mataram, Panembahan Senopati menggalang persahabatan dengan para kenthol (tokoh-tokoh) Bagelen untuk menopang kekuasaannya.
4. ditemukannya bukti-bukti sejarah, seperti Lingga (52 buah), Yoni (13), stupa/Budhis (2), Megalith (22), Guci (4), Arca (38), Lumpang (24), Candi Batu atau berkasnya (8), Umpak Batu (16), Prasasti (3), Batu Bata (8), temuan lain (17), dan Umpak Masjid (20). Baca lebih lanjut

Maret 10, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , | 26 Komentar