*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#138: Konspirasi Soeharto-CIA: Penggulingan Soekarno 1965-1967 (:Res)

cia3Judul: Konspirasi Soeharto – CIA: Penggulingan Soekarno 1965-1967
Penulis:
Prof. Peter Dale Scott (ringkasan by M. Adnan Anwar)
Penerbit:
PMII Unair & PeKad (Perkumpulan Kebangsaan Anti Diskriminasi)
Cetakan
: 1998
Tebal:
59 halaman

Paper singkat Peter Dale Scott, Profesor dari Universitas California, Barkeley ini membahas bagaimana keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam upaya penggulingan Soekarno (Bung Karno) secara kotor dan berdarah. Tulisan ini begitu penting karena sejarah seputar peristiwa “Gerakan 30 September” (Gestapu) banyak yang disembunyikan, dihilangkan dan diputarbalikkan oleh rezim Orde Baru. Pembantaian terhadap sekutu-sekutu Bung Karno (BK) yang beraliran kiri merupakan hasil konspirasi CIA-Soeharto dibantu intelijen Inggris, Jepang dan Jerman.

Namun, Soeharto dan klannya berdalih, Gestapu adalah penyerangan golongan kiri (menuduh PKI) ke kanan (Jenderal Ahmad Yani cs), yang membawa restorasi kekuasaan dan kemudian pembersihan golongan kiri sebagai hukuman oleh golongan tengah (Soeharto mengklaim posisinya di sini). Padahal, menurut Scott dengan pura-pura melakukan Gestapu, golongan kanan (Soeharto cs) dalam Angkatan Darat (AD) Indonesia melenyapkan golongan tengah (Yani cs yang walaupun kritis tapi tetap loyal ke BK). Dengan kata lain, Gestapu hanyalah merupakan tahap pertama dari tiga tahap yang dibantu secara rahasia oleh juru bicara dan pejabat AS; yakni tahap 1: Gestapu “coup” sayap kiri gadungan (Letkol Untung cs). Kedua, KAF Gestapu; yakni tindakan balasan dengan membunuh PKI secara massal, dan 3: pengikisan pendukung BK secara massif dan progresif. Baca lebih lanjut

Iklan

April 16, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban | , , , , , , , | 23 Komentar

#068: Lahirnya Kota Jakarta, Awal Kolonialisme atas Nusantara

Dari Padepokan Tebet, terus ke Mampang Prapatan, Warung Buncit, Kebon Sirih, Cililitan, Kalibata, Matraman, Kramat Raya, Ciganjur, dan begitu seterusnya. Ngeluyur, memutari ibukota Jakarta, aku tak ada bosannya. Mungkin, aku ini makhluk yang tak pernah sadar, bahwa, bumi yang kuinjak ini penuh dengan lintasan sejarah. Bahwa, jalan yang selama ini kulewati pernah menjadi saksi bisu catatan sejarah masa lalu.

Nama Warung Buncit, sebagai pertanda menyisakan cerita adanya seorang Cina berperut buncit yang buka warung kelontong di sebuah jalan jaman dulu, yang kini bernama Jl. Mampang Prapatan dan diteruskan ke selatan dengan nama jalan Warung Jati Barat.

Kebon Sirih, dan nama-nama daerah yang berawalan “kebon” menandakan kalau Jakarta ini dulunya ladang luas yang subur. Ada Kebon Bawang, Kebon Kacang, Kebon Jahe, Kebon Sirih, Kebon Jeruk, Kebon Jati, Kebon Jambu, Kebon Kosong, Kebon Manggis, Kebon Mawar, Kebon Melati, Kebon Pala, Kebon Pedati, Kebon Sayur, Kebon Sereh, Kebon Nanas, Kebon Nangka, Kebon Pisang, Kebon Mangga, Kebon Kelapa, Kebon Baru, dan sebagainya. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban | , , , | Tinggalkan komentar

#065: Kedunguanku

Kata banyak orang di kampung, aku ini pintar karena bisa bersekolah di tempat yang elite di Malang (waktu itu). Kata tetanggaku, aku ini anak yang beruntung karena sehabis sekolah langsung kerja di Jakarta. Kata orang tua, aku memang cerdas, karena berhasil menyabet segala macam penghargaan ketika dulu masih berusia kurcaci. Tapi catat, aku ini sebenarnya orang dungu!

Bagaimana tidak dungu? Ketika aku lebih cinta akan ikatan primordial, ikatan emosional semata daripada sebuah fakta sejarah yang sebenarnya. Bagaimana tidak dungu, karena aku lebih fanatik terkungkung dalam ikatan ideologi, daripada ‘melek’ terhadap fakta sejarah yang terjadi.
Aku marah ketika orang lain membeberkan kebobrokan tentara, karena bapakku tentara. Karena saudaraku tentara. Karena ayah mertua kakakku seorang pensiunan provost militer (PM). Aku gusar ketika ideologiku dikritik orang, karena aku pembela mati-matian ideologi itu. Hidup-mati ingin bersama ideologiku. Aku ketar-ketir ketika tokoh idolaku dihujat, karena aku menghormatinya. Aku mengaguminya. Aku terpesona oleh intelektualitas dan ketokohannya yang luar biasa. Baca lebih lanjut

November 8, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , , | Tinggalkan komentar

#029: Lupakanlah Aku, Laila

SAMPAILAH Laila di Jakarta. Kemarin pagi, burung besi yang ditumpanginya telah mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Begitu turun dari tangga pesawat, ia hanya mampu menundukkan wajahnya dengan muka yang masam. Penuh dengan kelelahan. Ia tidak sempatkan mampir ke toilet, atau sekedar hanya mencari makanan ringan. Ia tampak begitu lelah. Begitu barang-barangnya dirasa sudah komplit, tanpa banyak sikap-kata, ia langsung meluncur ke rumahnya, di sebuah bilangan komplek elite di wilayah Jakarta Barat.

#
KAWASAN perumahan itu begitu asri. Rumah-rumah berderet dengan rapi, dipisahkan oleh blok-blok huruf, yang menjadi ciri khas background politik si penghuni. Pepohonan menghijau, mengelilingi lokasi komplek. Juga di depan tiap rumah.

Rumah itu besar, tapi sering kosong. Maklum, rumah dinas kaum elite di negeri ini. Sepi. Penghuni rumah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Begitu sampai di rumah, hanya mbak Yem, sang pembantu rumah dinas itu, yang menemuinya. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , | Tinggalkan komentar

#009: Reuni

Dik Ali (Ali Thamrin, angkatan 3) pernah cerita ke saya, mengenai sulitnya mengumpulkan teman-teman yang berada di daerah [Surabaya dll] untuk diajak dalam acara reuni kelas. Padahal, acaranya juga di daerah. Menurut Ali, itu terjadi karena ada perasaan minder dari teman-teman di daerah bila bertemu dengan teman-teman dari [yang bekerja di] Jakarta.

Lho, kok bisa? Ya, memang begitu kenyataannya. Di samping halangan sakit, biasanya sibuk karena rutinitas pekerjaan juga dijadikan sebagai alasan. Tapi minder atau tak percaya diri, menurut Ali merupakan alasan yang kerapkali keluar.

Kenapa begitu? Menurut saya, itu bisa saja terjadi, bila seandainya harta dijadikan sebagai parameter [tolak ukur] dalam berteman. Ada image, seolah-olah yang bekerjadi Jakarta itu glamour, hidup penuh dengan kesuksesan dsb. Padahal sama saja.

Contoh kecilnya saja, saya misalnya. Sampai kini pun tidak memiliki properti yang berarti, aset pribadi yang berlebih, atau bahkan [boro-boro] mobil pribadi…:) Padahal kerja sudah lama. Justru teman-teman di daerah sudahpunya rumah di Sidoarjo, misalnya. Jadi, kenapa harus minder? Semua sama saja. Sederhana saja berpikir: Tuhan menilai akhlak. Menilai bermanfaat atau tidaknya manusia terhadap lingkungan di sekitarnya, dan bukan dari kekayaannya.

Kalau alasannya karena “gengsi” pekerjaan. Banyak macam ragam pekerjaan yang bisa memberikan pendapatan –tidak hanya berkutat pada perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi belaka. Ada pabrik, berniaga/berdagang, wiraswasta, kerja di level wacana atau massa-basis (LSM, Lembaga Swadaya Masyarakat) dsb. Belum tentu, kerja di perusahaan telekomunikasi gajinya bisa lebih besar dari seorang office boy di sebuah LSM. Karena saya pernah tahu itu. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni | , , | Tinggalkan komentar