*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#002: Menikahi Janda & Problema Gender

Saya telpon seorang sahabat nan jauh di sana, di luar wilayah Jakarta. Saya tanya, “Mbak, bagaimana kalau aku kawin dengan seorang janda?” Agak lama terdiam, kemudian sahabat itu bilang, “Yaaaa, ndak papa, Gus.Cuman masalahnya, kamu siap ndak? Soalnya, mungkin ini yang pertama terjadi di alumni Wikusama.”

Saya pun spontan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Begitupun dengan sang mBak yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri itu. Tentu saja obrolan itu hanyalah sebuah kelakar belaka. Biasa, seperti bila kita bertemu atau saling berkomunikasi. Penuh dengan canda-tawa.

***
Dari obrolan singkat di atas, menunjukkan bahwa nasib wanita masih begitu”mengenaskan”. Wanita masih dianggap rendah. Image masyarakat juga tidakbegitu banyak berubah; tidak memihaknya. Uniknya, yang bicara seperti itu dari kalangan wanita –dalam hal ini sahabat saya.

Ketidakadilan pandangan terhadap perempuan dalam konteks kehidupan sosial di masyarakat, bisa kita uji kemudian dengan catatan-catatan berikut ini: Pertama, kenapa bila jejaka mengawini janda, menjadi berita heboh, sementara bila duda mengawini perawan “ting-ting” itu menjadi hal yang biasa? Dan, itu justru menjadi “nilai tambah” bagi sang pria. Sang pria akan dikatakan sebagai seseorang yang “hebat”, “tokcer”!

Kedua, bila di suatu lingkungan masyarakat, ada seorang lelaki yang suka”jajan” (main ke tempat-tempat lokalisasi WTS) tidak diheboh atau digunjingkan, sementara bila ada mantan WTS (wanita tuna susila) yang ingin tobat dan kembali ke lingkungan masyarakat secara baik-baik masih tetap saja diasingkan? Digunjingkan, dihina, dipandang rendah dan diisolir dari pergaulan? Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 11, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Religi | , , | 2 Komentar

#001: Catatan Harian, Perlukah

Sebelum secara rutin saya bisa berapresiasi dalam sebuah “catatan harian” diWikusama, saya jadi teringat, dulu waktu di STM, di antara teman-temanku,yang paling rajin menulis (mencatat) segala aktivitasnya tiap hari adalahNadhor –sekarang bekerja di PT Indosat, Jakarta. Entah apa yang ia tulis.Yang jelas, pernah saya memergoki ketika ia sedang mengisi buku agendahariannya (diary) di kos-kosannya, dan dengan buru-buru kemudian ia tutup buku itu, sambil mengalihkan perhatian ke hal yang lain.

Saya sendiri terkejut bukan karena apa, tapi karena Nadhor yang begitu”sangar” –waktu itu– kok masih sempat-sempatnya menulis kisah-kisahhariannya bak seorang novelis, penyair yang berhati lembut.

“Dia memang rajin menulis kejadian-kejadian yang ia alami, di bukuhariannya,” kata temanku yang lain.

Saya tanya, “buat apa?” Sampai di sini, pertanyaanku itu berhenti, dan sayamemang tidak tertarik untuk berbuat seperti itu. Dalam benak saya, pekerjaanitu hanyalah memboroskan waktu. Melankolis, dan saya tidak tertarik yang demikian.

Kini, setelah 6 tahun kemudian, saya baru bisa menyadari betapa pentingnyaarti dari sebuah “catatan harian”. Anton Chekov (1860-1904), seorangpengarang besar dari Rusia, bisa dikenal sebagai seorang sastrawan besarkarena berkat isi dari catatan-catatan hariannya yang begitu menarik banyakorang. Padahal, semuanya itu ia berangkat dari ketidaksengajaan dan darisegala sesuatu yang sederhana. Tapi oleh seorang pengarang besar Rusia yang lain, karya Chekov itu disebutkan sebagai sesuatu yang mengingatkan pada kita, bahwa kehidupan manusia itu ada. Baca lebih lanjut

Oktober 11, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | | Tinggalkan komentar