*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#024: Filsafat Mahabarata [4-Habis]

KETIKA

Ketika epos Mahabarata menceritakan tentang kisah percintaan Kresna dan Radha, maka muncul filsafat, “Tak ada perbedaan dalam cinta suci“.

Ketika Kresna menikah dan ikut mertua, maka sang ibu, Yasoda, merasa tidak rela, “Keberatan seorang ibu bukanlah suatu kebencian. Justru ia mengandung nilai kasih sayang“. Ketika melihat fragmen begitu sayangnya Yasoda pada Kresna, “Kasih ibu pada anaknya“.

Keberhasilan/kesuksesan seseorang adalah berkat tirakat orang tuanya“.

Ketika Kresna kecil begitu nakal dengan memimpin teman-temannya untuk mencuri mentega di setiap rumah penduduk, biar penduduk tidak memproduksi mentega, dengan maksud ke depan untuk menghambat persembahan mentega itu pada Kansa, raja Matura yang bengis, maka muncul filsafat “Orang besar adalah ketika kecil sudah menjadi pusat perhatian orang“; “Orang besar adalah ketika ia bisa menjengkelkan, sekaligus dirindukan“; “Orang besar adalah ketika ia dekat dengan ‘urat nadi’ ibunya, sehingga ia mendapatkan perkenan dan restunya“; “Orang besar adalah ketika mempersembahkan segenap hidupnya untuk orang lain“. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 16, 2006 Posted by | Filsafat, Sastra | , | 3 Komentar

#023: Filsafat Mahabarata [3]

KETIKA

Ketika Duryudana tidak meminta restu ibunya, Dewi Gandari, sebelum berperang melawan Pandawa, maka muncul ajaran filsafat “Kutukan ibu lebih hebat dari restunya“.

Ketika Duryudana memerintah Hastinapura dengan lalim dan tamak, “Jika orang bersandar pada kejahatan, maka pintu kehancuran sudah terbuka“. “Ketamakandan kelicikan dapat menghancurkan bangunan istana kebaikan“.

Ketika Pandu meninggal tatkala Pandawa lahir, “Jiwa akan abadi, kebenaranakan tetap terjaga“.

Ketika Dewi Madrim (ibu Nakula dan Sadewa) ikut mati bersama Pandu, “wujud kesetiaan seorang istri“.

Ketika Raja Kansa membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir, “Kelaliman adalah investasi kebinasaan. Kebaikan adalah tangga menuju kesuksesan“. Baca lebih lanjut

Oktober 13, 2006 Posted by | Filsafat, Sastra | , | Tinggalkan komentar

#022: Filsafat Mahabarata [2]

KETIKA

Ketika Drupadi ditelanjangi Dursasana di depan forum istana Hastina, maka muncul sebait kalimat, “Waktu tak bisa menutup mata atas peristiwa yang terjadi. Ia hanya menjadi saksi“.

Ketika melihat peran Ibu Kunti yang bijaksana dan berlaku adil, “Kedudukan wanita utama sangatlah mulia“.

Ketika Sang Kresna membeberkan tentang rahasia alam dan peran manusia, “Setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab atas perbuatannya“.

Ketika Bisma gelisah melihat Duryudana, “Kebijakan yang menjauhi kebenaran, maka ia akan mendekati kehancuran“.

Ketika Arjuna ingin meminta senjata ampuh yang lebih banyak lagi dari para dewa, “Bagi manusia, melewati batas adalah tidak mungkin“. Baca lebih lanjut

Oktober 13, 2006 Posted by | Filsafat, Sastra | , | Tinggalkan komentar

#021: Filsafat Mahabarata [1]

“Waktu kan berpihak pada kesalahan, bila kebenaran itu tak ditakdirkan.” Sebaris kalimat yang berbau filsafat di atas, penulis sempatkan rangkai ketika menyaksikan kekalahan kubu Pandawa dari Kurawa, pada saat kedua kubu itu menyelesaikan sengketa mereka dengan mempertaruhkan harta, tahta, dan wanita, di atas meja perjudian.

Sebuah cuplikan dari tayangan yang menceritakan tentang epos kepahlawanan yang bertajuk “Mahabarata”, yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta selama tiga bulan, setahun yang lalu.

INTERPRETASI YANG BERBEDA

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menginterpretasikan suatu persoalan. Persoalan itu bisa berupa; apa yang mereka lihat, apa yang dirasakan, apa yang dikerjakan, apa yang dibaca, apa yang dipelajari, dsb.

Dengan contoh analogi yang lebih sederhana; dua orang yang mengamati satu benda yang sama, tentu memiliki penafsiran yang berbeda atas benda tersebut. Maka, dari penafsiran yang berbeda, muncul sebuah pengetahuan baru. Baca lebih lanjut

Oktober 13, 2006 Posted by | Filsafat, Sastra | , | Tinggalkan komentar

#020: Kisah Cinta Para Raja

Rabu, 25/6/03 jam 20:00. Salah satu stasiun televisi swasta menayangkan film Indonesia berjudul “Damarwulan”. Dikisahkan dalam film tersebut, ada seorang pemuda gunung bernama Damarwulan, ingin mengabdikan diri pada Kerajaan Majapahit. Untuk menuai maksudnya, dalam perjalanannya dia selalu ditemani oleh dua orang cantriknya, Sabda Palon dan Naralaya (?). Maka, pergilah mereka bertiga menuju Majapahit.

Ketika memasuki fragmen yang mengetengahkan cinta, penulis jadi semakin tertarik. Rencana pergi ke KSBD (Kebun Sirih Barat Dalam) 26 pun jadi batal. Diceritakan, setelah berjalan cukup lama, sampailah Damarwulan di pelataran istana kerajaan.Tanpa diduga, Sang Patih telah memergoki mereka. Patih pun menanyakan maksud dan tujuan mereka bertiga. Karena sikap dan tingkah laku Damarwulan sangat sopan, maka diterimalah ia sebagai kepala prajurit di kerajaan. Selama menjadi kepala prajurit itulah, Damarwulan berjumpa dengan Anjasmara, putri Sang Patih. Baca lebih lanjut

Oktober 13, 2006 Posted by | Filsafat, Sastra | , | 2 Komentar