*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

Peristiwa 10 November Buah dari Resolusi Jihad NU

hari pahlawanSelasa, 10 November 2009 11:17

Bogor, NU Online
Peristiwa bersejarah¬† heroisme arek-arek Surabaya dan santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat pada 10 November 1945 merupakan buah alias dampak dari dikeluarkannya ‘resolusi jihad’ atau seruan perang yang dicetuskan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU).

Demikian dikemukakan oleh Rektor Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Jawa Barat, Dr Nandang Najmulmunir, MS kepada NU Online di Bogor, Selasa (10/11).

Menurut Nandang Najmulmunir, peristiwa 10 November sangat bersejarah bagi RI, karena momen tersebut menjadi titik balik perjuangan bangsa Indonesia dalam memukul mundur tentara sekutu yang ingin menduduki kembali wilayah kedaulatan NKRI yang pada saat itu masih “seumur jagung.”

“Peristiwa 10 November terjadi berkat adanya keputusan resolusi jihad yang dikeluarkan NU. Peristiwa tersebut merupakan dampak langsung dari dikeluarkannya keputusan ulama NU,” papar pria yang menamatkan studi S1 – S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Lebih lanjut Nandang mengemukakan, resolusi jihad dikeluarkan ulama NU pada 22 Oktober 1945. Keputusan tersebut ditempuh setelah ulama-ulama dan konsul NU dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Surabaya untuk menyikapi situasi politik terkait dengan masuknya kembali penjajah ke Indonesia yang baru merdeka. Baca lebih lanjut

Iklan

November 10, 2009 Posted by | Islam & NU | , , , | Tinggalkan komentar

#129: Meracik Wacana, Melacak Indonesia (Res:)*

pitutur1Judul: Meracik Wacana, Melacak Indonesia
Penulis: Hasyim Wahid, dkk
Tahun: Pitutur, Edisi I/Juli 2001
Penerbit: Yayasan KLIK (Kajian & Layanan Informasi untuk Keadilan Rakyat)
Hal: 76 halaman

Masa kini (the present) adalah akibat dari masa lalu (the past). Baik-buruk, senang-sedih, gembira-duka, untung-malang, yang kita rasakan saat ini adalah akibat dari kejadian masa lalu. Tapi, waktu tak akan dapat diubah atau ditarik ke belakang. Waktu akan terus berjalan. Semuanya telah terjadi.  Saat ini pun akan menjadi masa lalu (baca: sejarah) di masa yang akan datang (the future). Dan karena sejarah biasanya selalu berulang, maka dengan belajar tentang masa lalu, kita tidak akan terkejut, heran, atau malah akan terjebak dalam perjalanan sejarah yang sama.

Dengan belajar masa lalu, akan menjadi rujukan kita buat menatap masa depan. Buku ini sangat menarik untuk belajar tentang sejarah asal-usul tentang bangsa Indonesia.

Prototype Indonesia

Kini kita sedang berjalan dari peristiwa yang sudah terjadi (the past), sedang terjadi (the present) menuju ke peristiwa di masa depan yang belum pasti (the future). Meskipun belum pasti, namun sesungguhnya kita bisa merancang bagaimana masa depan kita nanti. Untuk mencapai hal itu, kita mesti mau menerima dan mengakui masa lalu kita dengan sejujur-jujurnya. Setelah itu, baru kita mulai bisa merencanakan dan merekayasa masa depan kita.

Proto Indonesia dapat dianalisis dari 3 hal:
1. mulai kemunculannya sebagai wilayah adminstratif;
2. faktor bahasa, dan
3. faktor pendidikan Baca lebih lanjut

Februari 27, 2009 Posted by | RESENSI BUKU, Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , | 5 Komentar

#108: Konflik (Politik) Ulama

Menurut (almarhum) KH Ali Ma’shum, “jati diri” NU sesungguhnya terletak pada kepemimpinan ulama. Sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, NU merupakan pengejawantahan dari ide para ulama. Di NU, ulama tidak hanya sekedar dijadikan sebagai simbol, tapi mereka juga memiliki posisi dan tanggung jawab yang tertinggi. Segala keputusan yang dikeluarkan NU, menjadi tanggung jawab dan berada di pundak mereka. Mereka pula yang berkewajiban menuntun umat menuju kebahagian di dunia dan akherat. Karena sangat dominannya posisi ulama, maka kepribadian NU sejak berdirinya (1926) hingga sekarang masih tetap utuh, tidak terpengaruh oleh perubahan situasi dan tidak tumbang oleh kemajuan zaman.

Karenanya, sungguh sangat ironis dan menjadi persoalan yang serius, bila ulama yang memiliki posisi utama dan seharusnya menjadi tokoh panutan masyarakat tersebut, kemudian mengalami konflik di antara sesama mereka sendiri. Baca lebih lanjut

Mei 28, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , , | 1 Komentar

#107: Gus Dur: sebuah Potret Gandhi Modern

Ratusan orang seperti saya boleh enyah, tetapi biarlah Kebenaran bertahta.”
–Mahatma Gandhi.

Potret Singkat Gandhi. Mahatma Gandhi merupakan “Bapak sekaligus Guru Bangsa” bagi India. Tokoh besar yang lahir di Gujarat, 2 Oktober 1869 ini, pada awalnya sangat berniat untuk bisa mempersatukan Hindu-Islam dalam format satu negara; India, setelah sebelumnya berhasil membebaskannya dari penjajahan Inggris. Sayang, harapannya itu kandas. Sang “Jiwa Agung”
(Mahatma) itu meninggal sebelum harapannya terwujud.

Meskipun demikian, Gandhi, dengan niat yang kuat dan ketulusannya, telah menjadi suri tauladan keberanian dan integritas untuk rakyat India dalam perjuangan politik mereka melalui jalan non-kekerasan. Lebih dari setengah abad setelah kematiannya, Gandhi masih menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia (Stanley Wolpert, Mahatma Gandhi: Sang Penakluk Kekerasan Hidupnya dan Ajarannya, Murai Kencana:2001).

Gandhi memang seorang tokoh besar. Jalan yang ditempuh Gandhi lahir dari semangat kesadarannya yang luas tentang berbagai penderitaan sebagai sarana mencapai kebenaran Ilahi. Suatu “isme” yang kemudian dikenal sebagai ajaran Gandhi; “satyagraha” (kekuatan kebenaran), “ahimsa” (anti kekerasan) dan “passion” (menderita karena luka). Baca lebih lanjut

Maret 29, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 2 Komentar

#070: JIL: Islam Pinggiran? -sebuah catatan kritis terhadap analisa Majalah Gatra

Entah, habis ketemu malaikat darimana, malam itu, sepulang dari kerja, Cipeng (teman kostku) memberiku sebuah majalah yang sangat berguna; Gatra, Edisi Khusus Lebaran (No. 2-3 Th. X), 6 Desember 2003. Menarik! Judulnya,”Beragam Jalan Islam Pinggiran“.

Isinya, menceritakan tentang ajaran Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, Syekh Ahmad Mutamakkin, KH. Ahmad Rifa’i, Kiai Saleh Darat, Hamzah Fansuri, dan KH. A Hamid Abulung. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dianggap sebagai profil gerakan Islam yang terpinggirkan di masa lalu.

Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging, hidup di jaman Wali Songo dan Kerajaan Demak (akhir abad 15 dan awal abad 16). Mbah Mutamakkin merupakan ulama kontroversial yang hidup di jaman Mataram Kartosuro era Sunan Amangkurat IV dan Pakubuwono II di abad 18. Kiai Ahmad Rifa’i hidup di abad 18. Ia disingkirkan oleh kolonial Belanda karena bersikap non-kooperatif dan dianggap membahayakan kepentingan kolonial. Begitupun Kiai Saleh Darat yang hidup di pertengahan abad 19. Tokoh Hamzah Fansuri hidup di abad 17 di Kerajaan Aceh. Ia dianggap sesat oleh rezim Sultan Iskandar Tsani, karenanya kitab-kitabnya dibumi hanguskan. Sedangkan KH Hamid Abulungan dihukum pancung oleh rezim Kesultanan Banjar di bawah kekuasaan Sultan Tahlilullah (1710-1802). Baca lebih lanjut

November 9, 2006 Posted by | Islam & NU, Religi | , , , , , | 1 Komentar