*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#007: Arti Penting (dari) Persahabatan*

Mas Ridwan, seorang ‘my old cyber-friend’ dari Tuban, yang sampai saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana sebuah universitas Islam di Malaysia, berkunjung ke rumah, di Cililitan. Di samping silaturahmi –karena selama ini hanya kenal via internet/email saja, memang ada pembicaraan khusus mengenai pengembangan ekonomi keumatan yang sedang kami rintis bersama.

Dengan didampingi oleh seorang aktivis gerakan dari Ciputat yang berasal dari Gresik, kita ngobrol, saling mengenal lebih jauh. Dari informasi yang saya dapatkan darinya, saya mencatat bahwa, dia pernah mondok di Pesantren Langitan, Widang-Tuban. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Sarang, Rembang, kemudian mengambil pendidikan sarjana Islam di Kairo, Mesir, dan kini mengambil gelar master di Kualalumpur. Nama pesantren terakhir (di Rembang) inilah yang kemudian kelak akan melahirkan aktivis-aktivis muda, baik yang aktif di dunia gerakan massa-basis, intelektual (wacana) ataupun politisi (politik praktis) di DPR.

Berangkat dari lingkungan pesantren ini pula, sebenarnya cerita persahabatan yang saya kutip ini berawal. Karena sudah lama ingin bertemu, pembicaraan kita pun berlangsung dengan cukup hangat. Maklum, saya dan mas Ridwan sudah saling kenal sejak 1999, dan baru tiga tahun kemudian bisa berjumpa, bertatap muka (copy darat). Tapi belum lama kita ngobrol, telepon genggamnya berbunyi. Seseorang telah meneleponnya dengan cukup singkat. Rupanya, si penelepon itu adalah teman mas Ridwan yang kini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia bilang, kita sudah ditunggu di rumahnya.

Pembicaraan yang berlangsung hanya sekitar 30 menit itupun kita tutup. “Mau ikut saya ke komplek DPR, Gus?” pinta mas Ridwan. Saya hanya diam, tapi tidak menolak.
“Ada pertemuan ‘penting’ lagi yangharus saya jalani”, batin saya bicara. Ya, Chotibul Umam Wiranu, teman mas Ridwan yang menelepon tadi, namanya sudah saya kenal cukup lama, ketika dia dulu masih menjabat sebagai redaktur di koran “Duta Masyarakat”. Kebetulan, saya dulu aktif menulis artikel untuk koran yang menjadi milik kebanggaan warga NU itu. Dari dunia jurnalistik itulah kita saling mengenal nama. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni, Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar

#003: Wikusama: Sahabat Sekaligus Guru

Ada satu ajaran dalam lingkungan pesantren yang cukup menarik untuk diapresiasi. Tepatnya dalam kitab ta’lim muta’allim, yang berisikan: “Aku adalah hamba dari orang yang mengajariku, walau hanya satu (ayat) katapun.” Literatur sejarah Islam menyebutkan, “ayat” tersebut berasal dari perkataan Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra.

Bila dipahami secara negatif, ayat tersebut bisa mengakibatkan terbentuknya pola hubungan ketertundukan yang bersifat total dari kalangan santri secara berlebihan pada kiai. Ini biasanya terjadi di lingkungan pesantren–walaupun tidak secara keseluruhan.

Padahal, banyak hadis yang menyebutkan adanya proses terjadinya tanya-jawab (dialog) antara sahabat dengan Rasulullah SAW tentang sesuatu hal. Misalnya begini, “…Sahabat bertanya, Rasulullah menjawab…”. Yang ini bisa dipahami bahwa sebenarnya Rasulullah mengajarkan pola hubungan, dialog yang sangat demokratis, dua arah. Bukan monolog! Artinya, salah besar bila dalam pola interaksi kita sehari-hari, ada seorang kiai, guru, ustad tidak mau dan “mengharamkan” untuk diajak berdialog.

Di sisi yang lain, bila dipahami secara positif, maka ayat di atas akan menjadikan kita sebagai manusia yang toleran, tidak tinggi hati, tidakmerasa yang paling berilmu dan akan selalu menjaga langgengnya nilai persahabatan.

Dalam usaha memahami “pemahaman positif” dari ayat di atas, maka bisa saya umpamakan dalam ilustrasi begini: Latar belakang diskusi di millist Wikusama. Misalnya Hilal, Zakki, Anam memosting tentang wawasan keislaman, tentang gerakan Islam-Taliban. Kebetulan saya belum mengetahui itu sebelumnya. Maka bisa dikatakan Hilal dkk itu adalah guru saya.

Contoh yang lain, misalnya Arisandi, Noka, Dodik dll membahas soal sistemUnix/Linux, dan teman-teman enjoy mengikutinya, artinya: Arisandi dkk itu adalah guru dari teman-teman yang belum tahu dan menikmati pengetahuan itu. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Alumni | , , , , | Tinggalkan komentar