*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#107: Gus Dur: sebuah Potret Gandhi Modern

Ratusan orang seperti saya boleh enyah, tetapi biarlah Kebenaran bertahta.”
–Mahatma Gandhi.

Potret Singkat Gandhi. Mahatma Gandhi merupakan “Bapak sekaligus Guru Bangsa” bagi India. Tokoh besar yang lahir di Gujarat, 2 Oktober 1869 ini, pada awalnya sangat berniat untuk bisa mempersatukan Hindu-Islam dalam format satu negara; India, setelah sebelumnya berhasil membebaskannya dari penjajahan Inggris. Sayang, harapannya itu kandas. Sang “Jiwa Agung”
(Mahatma) itu meninggal sebelum harapannya terwujud.

Meskipun demikian, Gandhi, dengan niat yang kuat dan ketulusannya, telah menjadi suri tauladan keberanian dan integritas untuk rakyat India dalam perjuangan politik mereka melalui jalan non-kekerasan. Lebih dari setengah abad setelah kematiannya, Gandhi masih menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia (Stanley Wolpert, Mahatma Gandhi: Sang Penakluk Kekerasan Hidupnya dan Ajarannya, Murai Kencana:2001).

Gandhi memang seorang tokoh besar. Jalan yang ditempuh Gandhi lahir dari semangat kesadarannya yang luas tentang berbagai penderitaan sebagai sarana mencapai kebenaran Ilahi. Suatu “isme” yang kemudian dikenal sebagai ajaran Gandhi; “satyagraha” (kekuatan kebenaran), “ahimsa” (anti kekerasan) dan “passion” (menderita karena luka). Baca lebih lanjut

Iklan

Maret 29, 2007 Posted by | Islam & NU, Sosial-Politik | , , | 2 Komentar

#106: Gus Dur, Sunan Kudus, dan Hasyim Muzadi

Saya salah persepsi, ketika sepintas membaca judul tulisan dari mas Ulil
Abshar-Abdalla di koran Duta Masyarakat, 12 Mei 2003, yang berjudul:
“Khaled, Gus Dur, dan Sunan Kudus”. Pada awalnya, saya mengira, tulisan mas Ulil itu akan membahas soal konflik antara Gus Dur dengan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, yang kembali menghangat akhir-akhir ini. Tidak tahunya, tulisan itu lebih mengupas tentang “Kedudukan Toleransi dalam Islam” yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus pada masanya, dan Gus Dur di tahun ’80-an, yang mengacu pada buku karangan Dr. Khaled Abou El-Fadl, seorang intelektual Mesir.

Mas Ulil menganggap, di era ’80-an, Gus Dur telah sukses mampu menempatkan Islam sebagai ideologi komplementer terhadap Pancasila. Menurut Gus Dur
–dalam kacamata mas Ulil, Islam merupakan doktrin yang melengkapi sesuatu yang sudah ada dalam masyarakat, sehingga Islam tidak diandaikan sebagai ajaran yang “memusuhi” tradisi setempat, tidak didudukkan sebagai sesuatu yang superior dan mengatasi segala hal praktek-praktek sosial yang sudah berlaku. Hal yang juga telah dilakukan oleh Sunan Kudus di eranya. Sungguh unik, karena menara masjid Kudus yang berada di Kudus, Jawa Tengah, yang dibuat oleh Sunan Kudus bangunannya meniru bentuk pura, tempat ibadah umat Hindu. Dengan demikian, Islam bisa berkembang dan duduk berdampingan secara damai dengan tradisi masyarakat yang berlaku. Satu bentuk keberhasilan dari kedua tokoh tersebut untuk mendudukkan toleransi dalam Islam, yang itu bukanlah sesuatu yang mudah. Baca lebih lanjut

Maret 27, 2007 Posted by | Islam & NU, Religi, Sejarah & Peradaban | , , | 4 Komentar