*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#010: Karyawan Indosat dan Petani-Buruh Tembakau di abad XIX

Ketika mampir ke Yogya tempo hari, saya menemukan sebuah buku yang sangat menarik, yang berjudul: “Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta, 1830-1870“, karya Vincent JH. Houben, seorang sejarawan Jawa berasal dari Belanda.

Inti dari buku setebal 785 halaman, terbitan Bentang itu adalah, menceritakan secara gamblang ihwal periodesasi ketika kolonial melakukan eksploitasi secara eksplisit di Indonesia, khususnya di dua daerah semi-otonom, yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Secara terperinci, Houben menguraikan ekspansi, eksploitasi, dan intervensi Pemerintah Kolonial terhadap kedua wilayah tersebut. Tentang masa itu,Houben mencatat adanya suatu pergeseran, yakni dari dependensi militer keraton terhadap Pemerintah Kolonial, menuju dependensi ekonomi.

Ketika elite penguasa di kedua kerajaan bekas pecahan Mataram Baru –yang terbelah akibat dari Perjanjian Giyanti (th. 1755 M)– itu hanya disibukkan dengan saling menebarkan pengaruh dan rebutan tahta kekuasaan di lingkungan keluarga, dengan lihainya Kompeni Belanda memanfaatkan situasi krisis tersebut untuk menguasai tanah-tanah para bangsawan dengan harga sewa tanah dan upah buruh yang murah.

Dengan mengedepankan politik ekonomi yang rakus, dan memanfaatkan ketamakan dan kekerdilan berpikir para elite penguasa lokal (Surakarta danYogyakarta), Kompeni akhirnya berhasil menjerat para bangsawan itu dalam hutang yang sulit untuk dibayar. Setiap ada acara pernikahan, pesta atau hajatan dari penguasa lokal, Kompeni dengan “baik hati”-nya memberikan modal pinjaman untuk keperluan tersebut. Dampaknya, para penguasa lokal itu kemudian terjerat oleh ketergantungan pada para penyewa tanah, sehingga menyebabkan tanah-tanah kerajaan dijual atau digadai dengan harga yang murah untuk kepentingan Kompeni. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 12, 2006 Posted by | Sejarah & Peradaban, Sosial-Politik | , , , , | Tinggalkan komentar