*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#121: Kampung: Recharge Otak

Orang tua lugu. Kulitnya gelap sepekat gagang sabit yang dia bawa. Pakaiannya lusuh, bercapil (topi) bundar. Makan satu warung denganku. Menunya sederhana; nasi, rawon kangkung (menu rawon tapi daging diganti dengan kangkung), plus tempe dan sambal. Dia makan dengan lahapnya.

Rawon kangkung merupakan menu “khas” kampung. Di saat daya beli masyarakat yang rendah, tapi lidah masih ingin merasakan menu rawon, dengan rawon kangkung, si pemilik warung bisa menjual masakannya dengan harga murah. Biasanya, menu ini untuk konsumsi anak-anak sekolah. Rasanya sama. Sama-sama hitam. Bedanya, jika rawon beneran, kita gigit kenyal dagingnya, ini kita kunyah sayur kangkungnya.

Mak, si pemilik warung menyuguhkan teh hangat dalam gelas besar ke Pak Tua. “Monggo, Pak”.
“Matur suwun,” kata si Pak Tua. Segera saja ia sruput teh hangat itu.

Mata si Pak Tua, yang cekung dan tajam menerawang ke luar. Menjebol dinding warung yang terbuat dari bambu anyaman yang jarang-jarang itu. Sambil terus mengunyah dan menelan, tatapannya seperti kosong. Nasi satu piring dan teh segelas pun disruput sampai habis. Sepeda dan keranjang rumput dia sandarkan di tiang warung sebelah depan. Hari masih pagi, dan waktu terus berjalan.

“Sampun, pinten, Bu?” tanya Pak Tua pencari rumput sambil berdiri dan menyodorkan uangnya.

“Sampun pun. Kersane,” kata si Mak pemilik warung. Uang itu dikembalikannya lagi.

Pak Tua bengong. “Nggih pun, matur suwun sanget”. Dia pun pergi. Baca lebih lanjut

Iklan

Januari 12, 2009 Posted by | Sosial-Politik | , , | 2 Komentar