*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#031: Apakah Tuhan Butuh Birokrasi?

Padepokan Tebet di waktu subuh, 29 Juli 2003;
“Ashsholaatu khairum minaan nauum………..” 2x. Hawa dingin menyelimuti padepokan. Embun mulai mengintip, ingin sesegera mungkin singgah di atas dedaunan. Angin masih suci-bersih. Tanpa polusi udara, ataupun karena polah-tingkah manusia, di dalam dan atau sekitar padepokan.

Adzan sebagai pertanda panggilan sholat, berkumandang bersahut-sahutan. Dari satu masjid, ke masjid yang lain. Entah, masjid itu berada di sebelah mana. Aku sendiri belum pernah menyentuhnya. Tapi suaranya begitu dekat di telinga. Sangat jelas. Begitu jelas, seolah-olah mengepung padepokan, tempat untuk meleburkan segala gagasan bagi masa depan Wikusama.

Aku dengar. Terus mendengar, dan hanya mendengar. Tak bisa berbuat apa-apa. Adzan itu bagaikan hanya sebuah lagu. Kunikmati, setelah itu anggap saja pergi. Mungkin sekawanan setan telah menjeratku, memperdayaku, membuatku selalu terlena, terlelap oleh belaian malam dan dinginnya pagi. Seperti yang diceritakan oleh khatib-khatib kampung di mimbar dakwah ketika aku masih berusia belia, “Setan menebarkan selimut ketika waktu subuh, sehingga membuatmu selalu terlelap, dan mereka juga menyebarkan tepung-tepung untuk memejamkan matamu ketika khatib berceramah di sholat Jum’at”. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Religi | , | Tinggalkan komentar

#028: Tebet Under Cover [1]

Minggu di Padepokan Tebet, 20-07-03.

#1:
“Ndang moleo, rek. Iki Patrang lagi nggoreng terong. WW lagi ndadar telor,” suara Cipeng ketika menelponku, sewaktu aku sedang ada acara sosial di Cililitan.

Hari masih pagi. Jam di hp-ku masih menunjuk ke angka 10. “Loh, lah ono’ opo, kok aku sampek dikon moleh barang?” rasa penasaranku mulai menguap.

“Kita makan pagi bersama. Iki yo nggawe sambel trasi barang kok,” Cipeng menambahi. “Wis ndang cepet mrene!”.

“Mm, kaya’nya enak nih?!,” gumamku. Aku pun cepat-cepat pulang. Kutinggalkan sebentar urusan sosial, karena kaum fakir-miskin yang aku undang pagi itu, belum juga datang. Akhirnya kuputuskan, aku harus ikut makan pagi bersama dengan teman-temanku. Kupikir, kebersamaan adalah segala-galanya. Kuajak salah seorang temanku dari Cililitan untuk menemaniku. Dengan maksud, jika aku balik ke Cililitan, biar ada temannya. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar

#027: Semoga Wajah Aisyah, Seindah Purnama Malam Ini

Ba’da Maghrib di Padepokan Tebet,12 Juli ’03;
Di bawah sinar bulan purnama malam ini. Segumpalan awan berarak di langit, mengitari sang bulan, yang telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matahari, sekitar dua jam yang lalu.

Dengan begitu cepat, lalu sang paras putri itu naik dari kaki langit. Semakin meninggi, memberi warna putih-kekuningan ke segala penjuru dan sudut-sudut bumi yang tersentuh oleh cahayanya.

Genting rumah, pucuk-pucuk daun dan ranting pohon mangga, nangka, jambu, mengkudu, palem, cemara, dan hamparan rumput di taman pedepokan ikut menguning. “Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Aisyah?”, gumamku.

Malam minggu di sini begitu sepi. Cipeng ke Pulau Matahari, mengejar doorprize, untuk melengkapi koleksi barang-barang pribadi di ruang kamarnya –selamat, semoga dapat yang diincar!. Wanus ke Lampung, hanya demi “mengekspor” kucing. Suatu bentuk”rasa kebinatangan” –karena yang ia cintai bukan manusia:-), yang mengagumkan. Sementara, Patrang sibuk dengan dead-line kerjaan kantornya–selamat berpusing-ria, Gus:-). WW entah ke mana, aku tak tahu. Orang satu ini begitu mobile, se-mobile teknologi perusahaan seluler tempat ia bekerja. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , , | Tinggalkan komentar