*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#011: Inul

Sebenarnya, saya sedang asyik mempelajari teks-teks sejarah Nusantara klasik. Khususnya sejarah Jawa (History of Java, meminjam istilahnyaThomas Stamford Raffles). Tapi, fenomena munculnya Inul di media massa akhir-akhir ini benar-benar cukup mengganggu pikiran dan nalar, membuat saya tidak bisa diam untuk ikut memberikan komentar soalnya.

Barangkali, coretan saya ini sungguh tak terstruktur. Maklum, karena bicara soal Inul; orang yang sekarang menjadi “besar” dengan latar belakang yang sangat tidak “terstruktur” pula. Tapi, ketidakstrukturan ini, hanya semata ingin melihat, mengamati fenomena Inul secara lebih komperehensif, dari berbagai sisi, biar lebih adil.

***
Inul. Siapa sekarang yang tidak kenal dengan penyanyi dangdut dengan julukan si “goyang ngebor” itu. Bahkan, Mr. President, Taufik Kiemas pun tidak mampu menahan syahwatnya untuk memeluknya di sebuah acara di TV-7.

Bila goyangan Inul menggoncangkan “etika sopan santun” masyarakat Jakarta baru saat ini, di kampung-kampung, khususnya di Jawa Timur, justru sudah sejak setahun yang lalu VCD-Inul telah beredar. Mulai dari kakek-kakek yang mengalami puber kedua, orang-orang setengah baya yang istrinya sudah memberikannya selusin anak, hingga anak-anak kecil belum cukup umur, mereka sudah familiar dengan Inul. Maklum, Inul adalah simbol hiburan masyarakat lapisan bawah. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 12, 2006 Posted by | Religi, Seni & Budaya | , | Tinggalkan komentar