*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#026: Komersialisasi Maksiat

Dengan nada setengah bercanda, seorang tetangga kos penulis di Mampang bilang, “Dasar orang Jawa! Ke Jakarta hanya bawa maksiat saja,” ketika menyaksikan goyangan penyanyi dangdut, Inul Daratista di televisi beberapa bulan yang lalu.

Publik pun demikian, terjebak pada polemik Inul. Pro-kontra muncul. Runyamnya, setiap persoalan yang muncul di masyarakat akhir-akhir ini, selalu melahirkan dua kutub yang saling berhadapan (atau sengaja dihadapkan?); menjadi persoalan muslim atau non-muslim.

Pihak yang menolak aksi goyangan Inul, masuk dalam satu kutub yang bernama kelompok yang menyebut dirinya “Islami”, sementara kutub yang lain, yang proInul disebut sebagai “tidak Islami”. Begitupun dalam kasus pengesahan RUU Sisdiknas. Yang pro diklaim sebagai “membela Islam”, dan yang kontra dianggap sebagai representasi “non-Islam”.

Dari kacamata kehidupan berdemokrasi, polemik semacam itu adalah hal yang wajar. Tapi bila dilihat dari sisi integritas RI sebagai Negara Kesatuan,tentu itu sangat mengkhawatirkan. Artinya, semangat toleransi, menjaga sikap pluralisme, kesadaran sebagai bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, lambat-laun mulai perlu dicemaskan. Baca lebih lanjut

Iklan

Oktober 16, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak | , | Tinggalkan komentar