*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#064: Kesetiaan

Tak kutemukan kata ‘setia’ ataupun ‘kesetiaan’ dalam indeks Kamus IlmiahPopuler yang kubeli di Toko Buku Sarinah, Thamrin kemarin itu. Yang ada dalam buku kecil yang berwarna kuning itu, hanyalah kata yang hampir memiliki makna yang dekat dengan makna setia, yakni ‘konsisten’ dan ‘komitmen’. Konsisten berarti: tetap (pada), konsekwen, selaras, sesuai. Sedangkan komitmen mengandung makna: kesatuan janji, kesepakatan (bersama). Mungkin, bila dicari di Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karangan JS. Badudu, kata itu ada.

#
Dalam penjelajahan filosofis pemahamanku atas epos Mahabharata, kesetiaan adalah ketika rasa nurani keluar dari diri. Kesetiaan adalah ketika kita konsisten memegang janji, mengingat janji yang terucapkan itu bukan untuk diingkari, tapi bersifat mengikat jiwa. Baca lebih lanjut

Iklan

November 8, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Other | | Tinggalkan komentar

#036: Film dan Peran Pemerintah*

Aktris senior, Christine Hakim, pernah mengeluhkan atas minimnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan dunia perfilman nasional, sehingga berjalan stagnan dan tidak bisa berkembang. Padahal, menurut aktris yang pernah dipilih sebagai juri di festival film internasional Channes itu, film merupakan media yang paling efektif untuk menyampaikan informasi tentang situasi dan kondisi suatu negara. Terutama soal sosialisasi budaya dari sebuah bangsa.

Memang benar. Dengan film, kultur dan sikap bangsa kita bisa dikenal oleh mancanegara. Kita lihat saja bagaimana Amerika dengan pandainya memanfaatkan film sebagai alat hegemoni dan propaganda untuk menguasai dunia. Mereka bisa bikin film-film sejarah yang sarat dengan kepalsuan untuk kepentingan mereka sendiri. Seperti: berbagai macam dan ragam film tentang perang Vietnam, film tentang teroris dsb, yang tak ubahnya seperti sebuah”pesanan” dari Pentagon. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , | Tinggalkan komentar

#029: Lupakanlah Aku, Laila

SAMPAILAH Laila di Jakarta. Kemarin pagi, burung besi yang ditumpanginya telah mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Begitu turun dari tangga pesawat, ia hanya mampu menundukkan wajahnya dengan muka yang masam. Penuh dengan kelelahan. Ia tidak sempatkan mampir ke toilet, atau sekedar hanya mencari makanan ringan. Ia tampak begitu lelah. Begitu barang-barangnya dirasa sudah komplit, tanpa banyak sikap-kata, ia langsung meluncur ke rumahnya, di sebuah bilangan komplek elite di wilayah Jakarta Barat.

#
KAWASAN perumahan itu begitu asri. Rumah-rumah berderet dengan rapi, dipisahkan oleh blok-blok huruf, yang menjadi ciri khas background politik si penghuni. Pepohonan menghijau, mengelilingi lokasi komplek. Juga di depan tiap rumah.

Rumah itu besar, tapi sering kosong. Maklum, rumah dinas kaum elite di negeri ini. Sepi. Penghuni rumah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Begitu sampai di rumah, hanya mbak Yem, sang pembantu rumah dinas itu, yang menemuinya. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , | Tinggalkan komentar

#027: Semoga Wajah Aisyah, Seindah Purnama Malam Ini

Ba’da Maghrib di Padepokan Tebet,12 Juli ’03;
Di bawah sinar bulan purnama malam ini. Segumpalan awan berarak di langit, mengitari sang bulan, yang telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matahari, sekitar dua jam yang lalu.

Dengan begitu cepat, lalu sang paras putri itu naik dari kaki langit. Semakin meninggi, memberi warna putih-kekuningan ke segala penjuru dan sudut-sudut bumi yang tersentuh oleh cahayanya.

Genting rumah, pucuk-pucuk daun dan ranting pohon mangga, nangka, jambu, mengkudu, palem, cemara, dan hamparan rumput di taman pedepokan ikut menguning. “Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Aisyah?”, gumamku.

Malam minggu di sini begitu sepi. Cipeng ke Pulau Matahari, mengejar doorprize, untuk melengkapi koleksi barang-barang pribadi di ruang kamarnya –selamat, semoga dapat yang diincar!. Wanus ke Lampung, hanya demi “mengekspor” kucing. Suatu bentuk”rasa kebinatangan” –karena yang ia cintai bukan manusia:-), yang mengagumkan. Sementara, Patrang sibuk dengan dead-line kerjaan kantornya–selamat berpusing-ria, Gus:-). WW entah ke mana, aku tak tahu. Orang satu ini begitu mobile, se-mobile teknologi perusahaan seluler tempat ia bekerja. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , , | Tinggalkan komentar

#025: Aku Bukanlah Laila Yang Patah Hati

Padepokan Tebet, 6 Juli 2003, 22:35;
Luas tanah kurang lebih 40 x 40 m2, dengan dikelilingi tembok setinggi 2 m. Pohon nangka, mangga, dan sebuah pohon yang entah apa namanya, tapi aku ingat itu seperti pohon yang tumbuh di STM waktu masih di Jl. Kawi dulu(1993-1995), yang sering dimakan teman-teman selepas olahraga. Entahlah, apa namanya. Aku lupa, dan aku benar-benar tak tahu namanya. Yang jelas, pohon-pohon itu berdiri berjajar dekat tembok, dengan begitu setianya. Mungkin, hanya kapak dan gergaji yang akan melepaskan kesetiaan mereka.

Bangunan rumah sederhana namun asri, berbentuk huruf “L”, dengan 6 pintu. Masing-masing ada yang berukuran 5 x 5 m, 4 x 4 m. Yang paling kecil, 2 x 4m jadi perpustakaan Wikusama. Pohon pisang berjejer di belakang rumah. Sementara pohon cemara, tinggi menjulang dengan angkuhnya di depan rumah, berada di tengah-tengah hamparan rumput yang menghijau. Mengkudu, palem, dan mangga, mengelilinginya. Sungguh menyenangkan bila dilihat dari teras rumah. Baca lebih lanjut

Oktober 16, 2006 Posted by | Other | , | Tinggalkan komentar

#018: Kesederhanaan

30 Mei 2003.
Jum’at sore, di Jakarta Hall Convention Center (JHCC). Saya berada di sebuah stand khusus printer warna, sedang bertanya sama sang gadis penjaga stand, mengenai spesifikasi berikut harga dari printer tersebut. Disela-sela obrolan, tiba-tiba seseorang datang menghampiri, dan kemudian menyapa: “Hello, Gus. Apa kabar?” Saya agak tertegun sebentar. Siapakah gerangan orang ramah yang menyapa sahaya?

Setelah lama mengamati, “Masya Allah, P’ Anung?! Apa kabar juga, Pak?” Karena saking gugupnya, saya mengucapkannya pakai bahasa Jawa Kromo-Inggil. Beliau pun membalasnya dengan bahasa yang sama. Seingat saya, orang yang murah senyum ini memang berasal dari Jawa. LulusanITS, kalau tidak salah.

Biar lebih nyantai, saya minta ma’af sebentar pada si mBak penjaga stand, “ma’af, mBak. Saya tinggal ngobrol dulu dengan dosen saya”. Baca lebih lanjut

Oktober 12, 2006 Posted by | Ideologi Sikap Otak, Other | , | Tinggalkan komentar