*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#163: Gus……Dur (catatan#001)

Rabu, 30 Desember 2009. Jam menunjukkan di sekitaran 18:00 WIB. Hujan seperti enggan mengguyur deras. Hanya rintik-rintik. Awan seperti malu-malu menutupi bulan yang bersinar di 3 jam berikutnya; Malam 14-an; terang bulan. Maghrib itu saya masih berkutat dengan Mio tunggangan, di pinggiran jalan dalam Mabes TNI Cilangkap; menyusuri jalan kecil di sepanjang pinggiran area Mabes yang begitu luas.

Tujuan saya satu; menuju sebuah rumah sakit elite di kawasan alternatif Cibubur. Menjemput istri dan anak-anak yang sedang kontrol kesehatan. Dan baru dengar dari obrolan para sopir di tempat parkir rumah sakit itu, bahwa Gus Dur wafat. Sesampai di rumah sudah jam 21:00 WIB.

Tidak ada firasat apa-apa, tapi sehari itu putri tertuaku; Sekar Ayu Nakmas Pambayun merengek-rengek minta diantarkan pulang ke Jombang. Permintaan itu saya anggap biasa saja. Baru sadar, jika hari itu adalah hari yang bersejarah; penting. Gus Dur “pulang” ke Jombang besoknya (Kamis). Dia akan dimakamkan di sana; di Tebuireng, rumah yang dekat dengan rumah paman dan bibi saya di Jombang.

Bayanganku kemudian terngiang tiga tahun yang lalu. Waktu itu, Pambayun bilang, “Mbahkung pulang” diulangi berkali-kali. Pas tengah malam, mertua memang benar-benar dipanggil Tuhan Sang Pencipta Alam.

***
Catatan angka-angka menandakan tanggal, bulan dan tahun tercatat dengan jelas di dahan pintu bagian dalam sebuah kamar tidur di rumah Jombang. Guratan dari spidol itu adalah tulisan tangan almarhum ayah-mertua, sang pengikut Tarekat Naqsyabandiyah.

Aku amati dalam-dalam makna tulisan itu. Ternyata itu adalah “tanggal-tanggal kematian“. Tanggal yang menandakan anggota keluarga besar kita di Jombang meninggal dunia. Kebetulan semua siklusnya 3 tahunan. Tulisan yang terakhir, “1 September 2006” adalah tulisan tangan Ibu mertua ketika ayah-mertua menghadap Sang Khalik. Inilah yang menjadi sebab sejak awal 2009 saya seolah-olah tidak begitu “bersemangat”. “Mimpi” menjadi tumpul. “Negosiasi” kerapkali saya lakukan agar siklus itu tidak menjadi kenyataan/mitos.

Ketika tahun 2009 sudah memasuki di penghujung tahun, kurang 2 hari lagi. Berdebar-debar aku terus berhitung…
Catatan-catatan tanggal itu terus terngiang.
Dan tepatnya kemarin, Rabu 30 Desember 2009, “panggilan antrian” itu datang.
“Gus……………………”
ternyata adalah dirimu, Gus Dur…..

Selamat jalan, Gus…
Semoga sampeyan mendapatkan jalan dan tempat yang lapang dalam menghadap Sang Khalik.
Sampeyan adalah guru sejati saya…

(c) aGusJohn
Wisma Bakrie Lt-4, Jakarta. 31 Desember 2009

Desember 31, 2009 - Posted by | Islam & NU

2 Komentar »

  1. wah, saya juga nulis tentang gus dur, ternyata gus jhon penulis juga..Emang sosok yang patut diteladani beliau..

    Komentar oleh whien | Januari 11, 2010

  2. Bagus juga loh tulisan sampeyan…🙂

    Komentar oleh agusjohn | Januari 11, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: