*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#152: Coaching & Counseling: Arti Penting Bawahan

c&cJika kita bicara Coaching & Counseling, maka ada dua pihak yang saling berhubungan dalam proses ini; pemimpin dan anak buah, atasan dan bawahan. Delapan tipe kepemimpinan menurut Kartini Kartono dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” adalah : 1. pemimpin kharismatik, 2. paternalistik/maternalistik (gaya dokter) yang menganggap bawahan tidak mampu, bawahan tidak diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya secara bebas, 3. militeristik (gaya bos), 4. otokratik (gaya bos), feodalistik, 5. laisser faire; tidak mampu mengontrol/mengatur bawahan, 6. populis yang merakyat, dekat dengan bawahan, 7. administratif ; kepemimpinan efektif, dan 8. demokratis (gaya bebas) dengan bawahan diberi kepercayaan, bisa eksplore & aktualisasi diri.

Coaching & Counseling merupakan bagian dari Actuating (A) dalam peran manajer POAC (Planning, Organizing, Actuating & Controlling). Seorang pemimpin yang melakukan coaching secara profesional bisa memahami beberapa hal, seperti: masalah teknis, mengetahui dan menerapkan fungsi manajemen, memberi contoh yang baik, terbuka dengan bawahan, berkomunikasi dengan baik, terorganisir, bisa memotivasi, mengembangkan dan bisa menjadi pendengar yang baik.

Coaching berjangka waktu menengah, berkenaan dengan kemampuan, fokus pada skill dan knowledge, tempatnya di pekerjaan sehari-hari. Sedangkan counseling memiliki waktu panjang, berkenaan dengan motivasi/sikap mental, fokus pada perbaikan dan pengembangan dalam segala aspek kehidupan dan dialog menggali perasaan nilai-nilai hidup. Dalam teori “gunung es“, coaching menyentuh kepribadian -sesuatu yang nampak di permukaan, sedangkan counseling untuk karakter -di dalam jiwa. Coaching & Counseling ibarat sebagai pondasi dalam pendelegasian tugas ke bawahan secara efektif agar sasaran organisasi bisa tercapai.

Dalam coaching, diperlukan perhatian (Caring), keterbukaan (Openess), kesadaran (Awareness), kesungguhan (Commitment), dan kejujuran (Honesty). COACH ! Kebutuhan coaching diketahui melalui gejala yang muncul, masalah yang terjadi di tempat kerja, dan hasil performance appraisal.

Ketika melakukan coaching dibutuhkan Spot (lihat peluang guna mencari tujuan dan fokus pada masalah), Tailor (sesuaikan, gali sebab masalah dan kembangkan solusi), Explain (jelaskan rencana tindakan), Encourage (dorong, beri motivasi), dan Review (lihat perkembangannya, beri tindak lanjut) yang disingkat STEER.

Sedangkan counseling mendiskusikan suatu persoalan/masalah secara empat mata dengan karyawan dikarenakan masalah pribadi, stress/tertekan, lepas kendali emosi dan konflik sepele yang dianggap serius. Fungi counseling adalah memberi nasehat, menentramkan hati, menjalin komunikasi, mengajak berpikir jernih, melakukan reorientasi tujuan dan nilai. Dalam hal ini diperlukan komunikasi yang rapport dan pacing yang bisa dicapai dengan bahasa tubuh, kemampuan berbicara dan suasana hati yang mendukung..

Kelompok middle management dibekali dengan pelatihan Coaching & Counseling menandakan begitu pentingnya peran bawahan. Jika peran dan fungsi bawahan dianggap tidak penting, tentu saja tidak perlu ada lagi istilah dan training tentang Coaching & Counseling.

Bagusnya prestasi atasan hingga membuat dirinya promosi, tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran dan hasil kerja keras bawahan. Sangat tidak masuk akal jika kemudian ada atasan yang bersikap otoriter, masa’ bodoh melihat bawahan yang jungkir-balik (dengan jumlah terbatas), bersikap feodal, no care pada keluhan bawahan, apalagi sampai menghambat karir bawahan; misalnya dengan mencomot orang baru sebagai atasan dari bawahan yang sebelumnya bekerja keras untuk diri dan achievement bagi timnya.

Sangat aneh pula jika seorang atasan pekerjaannya menyindir bawahan yang ingin maju dan berkembang dalam setiap meeting, seperti atasan yang kurang pekerjaan, tidak memiliki visi, dan cenderung paranoid. Atasan model ini kompetensinya perlu dipertanyakan. Sebagai bagian dari middle management, visi tim, strategi perusahaan tentu lebih penting daripada hanya sekedar menanam benih kebencian di benak bawahan. Seperti yang ditulis W.J. Reddin dalam artikelnya, “What Kind of Manager” tentang tiga pola watak dan tipe pemimpin, yakni: beorientasi tugas (task orientation), beorientasi hubungan kerja (relationship orientation), dan berorientasi hasil efektif (effectiveness orientation). Melihat ketiga poin tersebut, menjaga jarak, memusuhi bawahan tidak ada gunanya. Harus diingat, manajer mencapai sasaran melalui bawahan, bukan dengan menginjak bawahan. Di situlah kunci efektivitas seorang manajer.

Atasan yang tidak memiliki kepribadian dan karakter sebagai seorang pemimpin yang baik, membuat kondisi tim menjadi tidak nyaman. Ia akan menjelma sebagai seorang pemimpin yang ditakuti bukan disegani, model pimpinan bukan pemimpin. Indikasi terparah, banyak timnya (bawahannya) yang kabur (pindah).

Sebaliknya, atasan yang baik adalah atasan yang mampu membuat sebuah tim menjadi bagus, solid (good teamwork), nyaman, dan bawahan memiliki kompetensi yang tinggi. Atasan yang berhasil adalah atasan yang mampu membuat bawahannya bisa menjadi lebih baik dan berhasil sesuai dengan definisi kepemimpinan oleh Howard H. Hoyt dalam bukunya “Aspect of Modern Public Administration“; kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang. Kata “membimbing” sangat mungkin memiliki arti yang dekat dengan Coaching & Counseling.

***
Masih banyak orang yang beranggapan keliru bahwa sebuah tim yang bagus bukan karena polesan, jerih-payah seorang atasan, melainkan berkat individu bawahan itu sendiri. Padahal, kesempatan aktualisasi diri bagi bawahan yang diberikan oleh atasan layaknya sebuah pondasi dari penciptaan sebuah prestasi. Jika seorang pemimpin tidak memberikan pondasi itu, bagaimana mungkin bawahan bisa berprestasi? Dari sini bisa dipahami, pandangan konservatif seperti itu menjadi dominan karena dilatarbelakangi oleh minimnya wawasan dan pengetahun dari yang bersangkutan.

So, ingat Coaching & Counseling, berarti bawahan itu penting!

(c) aGusJohn
Lembah Ciangsana, 30 Juni 2009

Referensi:
1. PT Bakrie Telecom, Tbk, diktat “Coaching & Counseling“, 18-19 Juni 2009;
2. Dra. Kartini Kartono, “Pemimpin dan Kepemimpinan“, Rajawali Pers, 1990;
3. Amitai Etzioni, “Organisasi-Organisasi Modern“, UI Press & Pustaka Bradjagu, 1985.

Juli 1, 2009 - Posted by | Other | , ,

3 Komentar »

  1. Nice Deskripsi
    Aku kutip beberapa ya buat koleksiku
    tks

    Komentar oleh haekng | Juli 2, 2009

  2. Monggo..

    Komentar oleh agusjohn | Juli 2, 2009

  3. it’s very nice post
    Thanks to assists students improving their studies by providing useful articles related to education or others.

    Komentar oleh Allan Hensel | Agustus 3, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: