*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#145: Pura Keluarga dan Rumah Tokoh Adat Bali

Catatan Perjalanan ke Bali#003

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Bali, ada pura keluarga di dalam komplek rumah. Pura ini berfungsi sebagai tempat sembahyang setiap hari; untuk mendekatkan diri dengan arwah keluarga dan leluhur. Proses sembahyang dibagi dalam 3 waktu: pagi, siang dan sore/malam. Sembahyang pagi sehabis mandi dan setelah masak. Sembahyang siang sebelum makan. Sembahyang malam sesudah mandi sore.

Rumahnya pun dibuat petak-petak secara terpisah. Ruang tamu pisah dengan ruang dapur. Ruang acara do’a terpisah dengan ruang untuk upacara pernikahan atau kematian. Dan begitu seterusnya.

Berikut adalah gambaran lay out rumah I Wayan Tembau Kariasa, sang tokoh adat daerah Klungkung, Bali:
pura keluargaKeterangan Gambar:
1: Bale Methen: tempat terima tamu
2: Bale Dauh/Pegat : tempat untuk upacara kematian
3: Bale Dangin: tempat untuk upacara pernikahan.
4: ruang dapur
5: rumah, tempat tinggal yang dihuni
6: pura keluarga

Berikut adalah lay-out pura keluarga I Wayan Tembau Kariasa:
pura keluarga2Keterangan Gambar:
1: Sangha Batara Surya
2: Sangha Hyang Dewa
3: no identification
4: Sangha Gedong
5 dan 7: Sangha Petutan
6: Sangha Gemulan: ini menjadi pusat dari proses sembahyang. Biasanya, di depan sangha inilah dilakukannya proses pemujaan/do’a
8: Sangha Ngarwah
9: Piasan: tempat untuk sesaji

Masing-masing rumah sangat mungkin memiliki lay-out bagian-bagian pura yang berbeda. Tergantung luas tanah dan seberapa “tua” pura keluarga tersebut. Semakin pura keluarga dianggap “tua”, maka tetangga/masyarakat sekitar bisa melakukan sembahyang di pura tersebut. Masyarakat Bali akan menjadi bangga jika pura keluarganya menjadi “tua”. Dan proses bisa menjadi pura “tua” tersebut memakan biaya yang cukup besar -bagi kalangan biasa.

Dengan kebaradaan pura keluarga, sisi positifnya barangkali; keluarga/anak turunan tidak dengan mudah menjual tanah warisan. Menjadikan masyarakat Bali memiliki mental berani keluar dari rumah. Beda dengan etnis Betawi di Jakarta yang lambat-laun tanah warisan nenek-moyang habis dibagi-bagi dan dijual. Sunatan, kawinan, naik haji, semua pakai jual tanah. Lama-lama habis.

Ketika Betawi lambat-laun sudah terpinggirkan secara aset tanpa mereka sadari sendiri, maka di Bali rumah masih tetap terjaga dengan keberadaan pura keluarga tersebut. Tapi di sisi yang lain, budaya Bali begitu boros dan sangat tidak menguntungkan buat orang yang hidupnya pas-pasan. Banyak upacara-upacara adat yang butuh biaya besar. Diperlukan “ijtihad” (solusi ekstrim) dari para pemangku adat untuk menyelamatkan masyarakat dari kondisi tersebut. Inilah realita dari ragam budaya bangsa kita; plus dan minusnya. Sungguh menarik, bukan?

(c) aGusJohn,
Lembah Ciangsana, 18 Mei 2009

Iklan

Mei 19, 2009 - Posted by | Esia, Seni & Budaya | , ,

1 Komentar »

  1. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

    Komentar oleh SAUT BOANGMANALU | Januari 20, 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: