*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

#142: Hukum Tarik-Ulur??

antasari3Gambar sebelah ini begitu ironi. Orang yang dulunya gigih dalam menjebloskan orang ke tahanan, kini gantian digelandang masuk tahanan. Dengan baju tahanan berwarna jingga, celana kolor krem dipadu dengan sandal jepit biru, Antasari Azhar akhirnya ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Putra Rajawali Banjaran.

Kasus mantan Ketua KPK, Antasari Azhar ini memang “luar biasa”. Jadi tersangka cukup dalam hitungan hari (satu minggukah?) saja. Selama ini, kasus-kasus yang melibatkan pejabat negara biasanya “tak berbekas”. Sangat mustahil bisa selesai secepat itu.

Mungkin, kasus Antasari ini perlu masuk dalam catatan MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai sebuah “prestasi” buat penegak hukum yang tegas; tidak pandang bulu. Harusnya memang begitu. Tapi -ma’af, orang awam (baca: bodoh) juga paham. Segala ketidakmustahilan di negeri ini biasanya selalu memiliki motif politik.

Tidak hanya Antasari, tapi juga penangkapan Emron Pangkapi, Ketua DPP PPP saat Rapimnas PPP di Bogor dengan kasus yang terjadi di tahun 1998/1999 (jauh banget, 10 tahun baru diungkit), atau Muchdi PR dengan kasus Munir-nya. Uniknya, semua ditangkap pada saat kita sedang sibuk Pemilu, sibuk akan pilpres, sibuk KPK mau memanggil KPU dalam kasus DPT (Daftar Pemilih Tetap) dalam pemilihan legislatif kemarin yang amburadul.

Terlepas benar-tidaknya ada “motif politik” di balik kasus Antasari ini, catatan penting buat kita semua adalah bahwa orang kebal suap belum tentu kebal perempuan. Sesuai dengan dalil agama tiga hal godaan di dunia adalah: harta, tahta dan wanita.  Dari proses hukum yang berjalan, peran Rani Juliani, si wanita penggoda itu dianggap sebagai pemicu terjadinya pembunuhan ini.

Terlepas benar-tidaknya kasus Antasari -mungkin saja bisa bebas, hukum di sini bisa tidak menentu, proses hukum yang cepat ini akan terus menyisakan “tanda tanya”;  Apakah kasus hukum para pejabat, elite-elite politik kita itu mungkin sangat banyak dan jadi arsip di aparat penegak hukum kita. Hanya saja belum dikeluarkan; menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan si tokoh jika sang tokoh tersebut dianggap mengganggu “stabilitas kekuasaan”.

Atas nama kekuasaan, hukum bisa dipercepat atau diperlambat. Bisa ditarik dan diulur seperti anak kecil bermain layang-layang. Ironi dari sebuah negeri besar -tapi miskin.
Benarkah demikian?
Wallahu’alam bi ash showab.

(c)aGusJohn,
Wisma Bakrie Lt-4, 7 Mei 2009

Berikut contoh tulisan di media tentang kasus Antasari:

source:
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=14632:presiden-pemberhentian-antasari-bukan-karena-tekanan-&catid=3:nasional&Itemid=128

Sumber :http://www.detiknews.com/read/2009/05/06/162733/1127309/10/rhani-sering-bersama-antasari-di-lapangan-golf

Iklan

Mei 7, 2009 - Posted by | Ideologi Sikap Otak, SOROT & Berita | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: