*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

Halo, Semua pun Tersenyum

Operator berlomba menawarkan paket bundel: handset plus bermacam bonus.
Konsumen, operator, dan pabrik handset sama-sama diuntungkan.

(Agus S. Riyanto, Ahmad Pahingguan, dan Julianto)

Fajar belum lagi menjelang. Jarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Angin dingin tak meyurutkan antrean puluhan orang di depan gerai Esia di jalan Margonda, Depok, Jawa Barat, pekan lalu. Sepagi itu, ya sepagi itu, mereka sudah berjaga di sana. Duduk-duduk di atas kursi plastik, berbaris dua-dua, hingga menyentuh tepian jalan yang berjarak sekitar delapan meter dari gerai yang merupakan bangunan ruko tersebut.

Antre sembako? Bukan. Mereka rela bangun pagi dan antre untuk memperoleh nomor urut pembelian paket bundel Esia yang harganya Rp. 230 ribu (termasuk pajak). “Pulang dulu, nanti baru kembali lagi. Yang penting sudah dapat nomor urutnya,”kata Dewi, seorang mahasiswi yang ikut memperebutkan 100 nomor yang dijajakan setiap pagi itu.

Dengan uang sebesar Rp. 230 ribu, Dewi bisa memperoleh handset CDMA merek Huawei C2601 dengan fitur yang lumayan komplet. Lalu, ada lagi pulsa senilai Rp. 10 ribu dan bonus 1.000 menit untuk menelepon ke nomor Esia lainnya. Esia adalah merek dagang dari Bakrie Telecom, operator CDMA.

Nah, di kantor pusat Bakrie Telecom, Wisma Bakrie I, Kuningan, Jakarta, antrean yang sama rupanya juga terlihat. Sejak pukul empat pagi, banyak orang yang sudah berbaris untuk memperoleh nomro urut. Di sini, nomor yang ditawarkan agak banyak: 500 unit. Para polisi pun jengkel. Maklum, peminat paket Esia di kuningan itu mamarkir motornya di depan gedung, bukan di areal parker di dalam gedung.

Maaf, Pak polisi. Harga yang murah memang seperti gula: gampang membuat semut datang. Makanya, jumlah calon pembeli paket Esia ini tak kunjung surut. Kendati, sudah dua bulan lalu produk tersebut diluncurkan. Harga yang ditawarkan Esia memang aduhai. Jadi, antre subuh-subuh pun bukan masalah. Bahkan, di beberapa pusat perbelanjaan, paket ini tetap laris meski dijual seharga Rp. 350 ribuan.

Erik Meijer, Wakil President Direktur Bakrie Telecom, menjelaskan, program ini digelar untuk memperkenalkan Esia di kota-kota yang baru dimasuki jaringan Esia. Maklum, Esia memang sudah bisa dipakai berhalo-halo di 17 kota setelah memperoleh izin operasi sambungan internasional (SLI) September lalu.

Agar ekspansi ke kota-kota baru itu sukses, Bakrie Telecom mengadakan tender untuk memperoleh handset CDMA yang harganya murah dan kualitasnya oke, Juli lalu. Dari berbagai penawaran akhirnya dipilih produk Huawei dari Cina.

Produk yang kemudian diberi nama Hape Esia  ini dijual di 31 gerai Esia dan hingga kini sudah terjual hamper 500 ribu unit. Sebanyak 500 ribu unit lainnya masih dalam perjalanan dari Cina.

Handset ini hanya bisa digunakan untuk Esia, tidak untuk operator CDMA lain. Hak cipta produk ini tetap milik Huawei dan keseluruhan komponennya diimpor langsung dari Cina. “Harga handset dari Huawei memang segitu dan langsung kami lempar ke pasar. Kami tak mengambil untung,” kata Erik.

Yang ada, justru Esia harus nombok dulu. Bakrie Telecom harus mengeluarkan dana untuk iklan dan sebagainya. “Kami hanya berharap agar jumlah pelanggan Esia bisa melonjak,” ujar Erik.

Nyatanya, paket bundel supermurah ini memang mampu mendongkrak jumlah pelanggan Esia. Hingga akhir September lalu, pelanggan Esia sudah mencapai angka 2,94 juta. Makanya, hingga akhir 2007, capaian target Esia direvisi dari 3, 6 juta menjadi 3,7 pelanggan. Saat ini, ujar Erik, Bakrie Telecom, adalah satu-satunya operator yang berhasil menurunkan tarif. Tarif handset dan tarif jasa telekomunikasi.

Selain menggandeng Huawei, Esia juga bekerja sama dengan LG dan Nokia untuk produk paketan yang harganya lebih tinggi, Bonus yang diberikan juga beragam, mulai dari enam bulan gratis menelepon hingga gratis 2.000 SMS.

tarif

SAMA-SAMA UNTUNG

Bundel awalnya dipakai oleh operator GSM untuk program pascabayar. Tujuannya untuk mengikat komitmen  pelanggan selama satu atau dua tahun ke depan. Operator memberi subsidi di depan dan berharap meraih untung belakangan. Dalam perkembangan waktu, sistem bundel dengan low-cost handset ini merambah ke CDMA dan menyasar pelanggan prabayar.

Nah, seolah tidak mau kalah dengan paket murah Esia-Huawei, PT Mobile-8 Telecom lalu memperbarui paket bundelnya. Awal September silam, Mobile-8 (Fren) menjalin kerja sama dengan PT ZTE Indonesia. Produk dari hasil kerja sama ini adalah handset ZTE C300 dengan bonus pulsa Rp. 800 ribu. Paket ini dijual dengan harga Rp. 388 ribu.

Tak cuma itu. Dua minggu lalu, Fren gantian menggandeng Nexian  untuk meluncurkan NX-970 dengan harga Rp. 588 ribu dengan bonus sama, yakni pulsa gratis senilai Rp. 800 ribu. Sebenarnya, Fren telah memiliki Frensip  dengan harga Rp. 388 ribu yang diluncurkan tahun 2004.

Greeny Dewayanti, Head of Product & Segment Mobile-8, menuturkan, paket hasil perkawinannya dengan ZTE itu dijual melalui gerai Fren dan toko umum. Di gerai Fren disediakan stok 20 % dan sisanya di toko umum. “Harganya sama, tetap Rp. 388 ribu,” tuturnya.

Greeny menambahkan, harga itu adalah harga jual handset ZTE kepada Fren. Operator ini tak mengambil keuntungan dari penjualan handset ZTE ini. “Sebab bisnis bukan di handset, melainkan di jasa layanan telekomunikasi,” ucap Greeny.

Stok Handset ZTE murah itu sendiri disediakan sebanyak 500 ribu unit. Rencananya, awal Desember nanti handset ini bisa untuk mengaktifkan produk terbaru Mobile-8: Breu (akses data dengan program aplikasi java). Aplikasi ini digunakan untuk mengunduh lagu, mengirim e-mail, dan sebagainya.

Hingga September lalu, jumlah pelanggan Fren mencapai 2,54 juta. Dengan program-program bundel tersebut, Fren berharap pelanggannya meningkat dua kali lipat. “Kami targetkan bisa sampai empat juta pelanggan,” kata Greeny.

Menariknya lagi, paket bundel tersebut tak hanya menguntungkan operator seluler saja. Produsen handset kelas low end juga demikian. Pabrikan asal Cina apalagi. Bagi mereka, cara ini sangat jitu untuk menembus pasar Indonesia. Bila mereka langsung membanjiri pasar di Indonesia dengan cara konvensional, maka mereka akan bersaing dengan merek-merek besar dari Eropa, Korea, atau Amerika.

Padahal, pasar Indonesia belum akrab dengan nama-nama mereka. Sudah begitu, produk Cina selalu dianggap sebelah mata. Makanya pabrikan Cina giat menjajaki model kerja sama ini. “Selain dengan Fren, kami juga menggandeng Flexy, Ceria (PT Sampoerna  Telekomunikasi), dan Sinarmas Telecom,” ujar Stephen Qu, Direktur Marketing PT Zte Indonesia.

Lalu, kenapa produk itu bisa dijual murah? Menurut Qu, pabrikan di Cina biasa memproduksi handset dalam jumlah banyak – dengan model yang terbatas, kebanyakan low end. ZTE sendiri telah melempar 20 juta unit handset ke pasar dunia.

Mereka juga tak mencari banyak untung saat menjual produknya ke operator telekomunikasi. “Ini berbeda kalau dijual lewat distributor. Harganya pasti mahal. Sebab, mereka akan mencari margin,” ujar Qu.

Ah, jadi sama-sama untung dong. Sudah begitu, pelanggan juga bisa tersenyum karena harga murah itu tadi. Yang jelas, operator dan produsen handset harus jujur akan kelemahan produknya. Sularsi, aktivis Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, menegaskan soal itu. “Informasinya harus jelas,” kata dia.

Betul itu. Ada rupa, ada harga, kan?.

(Dikutip dari majalah TRUST, No. 04 Tahun VI, 19-25 November 2007)

Iklan

Mei 1, 2009 - Posted by | Esia | ,

2 Komentar »

  1. now I’ll stay tuned..

    Komentar oleh annendtob | Mei 7, 2009

  2. Bagi yang ingin isi nada ponsel Huawei CDMA (esia), coba lihat situs KabelVista. Kabel ini sudah terkenal dikalangan pengisi nada untuk mengisi nada dan gambar ponsel Huawei CDMA.

    alamat:
    http://www.kabelvista.blogspot.com

    Komentar oleh Pengguna | Agustus 19, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: