*~aGusJohn’s Blog~*

Mengalir Bagaikan Air

Geliat Telepon Tanpa Kabel Bersaing di Pasar CDMA

  • Jumlah pengguna FWA (Fixed Wireless Access)/telepon tetap nirkabel) terus meningkat pesat. Inikah pertanda bahwa masyarakat mulai menyadari alat komunikasi terbaik untuk kebutuhan dirinya?

Oleh: Nala Dipa Alamsyah

Persaingan antara teknologi code division multiple access (CDMA) milik FWA dengan global system for mobile communications (GSM) di ranah seluler makin memanas. Kendati, CDMA memang masih dibayang-bayangi GSM yang saat ini sudah dipakai lebih dari satu milyar penduduk dunia. Namun faktanya, manuver CDMA memang terus menggila. Tengok saja catatan mutakhir dari CDMA Development Group (CDG) yang menunjukkan bahwa pengguna CDMA di dunia selama kuartal II 2007 mencapai 377 juta orang atau tumbuh sebesar 42% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan CDG memperkirakan sampai tahun 2010 nanti, akan ada 41% pengguna telepon tanpa kabel di seluruh dunia yang memakai teknologi CDMA.

Lalu, bagaimana gambaran di Indonesia? Karena GSM lebih dulu dikenal, tak ayal lagi  pengguna GSM masih berada di volume terbesar. Sejauh ini, sudah mencapai 70 juta lebih pelanggan. Bandingkan dengan empat tahun lalu, yang hanya menembus angka 14,5 juta pelanggan.

Namun, di tengah terjangan GSM, penetrasi CDMA juga tidak kalah sigap. Di usianya yang dini, justru teknologi ini mendapat respons mamukau dari masyarakat. Buktinya, sejak pertama kali dipelopori PT Telkom dengan meluncurkan Flexi semester pertama tahun 2003 lalu, total pelanggan CDMA saat ini saja hampir mencapai 13 juta pelanggan. Angka itu disumbangkan para pelanggan Flexi (6juta), Fren dari Mobile-8 (2,5 juta), Esia dari Bakrie Telecom (3,7 juta), StarOne dari Indosat (600ribu) dan ‘si bungsu’ Ceria milik PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (275 ribu).

Sebenarnya, angka itu masih bisa merangkak lagi pada periode ini. Bila dua operator CDMA (Flexi dan StarOne) tidak direpotkan kebijakan penertiban migrasi frekuensi dari 1900 MHz ke 800 MHz dalam dua tahun terakhir. Syahdan, kebijakan ini cukup menguras energi dua operator tersebut. PT Telkom sendiri saja sudah menghabiskan dana miliaran rupiah untuk biaya kompensasi dan tetek bengek lainnya. Sementara, Indosat jadi emoh-emohan melakukan penetrasi pasar lantaran tarik ulur migrasi tersebut. Alhasil, dari kemampuan kapasitas jaringan CDMA Indosat yang masih bisa lempeng sampai 2,5 juta pengguna, hanya dipakai tak lebih dari 25%-nya.

Kalau bicara angka tampaknya takkan pernah selesai. Pasalnya, sudah menjadi kepastian volume itu akan terus bertambah. Apalagi, jumlah pengguna seluler di tanah air belum sebanding dengan jumlah penduduk. Menurut hasil riset Reuters mengungkapkan bahwa potensi pengguna telepon seluler di Indonesia setidaknya masih ada 100 juta orang lagi. Itupun dengan hitungan-hitungan superminim dan sederhana. Beda cerita bila perekonomian makin membaik di masa datang. Apalagi CDMA menawarkan fitur cukup andal dibarengi tarif yang lebih reasonable untuk fokus target pasarnya, yakni kalangan menengah ke bawah yang awam akses telekomunikasi masih membeludak di Indonesia.

Naik di Atas 30 persen

Maka tak heran bila para operator CDMA benar-benar serius menggarap pasar basah ini. Semua operator tak sungkan-sungkan menggelontorkan dana raksasa demi memperbaiki sistem dan merangkul pasar.

Pemilik Fren, PT Mobile-8 Telecom bahkan melakukan pengumpulan dana publik melalui penawaran saham beberapa bulan lalu. Kabarnya, lebih dari setengah hasil jualan saham tersebut akan didistribusikan untuk pengembangan jaringan dan infrastruktur di hampir semua pulau Indonesia. Alhasil, catatan semester pertama tahun ini, pelanggan Fren naik 73,1 % dengan membukukan laba  bersih sebesar Rp. 44,4 miliar.

Hal serupa juga dikerjakan Telkom. Bila setahun lalu Flexi masih meng-cover 235 kota, kini sudah menjelajah sampai 265 kota. Maka tak heran jumlah pelanggannya pun melejit 70% dibanding tahun lalu yang hanya sebanyak 4 juta pelanggan. Hal itu tentunya sejalan dengan program pengembangan Telkom dengan mendirikan BTS-BTS di kawasan timur Indonesia. Fakta ini sekaligus mengindikasikan Flexi bakal dijadikan penghasil pendapatan Telkom. Sebab, tampaknya Telkom menyadari bahwa tak bisa sepenuhnya bertumpu pada PSTN semata.

Nilai lebih CDMA juga menjangkiti Esia. Produk CDMA keluaran Bakrie Telecom ini, juga cukup agresif. Maka tak heran, jumlah pelanggannya pun kerap direvisi manajemen karena cepat meningkat. Buktinya, data akhir September tahun lalu tercatat jumlah pelanggan baru mencapai 1,3 juta. Padahal tahun sebelumnya hanya di kisaran 487 ribu pelanggan. Sementara per November 2007 ini, malah sudah menembus angka 3,7 juta pelanggan. “Kami cukup terkejut dengan respons pasar. Padahal promosi kami tidak begitu jorjoran,” ungkap Wakil Direktur Utama PT. Bakrie Telecom Tbk Erik Meijer merendah. Untuk soal dana, Bakrie Telecom juga telah berkomitmen untuk menyediakan dana segar sebesar Rp. 1 triliun untuk mendukung pengembangan Esia.

Meski jalan perlahan, StarOne juga sama beruntungnya. Direktur Pemasaran PT Indosat, Guntur S. Siboro cukup puas dengan total pelanggan tahun ini yang telah mencapai 600 ribu lebih. Padahal periode sebelumnya StarOne hanya dimanfaatkan sekitar 434 ribu pelanggan dengan volume terbesar di tempat peluncuran perdana produk ini yakni Surabaya dan sekitarnya yang mencapai 40% lebih dari total pelanggan tersebut. “Jumlah pelanggan meningkat seiring perluasan jaringan sampai ke 24 kota,” tutur dia. Ke depan, Indosat mematok target lingkup jaringan sebanyak 40 kota.

Sementara pendatang termuda Ceria dari PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia juga tak mau kalah. Meski beroperasi di spektrum frekuensi 450 MHz yang sekaligus menjadi satu-satunya pemain di jaringan ini, Ceria menggandeng berbagai perusahaan sebagai mitra kerja. Sebut saja perusahaan jaringan dari Tiongkok, Huawei Technologies dan Qualcomm dari Amerika, guna membangun jaringan CDMA 450 EV-DO di Pacitan, Jawa Timur. Sampoerna juga merangkul Axesstel Inc, IndoNet, Departemen Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Negara.Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal untuk mendirikan program “Wireless Reach Qualcomm” di Way Kanan, Lampung. Dengan kemampuan telepon gerak nirkabel yang tidak bisa mobile ini, Ceria sudah menarik peminat sebanyak 275 ribu lebih pelanggan. Bahkan targetnya dipatok sampai 750 ribu pelanggan.

Rangkul Vendor

Di luar itu, fenomena menggandeng mitra memang menjadi salah satu strategi perluasan penetrasi operator CDMA. Bahkan para operator menunjukkan sikap terbuka manyambut para tamunya tersebut. Hal tersebut juga diakui oleh Erik. Dia mengatakan bahwa untuk menciptakan peluang pasar yang lebih luas, para operator akan lebih ringan bila menggandeng mitra kerja lain. Bahkan secara gamblang dia menegaskan bahwa operatornya, Esia, memang sangat membuka pintu untuk kerja sama dengan para mitra, khususnya vendor ponsel. “Sejauh kerja sama memberikan kontribusi bagi penetrasi layanan CDMA, kami sangat welcome,” tutur dia.

Fakta dari statemen Erik tadi dapat dilihat dari banyaknya program bundling yang dilansir para operator. Bahkan kehadiran mitra strategis ini mampu mendongkrak penetrasi pasar yang cukup signifikan. Seperti yang terjadi pada Mobile-8 yang menggandeng perusahaan handset asal Negeri Gingseng, Samsung, untuk program bundling “Frenship” tahun 2005. Alhasil, tak cuma volume pelanggan Mobile-8 yang membengkak. Pihak Samsung pun tersenyum karena pangsa pasarnya juga meningkat sekitar 13%.

Terkini, tepatnya September lalu, Esia meluncurkan bundling bertajuk “Double Untung” dengan menggaet vendor asal RRT, Huawei. Produk yang terdiri ponsel plus kartu perdana Esia dibanderol dengan harga bikin geleng-geleng kepala, Rp. 199 ribu (belum termasuk pajak), plus ‘pemanis’ lain berupa bonus talktime 1.000 menit sesama Esia. Tak pelak, “Double Untung” menjadi paket ponsel termurah yang pernah ada di Indonesia. Tentunya, bila hanya menilai dari faktor nominal harga jual, belum termasuk daya tahan produk.

Alhasil, paket ponsel ini pun laris manis bak kacang goreng. Stok produksi pertama ponsel sebanyak 500 ribu unit yang dilansir Esia, kata Erik, sudah habis terserap. Kabarnya, untuk meraih pasar yang lebih besar, Esia sudah merencanakan untuk memproduksi paket ponsel tahap dua.

Hasil sama-sama senang ini pun berbuah antusias para vendor ponsel. Akhirnya, tahun lalu, hamper semua vendor besar melakukan bundling dengan operator CDMA. Khususnya Nokia dan Samsung, selain vendor-vendor asal RRT, yang saat ini makin rajin produksi ponsel CDMA.

Penetrasi Secara Sporadis

Namun kekuatan penetrasi CDMA tak cuma bertumpu pada dua sendi utama, produk dan harga jual. Tapi juga kejelian operator mengincar segmen dan lingkup pasar. Selama ini, para operator memang lebih banyak mengandalkan penyerapan dari wilayah Jabodetabek. Esia dan Fren adalah dua pemain yang berharap banyak dari gugus megapolitan ini. Termasuk Flexi milik Telkom. Barulah, dua tahun terakhir, secara penetrasi secara sporadis ke daerah-daerah di luar wilayah tersebut.

Namun tidak sedikit juga yang memutuskan untuk memulai dari daerah terpencil atau perdesaan. StarOne, misalnya, yang mengawali gerakannya dengan merangkul pasar Surabaya dan sekitarnya. Ceria pun demikian, yang memulai dari Lampung dan Pacitan, Jawa Timur.

Menanggapi fenomena ini, Heru Sutadi dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia hanya bisa tersenyum. Dia menganggap lumrah para operator CDMA seperti balap-balapan memperluas jangkauan pasar. Pasalnya, dalam perkiraannya, pasar CDMA akan tetap tumbuh dari tahun ke tahun. “Pasar ini akan terus berkembang. Sekitar 11-13% per tahun,” tutur dia. Di sisi lain, Heru juga menambahkan bahwa dalam lima tahun kedepan, belum menjamin kalau CDMA akan memasuki titik jenuh. Artinya, peluang pasar masih ada atau malah akan terbentuk seiring laju perbaikan ekonomi nasional.

Imbas maraknya persaingan antar operator CDMA yang silih berganti membombardir pasar dari sisi harga dan teknologi, justru menguntungkan para calon konsumen. Sebab, masyarakat akan semakin memiliki alternatif pilihan alat komunikasi yang sesuai kebutuhan dan kemampuannya .

Abaikan Jaringan

Besarnya ceruk pasar yang tersedia di negeri ini membuat operator berlomba manjaring masyarakat sebanyak mungkin. Namun sayangnya, kemampuan kecepatan menjaring masyarakat tidak diimbangi dengan ketersediaan layanan dan jaringan yang memadai. Banyak fakta menunjukkan, pemakai telepon CDMA yang kecewa atas produk yang dilansir.

Sebut saja, seorang yang tinggal di Bekasi, sangat merasa kecewa dengan layanan Fren yang ditawarkan. Pada awalnya memang jaringan yang disediakan cukup memadai dan sinyal yang ditangkap cukup kuat, sehingga tidak ada kendala dalam berkomunikasi.

Namun belakangan, seiring ekspansipnya operator ini, layanan yang diberikan kian menurun, bahkan tidak memuaskan. Sebagai fakta untuk daerah di Bekasi, sebagian besar jaringan Fren tidak maksimal. Bahkan, untuk perumahan yang tinggal di tepi jalan tol yang tentunya sangat mudah diakses jaringan, tidak ada sinyal sama sekali. “Semua yang menghubungi HP saya yang menggunakan Fren, ketika saya berada di rumah menyatakan, tidak bisa dihubungi,” papar Ali salah seorang pengguna Fren. “Masa semua orang menyatakan sulit hubungi saya,” tambah Ali.

Mungkin ketidaknyamanan ini juga dirasa pengguna Flexi maupun Esia. Yeni pengguna Flexi di kawasan Bekasi juga merasakan hal yang sama. Menurut dia, terkadang ada gangguan suara dalam penerimaan.

Kenyataan ini seharusnya dapat mengusik Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia sebagai salah satu lembaga otoritas yang mengatur bisnis operator. Boleh saja, para operator bersaing dan memberikan layanan kemudahan memperoleh telepon, namun, yang terpenting layanan dan kualitas yang harus diberikan kepada masyarakat harus terjamin.

Tujuh Alasan Memilih CDMA

Kesederhanaan teknologi CDMA dibanding GSM juga berimbas pada aspek operasional efisiens. Alhasil, tarif sambungannya pun lebih ekonomis dibanding GSM. Di sisi lain, teknologi gelombang yang berada di 800 MHz (Indonesia) ini, juga tidak kalah mutakhir.

Berikut beberapa alasan memilih teknologi komunikasi ini:

1. Layanan CDMA menawarkan tarif lokal.
Bagi kalangan bisnis yang mengandalkan komunikasi lokal dalam menjalankan usahanya, penggunaan layanan ini tentulah sangat efisien. Apalagi bagi pengusaha ekspor-impor yang memerlukan layanan SLI. Sejumlah operator CDMA bahkan sangat efisien dibanding layanan SLI tradisional.

2. Bukan halangan bila dibawa ke luar kota.

Sebab sebagian besar operator telah memiliki kemampuan mobile non local area.  Semisal, “Combo”dari Flexi yang bisa digunakan di 200 kota, “Gogo” dari Esia ataupun layanan CDMA yang berlisensi seluler seperti “Fren” milik Mobile-8.

3. Kualitas persis kemampuan telepon tetap yang bisa dibawa bergerak.

Teknologi CDMA memungkinkan suara percakapan di handset lebih jernih dan jelas.

4. Daya pancar CDMA lebih kuat sehingga telepon seluler CDMA yang lemah pun tetap akan menangkap sinyal penuh.

5.   Bisa dihubungi langsung dari telepon tetap karena bernomor lokal.

Seperti diketahui, untuk penghematan biaya telepon, tak jarang rumah atau kantor membatasi/menutup akses ke nomor interlokal dan handphone. Penggunaan CDMA tentu dapat menghindari hambatan aktivitas, informasi ataupun saat terjadi keadaan mendesak yang memerlukan komunikasi.

6. Kemampuan transfer data jauh lebih cepat dibanding GSM/GPRS.

Itulah sebabnya internet via akses CDMA memiliki akses lebih cepat.

7. Alternatif menarik sebagai pengganti nomor telepon tetap yang semakin terbatas ketersediaannya.

Handset-nya pun bisa menggunakan terminal telepon tetap.

(Dikutip dari: Saturday Focus News, Investor Daily, Sabtu/Minggu 17-18 November 2007)

Iklan

Mei 1, 2009 - Posted by | Esia | , ,

2 Komentar »

  1. tolong pak aku ingin pesan telepon satelit soalnya ditempat aku kerja nggak ada jaringan

    Komentar oleh sony | Juni 21, 2009

  2. kerja di daerah mana, mas??

    Komentar oleh agusjohn | Juni 22, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: